Harapan Kecil untuk Kotaku, Bebas Gizi Buruk

0
761
Muhammad Aqshadigrama

Oleh: Muhammad Aqshadigrama*

KEBERHASILAN suatu bangsa bukan dilihat dari seberapa banyaknya kekayaan alam yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Suatu bangsa dapat menjadi berhasil dinilai dari pembangunan yang dilakukan oleh bangsa itu sendiri. Dalam rangka mendorong pembangunan pada suatu negara tentunya dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu manusia yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, dan tentunya cerdas.

Salah satu faktor utama terbentuknya SDM yang berkualitas adalah melalui pemenuhan gizi. Pemberian gizi yang baik kepada anak-anak akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, oleh sebab itulah gizi dapat diibaratkan juga sebagai investasi masa depan bangsa. Perlu diketahui bahwa, dalam pelaksanaan pemenuhan gizi kepada anak-anak Indonesia belum sepenuhnya merata, banyak anak-anak saat ini kehilangan haknya dalam memperoleh gizi, yaitu hak tumbuh dan berkembang, sehingga hal inilah yang menyebabkan timbulnya permasalahan gizi yang sampai saat ini tak kunjung berkesudahan.

Berbagai macam informasi yang masuk, membuat masyarakat saat ini luput dan lupa mengenai permasalahan gizi. Permasalahan yang ‘mungkin’ dianggap masalah kecil dan sepele dibandingkan dengan masalah politik, ekonomi, dan lain sebagainya, membuat permasalahan gizi tidak segera ditanggulangi yang nantinya akan berakibat timbulnya masalah yang besar, dan akan berkaitan dengan kesejahteraan bangsa Indonesia itu sendiri. Kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian serta rendahnya angka kehidupan bagi ibu, balita, dan bayi. Selain itu, dampak kekurangan gizi juga dapat terlihat dari kurangnya partisipasi anak dalam belajar, rendahnya pendidikan, lambatnya pertumbuhan ekonomi. (RANPG 2006-2010)

Permasalahan tidak hanya kekurangan gizi saja, kelebihan gizi juga menjadi masalah yang harus ditangani dengan serius. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan prevalensi balita dengan gizi kurang/beratnya terlalu rendah (underweight) menjadi 15% dan prevalensi balita pendek (stunting) menjadi 32% pada tahun 2014. Hasil Riskesdas dari tahun 2007 ke tahun 2013 menunjukkan fakta yang memprihatinkan kita semua bahwa penyakit underweight meningkat dari 18,4% menjadi 19,6%, untuk stunting juga meningkat dari 36,8% menjadi 37,2%, sedangkan wasting (kurus) menurun dari 13,6% menjadi 12,1%. (Riskesdas, 2013)

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Risekesdas), Kementerian Kesehatan RI. Salah satu masalah gizi dengan kejadian prevalensi tertinggi adalah stunting. Penyakit ini terjadi karena kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kemiskinan dan pola asuh tidak tepat, sehingga mengakibatkan kemampuan kognitif tidak berkembang dengan maksimal, mudah sakit dan berdaya saing rendah, sehingga dapat terjebak dalam kemiskinan. Sangat diperlukan adanya penanganan yang tepat untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Dalam membantu menyelesaikan permasalahan gizi yang tak kunjung berkahir ini, tentunya dibutuhkan kerjasama antara pihak-pihak yang terkait, dana yang tersedia, program-program kesehatan, dan kebijakan pemerintah. Melalui esai ini, penulis juga ingin berkontribusi dalam membantu menyelesaikan permasalahan gizi pada anak-anak dengan menuangkan ide-ide atau gagasan penulis ke dalam sebuah tulisan.

Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas sumber daya manusia. Gizi buruk tidak hanya meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian tetapi juga menurunkan produktifitas, menghambat pertumbuhan sel-sel otak yang mengakibatkan kebodohan dan keterbelakangan. Berbagai masalah yang timbul akibat gizi buruk antara lain tingginya angka kelahiran bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yang disebabkan oleh ibu hamil yang menderita KEP (Kekurangan Energi Protein) sehingga akan berpengaruh pada gangguan fisik, mental dan kecerdasan anak, juga meningkatkan resiko yang sangat besar bagi bayi yang dilahirkan akan kekurangan zat besi. Bayi yang kurang zat besi dapat berdampak pada gangguan pertumbuhan sel-sel otak, yang dikemudian hari dapat mengurangi IQ anak. (Krisnansari, 2010)

Terjadinya gizi buruk diakibatkan oleh faktor langsung dan tak langsung. Faktor langsung yang menjadi penyebab gizi kurang pada anak balita yaitu faktor konsumsi makanan dan penyakit infeksi. Dua faktor tersebut saling berkaitan sebab makanan yang cukup dan seimbang dapat membantu daya tahan tubuh sehingga akan jarang terserang infeksi. Jika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan yang cukup sehingga mudah terserang infeksi, akibatnya tubuh tidak dapat menyerap asupan gizi dengan baik, apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama dapat berakibat pada gizi buruk.

Sedangkan faktor tidak langsung yang memengaruhi status gizi seseorang diantaranya yaitu kurangnya pengetahuan, rendahnya pendidikan, tidak meratanya tenaga profesi kesehatan, kurangnya program-program gizi yang dilakukan, kurangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat.

Seperti yang penulis telah uraikan sebelumnya, untuk membantu menyelesaikan permasalahan gizi tentunya dibutuhkan kerjasama antar berbagai pihak tidak hanya dari pihak kesehatan melainkan juga pihak lainnya seperti ekonomi, pertanian, pendidikan dan lain sebagainya. Berikut adalah ide gagasan yang dituangkan penulis dalam rangka membantu menyelesaikan masalah gizi di Indonesia:

  1. Memaksimalkan Penyebaran Tenaga Gizi di Tiap-Tiap Daerah

Salah satu tenaga kesehatan yang harus ditingkatkan kualitas dan penyebaranya adalah tenaga gizi. Mengapa tenaga gizi? Sebab profesi kesehatan inilah, yang berkaitan langsung dengan masalah gizi yang ada di daerah maupun di desa. Tenaga gizi membantu melakukan kegiatan intervensi gizi di suatu desa dalam memberikan makanan formula untuk anak-anak yang mengalami gizi buruk, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang gizi seimbang serta pola asuh yang tepat untuk balita. Banyak kejadian yang telah terjadi di desa akhir-akhir ini, sering ditemukan bahwa yang melakukan kegiatan edukasi gizi bukan dilakukan oleh ahli gizi melainkan oleh bidan, hal ini diwaspadai dapat menyebabkan informasi tentang kesehatan gizi yang tidak lengkap, berbeda dengan tenaga gizi yang memang paham dan mengerti betul tentang masalah gizi. Tenaga gizi juga harus ditempatkan di setiap desa sebagai pelaksana gizi di desa tersebut, yang akan memberikan pengarahan kepada kader posyandu tentang cara penggunaan antropometri yang sesuai. Pemberian edukasi kepada masyarakat ini harus dilakukan secara berkala agar masyarakat mulai memahami dan peduli akan gizi keluarga.

  1. Lakukan Kegiatan Inovasi Produk

Masyarakat di desa seringkali tidak memerhatikan potensi sumber daya alam yang ada didesanya, lebih memilih untuk menjual bahan makanan tersebut daripada dikonsumsi, hal ini dapat disebabkan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah pada masyarakat di desa. Bahan makanan hewani yaitu ikan yang mereka biarkan dikolam tanpa dimakan akibat adanya budaya setempat untuk melarang mengonsumsi makanan tersebut. Oleh karena itu perlu adanya edukasi tentan produk-produk makanan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang ada didesa tersebut. Pemerintah desa sebaiknya melakukan kegiatan ini menjadi aktivitas rutin dalam jangka waktu setiap bulan sehingga masyarakat termotivasi untuk melakukan perubahan.

  1. Pendidikan Gizi Sebagai Muatan Lokal

Anak merupakan aset terpenting bangsa sebagai generasi penerus bangsa, maka anak-anak harus menjadi generasi yang berkualitas dan berakhlak mulia, oleh sebab itu, pemahaman tentang gizi seimbang dan kesehatan, sebaiknya pendidikan gizi sejak anak-anak di sekolah melalui pendidikan tambahan yaitu pendidikan gizi sebagai muatan lokal dalam pembelajaran sehari-hari. Hal ini dilakukan dengan harapan anak-anak akan mulai mengerti akan gizi yang baik untuk tubuhnya sehingga ketika mereka dewasa akan lebih cerdas dan selektif dalam memilih dan mengkonsumsi makanan.

  1. Menghentikan Pernikahan di Bawah Umur

Dengan adanya UU yang mengatur adanya larangan dan sanksi bagi pasangan yang menikah dibawah umur dapat membuat efek jera bagi masyarakat untuk tidak menikah dibawah umur, namun dengan catatan konsekuensi yang diberikan haruslah tegas. Pernikahan dibawah umur dapat mengakibatkan calon ibu kurang memiliki pengetahuan yang cukup terhadap pola asuh dan penanganan masalah kesehatan yang tepat untuk anak, selain itu calon ibu yang menikah dibawah umur keadaan gizinya kurang dipersiapkan sehingga memungkinkan terkena kekurangan energi kronis (KEK) yang dapat berakibat pada berat badan lahir rendah (BBLR).

  1. Keluarga Berencana

Setiap pasangan yang akan menikah dan membangun sebuah keluarga harus direncanakan secara matang sesuaikan dengan perekonomian keluarga. Jangan sampai melahirkan anak yang banyak tanpa diimbangi dengan adanya kondisi ekonomi yang stabil, hal itu dapat membuat anak kekurangan asupan gizi karena daya beli keluarga yang rendah serta tidak fokusnya orang tua mengurus anak sehingga mengakibatkan anak kurang terurus dan mengalami kekurangan gizi.

  1. Diversivikasi Pangan Lokal

Beberapa tahun ini, Indonesia selalu melakukan impor beras dari luar negeri diakibatkan oleh tingginya permintaan beras oleh masyarakat Indonesia yang tidak diimbangi dengan kemampuan Indonesia dalam produksi beras. Tingginya permintaan masyarakat akan beras karena ketergantungan masyarakat dan tidak biasanya masyarakat mengonsumsi makanan pokok lain selain beras. Oleh karena itu perlu digagas oleh setiap desa untuk berhenti sejenak satu hari untuk tidak mengonsumsi beras setiap satu minggu. Kegiatan ini baik dilakukan agar permintaan akan beras secara berangsur-angsur akan turun dan masyarakat mulai membiasakan untuk mengonsumsi bahan makanan selain beras diantaranya singkong, ubi, gembili, ganyong yang merupakan bahan makanan yang mudah ditemui. Kandungan gizi dari berbagai produk pangan selain beras juga tidak kalah sehat dan baik. Hal ini juga akan berdampak bagi beberapa kalangan masyarakat yang ekonominya rendah, dengan program itu masyarakat yang ekonominya rendah tetap dapat mencukupi kebutuhan gizi keluarganya.

Dalam membantu menyelesaikan permasalahan gizi tentunya dibutuhkan
kerjasama antar pihak tidak hanya dari bidang kesehatan melainkan juga bidang lainnya seperti ekonomi, pertanian, pendidikan, dan bidang-bidang yang terkait. Ide gagasan yang dituangkan oleh penulis diantaranya Memaksimalkan Penyebaran Tenaga Gizi di tiap-tiap Daerah, Lakukan kegiatan inovasi produk, Pendidikan Gizi Sebagai Muatan Lokal, Stop Pernikahan di bawah Umur, Keluarga Berencana, serta Diversivikasi Pangan Lokal. Penyelesaian masalah gizi tentunya membutuhkan waktu yang tidak sedikit sehingga diperlukan adanya kesabaran, kerjasama dari setiap lapisan masyarakat untuk mengatasi masalah gizi di Indonesia sampai pada saat Indonesia sehat tanpa gizi buruk.(*)

 

Daftar Pustaka

http://www.bappenas.go.id/ . Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010  (RANPG 2006-2010) diakses tanggal 19 Januari 2017.

www. Depkes.go.id. Data Riskesdas 2013 diakses tanggal 19 Januari 2017 .

Krinansari, Diah. 2010. Nutrisi dan Gizi Buruk dalam Journal Mandala of Health. Volume 4, Nomor 1, Januari 2010 diakses tanggal 19 Januari 2017

 

*) Penulis adalah Siswa SMAN Model Terpadu Madani Palu, Pemenang III Lomba Esai tingkat SMA Peringatan Gizi Nasional Prodi Kesehatan Masyarakat FKIK Untad

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.