Enam Pengurus Inti Golkar Touna Mengundurkan Diri

0
243
Ilustrasi (@sulsel.pojoksatu.id)

TOUNA – Partai Golkar Kabupaten Tojo Unauna (Touna) mulai ditinggalkan pengurusnya. Tidak tanggung-tanggung, yang menyatakan mundur dari DPD Partai Golkar Touna yaitu pengurus inti.

Sedikitnya enam orang yang memilih mundur. Mereka adalah Moh.Said Badjeber (Wakil Ketua I Bidang Organisasi), Arman Fammy (Wakil Ketua Bidang Komunikasi Media dan Penggalangan Opini), dan Suwitno P Umar (Wakil Ketua Bidang Tani dan Nelayan).

Berikutnya, Zainuddin Kadir Pallu (Bendahara Umum), Ramank Muslaini (Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat), dan Tamsil Toanda (Wakil Bendahara).

Keenam pengurus inti yang mundur tidak secara bersamaan. Ada yang mundur sejak Februari 2017, ada juga bulan Juli dan Agustus ini. Sesuai aturan Partai Golkar, jika ada pengurus DPD tingkat II yang mundur, maka harus menyurat ke DPD tingkat I. Dan mereka berenam, sudah mengirim pengunduran secara tertulis ke DPD Partai Golkar Sulteng.

Lebih detailnya lagi, dari keenam yang mundur, lima di antaranya sudah membuat pernyataan siap bergabung di Partai Gerindra Kabupaten Touna. Kecuali Moh.Said Badjeber yang belum menyatakan sikap bergabung di partai mana, setelah mundur dari Partai Golkar.

Said yang dikonfirmasi Radar Sulteng Rabu (2/8) kemarin, membenarkan bahwa dirinya sudah mundur dari pengurus Golkar Touna. Surat pengunduran dirinya tertanggal 31 Juli 2017.

Alasan dia mundur karena, roda organisasi dan tata kelola partai tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Ini terjadi pasca Musda Golkar akhir 2016 lalu. “Daripada bikin gaduh partai nanti, lebih baik saya pilih mundur. Partai Golkar ini adalah rumah lama saya yang mesti saya tinggalkan karena keadaan itu tadi,”kata Said yang mulai bergabung dengan Golkar Touna sejak 2004 silam.

Mantan anggota DPRD Tojo Unauna ini mengatakan, dirinya sudah pernah berupaya melakukan komunikasi dengan Ketua Golkar Touna yang sekarang, Busnar Sulaiman, sebelum memutuskan mundur. Tapi upaya komunikasi yang dilakukan Said selalu gagal dan tak digubris.

“Sejak enam bulan lalu, saya ingin bertemu dan diskusi. Kenapa partai ini jadi begini sekarang. Tapi pintu komunikasi selalu tertutup,”ujarnya.

Meski telah mundur, namun Said belum menentukan partai politik pelabuhan terbarunya. Dirinya masih sebatas mundur saja dulu. Walau diakuinya, persiapan jelang Pileg 2019 sudah semakin dekat. “Sikap politik saya mundur dulu. Ke depannya, masih meraba-raba dan belum ada sikap mau ke mana,”katanya.

Sampai sekarang Said masih heran dengan kondisi Partai Golkar Touna. Pasalnya, hampir 50 persen jumlah pengurus inti (termasuk enam orang yang mundur) tidak aktif lagi di partai. Begitu pun pengurus lainnya atau bukan pengurus inti, juga sekitar 50 persen tak lagi aktif di partai. “Terjadi stagnasi organisasi. Ini juga sudah pernah dilapor pengurus kecamatan ke DPD tingkat I. Tapi belum ada tindakan konkrit,”ungkap Said.

Berbeda dengan kelima rekannya, yaitu Arman Fammy, Suwitno P Umar, Zainuddin Kadir Pallu, Ramank Muslaini, dan Tamsil Toanda. Mereka ini sudah membuat pernyataan bergabung di Gerindra Touna.

Kelimanya disebut-sebut mengikuti jejak politik Samsurijal Labatjo, mantan ketua DPRD Touna, yang juga memilih mundur dari Partai Golkar Sulteng. Ijal Labatjo-sapaan akrabnya, saat ini telah memilih menjadi kader Partai Gerindra. “Saat peresmian Kantor DPD Partai Gerindra Touna, Rabu (2/8), selain Ijal Labatjo yang hadir, mereka berlima juga ada di sana. Itu menandakan bahwa sikap politik kelima mantan Golkar itu sudah bulat,”kata salah seorang sumber di internal Gerindra Touna. (cam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.