Puluhan Kades dari Bangkep Telantar di Jakarta

0
67
Para kepala desa yang mengikuti Bimtek duduk dan ada yang tidur di lorong bandara Soekanro Hatta, pekan lalu saat hendak pulang ke Bangkep. (Foto: Ist)

BANGKEP – Pengalaman kurang mengenakkan saat pertama kalinya kepala desa di Bangkep mengikuti kegiatan bimbingan dan teknis di Jakarta, pada 28 Juli lalu. Karena tidak dapat tiket pulang, para kepala desa yang tertinggal ini, akhirnya telantar berhari-hari di Jakarta. Mereka akhirnya berhasil pulang ke Bangkep pada 2 Agustus dini hari.

Pengalaman itu dialami 60 kades yang tertinggal. Salah satunya Kepala Desa Sakai, Kecamatan Totikum, Nurdin. Ia ketinggalan pesawat pada Sabtu dikarenakan tidak dapat tiket pesawat pada Jumat malamnya. Saat Sabtu pagi, dia mendapat tiket pulang tujuan Luwuk. Karena di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta, dingin, doa memilih, beristirahat di selasar bandara. Padahal saat itu pesawat sudah tiba dan akan take off. Pemanggilan lewat pengeras suara terdengar kencang sampai tiga kali. Akhirnya pesawat pun berangkat bersama rombongan. dia sendiri tertidur di selasar dan terbangun ketika dibangunkan oleh seseorang keluarga dari Bangkep. Dia pun berangkat Minggu ke Luwuk.

Total 304 kades dan ketua adat mengikuti Bimtek di Bandung. Dari 304 orang, 260 orang pulang sesuai jadwal di hari jumat. 60 orang lainnya tidak mendapat tiket dan akhirnya terlontang-lantung di bandara. Bahkan mereka memilih tidur di sepanjang lorong bandara, dan ada yang duduk-duduk menunggu tiket.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Bangkep, Muchsin Sasia, mengatakan, pihak travel CV Raya yang berkedudukan di Palu yang bertanggungjawab atas musibah tersebut. Sesuai perjanjian, pihaknya melakukan booking tiket pulang-pergi. “Kita sudah booking dan bayar tiketnya untuk PP. Saat berangkat tidak mengalami masalah, tapi saat pulang ada masalah. 60 orang tidak ada tiketnya. Saya pusing karena nomor agennya mati,” jelasnya.

Lantas, karena tidak mendapat kepastian, 60 orang itu akhirnya menginap di hotel terdekat setelah berjam-jam telantar di Bandara. “Esok paginya, ada yang berangkat sebagian dengan menggunakan travel lain,” sebutnya.

Untuk mengikuti Bimtek itu, per orang membayar biaya kontribusi Rp4 juta kepada penyelenggara melalaui Dinas Sosial – PMD Bangkep[, beserta uang transportasi pulang pergi Rp3 juta. Biayayanya dibebankan dana desa.  Politisi DPRD Bangkep Arkam Supu, menyesalkan atas kejadian tersebut. Dia meminta dinas terkait maupun dinas manapun lebih professional dalam memeberangkat peserta dari Bangkep. “Agar kedepan tidak terjadi lagi, harus dijadikan pembelajaran. Itu travelnya jangan dipakai lagi karena tidak professional,” jelasnya. (bar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here