Harga Raskin di Bangkep “Selangit”

0
58
Ilustrasi petugas memeriksa stok beras di gudang Bulog. (Foto: Agus Muhaimin/Jawapos.com)

BANGKEP – Warga Desa Labangun, Kecamatan Buko Selatan, Kabupaten Bangkep, merasa kecewa sekaligus terbebani dengan harga jual beras untuk masyarakat miskin (Raskin) yang dibagikan oleh pemerintah desa setempat. Mengapa tidak,  beras raskin di desa tersebut hanya dapat diperoleh oleh warga miskin dengan harga Rp 3.500/kg. Padahal sesuai dengan ketentuan harga jual raskin telah dipatok di kisaran harga Rp 1.600/kg.

Warga tak mampu berbuat banyak dengan kondisi masalah ini, selain mengeluh dan berharap harga raskin dapat ditekan turun sehingga dapat terjangkau untuk dibeli oleh warga kurang mampu. “Mau bikin bagaimana lagi, kalau harganya sudah begitu kata petugasnya. Harapannya, harga beras murah bisa benar-benar murah. Sekarang ini, hanya untung saja namanya beras murah tapi harganya mahal,” keluh Marson, warga Bulagi pekan lalu (27/8).

Harga yang tinggi, tak jarang membuat warga miskin lebih memilih untuk tidak mengambil jatah beras milik mereka ke petugas. Biasanya raskin yang tidak diambil oleh warga miskin akan dijual kembali oleh oknum petugas pembagian dengan harga yang jauh lebih tinggi.

“Jatah beras yang tidak diambil oleh masyarakat, biasanya akan dijual ke masyarakat lainnya dengan harga Rp 50.000 hingga Rp. 60.000/karungnya dengan takaran 15 kg/karung,” bebernya.

Hingga berita diturunkan belum diperoleh konfirmasi dari pemerintah desa. Sekretaris Desa (Sekdes) Labangun, Gafur, yang mencoba dihubungi via ponselnya tak berhasil tersambung. Nomor ponsel sang sekdes, sedang nonaktif ketika dihubungi.

Di Bangkep, hampir semua desa tak menjual raskin sesuai dengan harga yang ditentukan yakni Rp. 1.600/kg. Kuat dugaan, kenaikkan harga jual raskin dikarenakan tidak disediakannya dana searing/pendampingan oleh pemerintah daerah setempat, yang peruntukannya guna pembiayaan pendistribusian beras hingga sampai ketangan masyarakat penerima.

Tidak tersedianya dana pendampingan untuk pendistribusian raskin, membuat pengelolah raskin di desa mensiatinya dengan menaikkan harga jual beras raskin kepada masyarakat miskin. Meskin tujuannya bisa dimaklumi, namun jumlah kenaikkannya harus dirasionalisasi sehingga tidak membebankan masyarakat miskin penerima raskin.

Sementara Kadis Koperindag kabupaten Bangkep zadrak Sandana mengaku tidak bisa mengintervensi harga beras. Pasarnya harga raskin di Bangkep menyesuaikan biaya distribusi. “Kalau d Buko mahal karena jaraknya jauh dari Salakan. Ini yang perlu dipikirkan,” tambahnya.

Terkait dengan masalah itu, dia akan membawa persoalan itu ke tingkat Forkompimda agar bisa dicari jalan keluarnya. “Pastinya dengan melibatkan semua pihak termasuk legislatif. Apakah nanti perlu diusulkan biaya distribusi dari pemda,” ujarnya. (bar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here