Melihat Keceriaan Alputri Bersaudara, Kembar Siam Asal Garut

0
293
Alputri Anugerah (kiri) dan Alputri Dewi Ningsih di rumah mereka di Garut (22/8). (Foto: Taufiqurrahman/Jawa Pos)

ALPUTRI Anugerah dan Alputri Dewi Ningsih cerdas dan jarang sakit. Selalu penasaran dengan banyak hal. Termasuk mengajukan pertanyaan yang tak pernah bisa dijawab orang tua: Kenapa tubuh mereka tak sama dengan yang lain?

TAUFIQURRAHMAN, Garut


BANYAK hal yang belakangan membuat si kembar, Alputri Anugerah dan Alputri Dewi Ningsih, penasaran. Apa saja mereka tanyakan. Mulai iklan di TV, biskuit yang dijual di supermarket, sampai lomba Agustusan.

Kedua orang tuanya, Iwan Kurniawan dan Yani, atau anggota keluarga yang lain sebisanya menjawab semua pertanyaan mereka. Kecuali satu pertanyaan: Mengapa tubuh mereka berdua tidak sama dengan ayah, ibu, dan kakak laki-laki mereka, Rizky Ramdani?

”Saya mesti bingung euy, kalau mereka tanya itu,” kata Iwan, sang ayah, di rumahnya di Kampung Padasari, Kabupaten Garut, pada Selasa (22/8).

Anugerah, sang kakak, dan Dewi Ningsih, si adik, terlahir pada 28 Oktober 2013 dempet di bagian dada ke bawah. Menyatu seutuhnya. Dengan dua kaki di bawah dan dua badan di atas.

Di antara dua badan itu, ibu mereka, Yani memasangkan popok. Ada sebuah lubang buatan yang berfungsi sebagai jalan buang air.

Anugerah dan Dewi Ningsih punya kepala, paru-paru, dan satu set ginjal masing-masing. Namun, mereka berdua harus berbagi perut dan saluran pencernaan yang sama.

Tapi, keterbatasan itu sama sekali tak pernah menghalangi keceriaan mereka. Saat mampir ke rumah mereka yang masuk wilayah Desa Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, tersebut, keduanya sedang duduk santai di kursi depan rumah ditemani sang ayah.

Ketika sang ayah bangkit dan mempersilakan masuk, keduanya juga spontan bangun. Menuruni kursi dan merangkak ke dalam rumah.

”Ada om, ayo masuk ke dalam om,” seru mereka berdua.

Menurut Yani, keduanya tumbuh sehat. Jarang sakit. Juga tidak pernah mengeluh sakit pada bagian-bagian tubuh mereka. Anugerah dan Dewi Ningsih malah terlihat punya kecerdasan di atas rata-rata.

Sekali dengar, doa-doa bisa dihafal. Sejauh ini, mereka sudah hafal doa makan, tidur, dan surah Al Ikhlas.

Iwan dan Yani saat ini sedang mempersiapkan keduanya untuk menjalani prosedur medis pemotongan kaki ketiga. Di bagian belakang, di atas pantat, ada dua kaki yang tidak tumbuh secara sempurna. Menggantung begitu saja. Satu lagi malah ada di bawah kulit, hanya berbentuk benjolan.

”Rencananya kaki ini mau dipotong, mengganggu,” kata Iwan.

Dokter juga akan membuatkan saluran buang air yang baru. Sedikit di bawah perut.

Dulu keduanya kebanyakan berbaring atau bersandar pada orang dewasa. Kata Yani, sang ibu, belakangan keduanya semakin sering bahu-membahu untuk bangun dan keluyuran di sekitar rumah. Mondar-mandir antara kamar dan ruang tamu. Bahkan memanjat kursi.

”Kadang ngajak main ke tetangga. Nendang bola juga bisa,” ujar Yani.

Anugerah, sang kakak, dan Dewi Ningsih, sang adik, biasanya merangkak untuk berpindah tempat. Dengan dua badan di depan dan dua kaki di belakang. Tak jarang keduanya berselisih.

Ningsih mau ke dapur, Dewi mau ke ruang tamu. Saat itulah mereka biasanya berunding. Bahkan terlibat pertengkaran kecil.

Belum lagi soal makanan, keduanya bisa berebut sengit. Kalau sudah marah, mereka bisa saling menepuk pipi atau malah cakar-cakaran.

”Sering juga berebut pakai baju. Padahal, bajunya sama,” tutur Yani.

Alputri kembar dilahirkan secara spontan di RSUD Kijang, Bintan, Kabupaten Kepulauan Riau. Persiapan persalinan tengah dilakukan saat keduanya keburu mbrojol.

Bahkan, bidan penolong belum juga datang. Yani hanya ditolong beberapa bidan magang yang baru lulus akademi. Selepas persalinan, para bidan magang tersebut diganjar promosi karir.

Si kembar cuma semalam di RSUD Kijang. Lalu, dipindahkan ke RSAL dr Midiyanto, Tanjungpinang. Tiga hari kemudian pindah lagi ke RSUD Awal Bros Batam. Di Awal Bros itulah dokter mengeluarkan vonis terhadap status kembar siam mereka.

Dalam resume medis bertanggal 17 November 2013 itu, disebutkan bahwa operasi pemisahan tidak mungkin dilakukan. Kalau keduanya berpisah, kemungkinan sakit (morbiditas) sangat tinggi, rawan terjadi vaskularisasi pembuluh darah yang dapat mengganggu jaringan otak.

Fungsi tubuh keduanya juga saling terhubung. Kalau dipisahkan, kesempatan hidup sangat rendah.

Yani lantas dipindahkan ke RSCM Jakarta. Di sana si kembar menerima support medis, perawatan intensif, vitamin, dan susu. Pada 2013 dokter juga membuatkan satu lubang saluran buang air kedua di dekat perut.

Selama ini mereka berdua buang air melalui lubang kemaluan. ”Tapi, kalau sekarang mau makan banyak juga tidak khawatir, salurannya sudah ada,” tutur Yani.

Si kembar dibawa pulang kedua orang tua ke Garut dalam keadaan sehat. Mereka pindah ke Tasikmalaya pada 2016, lalu kembali ke Garut pada awal 2017. Sang ayah bekerja apa saja untuk menghidupi mereka.

Sejak tiba di Garut, tak ada bantuan signifikan. Biaya medis memang sedikit lebih ringan karena Iwan masih terdaftar di BPJS Kesehatan kategori penerima bantuan iuran (PBI).

Hanya ada bantuan dari puskesmas dan Karang Taruna sebesar Rp 300 ribu per bulan. Itu pun kini sudah berhenti. ”Jebol biaya popoknya. Satu pak besar tidak sampai seminggu,” tutur Yani.

Tapi, dengan semua kekurangan itu, Alputri bersaudara tetap cerewet dan tak pernah minder. Mereka suka keramaian. Termasuk saat diajak kontrol pertama ke RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada Selasa pekan lalu (15/8).

Bukannya takut pada jarum suntik, mereka malah menyodorkan tangannya kepada paramedis untuk pengambilan darah.

”Besok di sini ditodos (disuntik, Red),” kata Anugerah sambil menunjukkan lengannya.

Kasubbaghumas dan Protokoler RSHS Bandung dr Nurul Wulandhani mengungkapkan, penanganan terhadap kasus kembar siam Alputri masih dalam tahap yang sangat awal. Tim dokter dari berbagai disiplin ilmu masih melakukan serangkaian pemeriksaan untuk menentukan prosedur medis yang akan diambil buat si kembar.

Dalam kasus tersebut, Wulan menyebut pihak RSHS melibatkan beberapa dokter anak, dokter bedah anak, dan dokter spesialis dari ortopedi. ”Setelah pemeriksaan, barulah nanti ada tim dokter yang ditunjuk,” katanya.

Anugerah dan Dewi Ningsih tentu belum paham apa tindakan medis kepada mereka berikutnya. Yang pasti, hari-hari keduanya tak pernah lepas dari keriangan. Apalagi kalau sudah melihat kamera. Mereka senang sekali difoto. Misalnya, ketika hendak dipotret Jawa Pos.

”Ayo Kak, ayo piiss,” kata Dewi Ningsih sambil menunjukkan dua jari ke kamera.  (*/c10/ttg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.