Home / BERITA PILIHAN / Obat Temuan Warga Terbukti Mengandung PCC

Obat Temuan Warga Terbukti Mengandung PCC

Petugas uji laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Palu memperlihatkan tablet PCC yang sudah dalam masa pengujian, Selasa (26/9). Tablet PCC yang sebelumnya berjumlah tujuh putir tersebut tersisa tiga, empat butir lainnya sudah dilarutkan untuk sampel pengujian. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Setelah ditemukan salah seorang warga di Jalan Sungai Manonda, Palu, Sulawesi Tengah, bernama Saiful (20) pada Kamis (21/9), tablet yang bertuliskan PCC sebanyak tujuh butir sudah diuji di Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Palu. Meski tanpa melalui pengujian pun, sesungguhnya PCC ini sudah termasuk obat yang ilegal dan dicabut izin peredarannya sejak tahun 2013 silam.

Kepala BPOM di Palu, Drs Safriansyah Apt. MKes mengatakan, hasil pengujian dari tablet putih bertuliskan PCC positif mengandung Paracetamol, Caffein dan Carisoprodol, yang sebelumnya terdapat pada kemasan somadril. Dengan kondisi tersebut, dia meminta agar semua pihak dapat berhati-hati khususnya masyarakat, karena tidak saling mengetahui satu sama lain produk tersebut jangan-jangan berbagai macam komposisinya yang lain sehingga dapat menimbulkan dampak yang membahayakan.

“Kita turut prihatin kalau sudah beredar di Palu. Hanya saja memang PCC ini diproduksi oleh pabrik gelap. Kita tidak bisa pastikan apakah yang tujuh butir ini baru diproduksi atau barang lama,” sebut Safriansyah kepada Radar Sulteng di kantornya, Selasa (26/9).

Namun, pihaknya tidak bisa mengetahui berapa ukuran kadar dari tiga zat tersebut. Untuk dapat memperoleh kadar kandungannya paling tidak dibutuhkan minimal 20 tablet dan dihitung dengan menggunakan proses kuantitatif. Sementara yang mereka lakukan saat ini masih proses kualitatif.

“Kalau hanya mengetahui zat apa di dalamnya sudah terbukti,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, setiap obat itu ada dosisnya yang sudah diukur sedemikian rupa sesuai dengan efek yang dihasilkan, namun jika dosis itu dilebihkan maka efek sampingnya juga akan meningkat. Yang parahnya lagi jika ada kandungan lain di dalamnya.

Bahkan, jika memang kadarnya melebihi dari takaran yang telah ditentukan, maka akan fatal akibatnya jika dikonsumsi.

“Hanya kita identifikasi salah satunya positif mengandung carisoprodol,” lanjut Safriansyah.

Sedangkan jenis PCC yang ditemukan warga Sungai Manonda dengan yang meracuni anak di Kendari sudah tercampur dengan zat aktif lainnya yaitu tramadol. Kata Safriansyah, sudah dikemas menjadi satu tablet yang mengandung paracetamol, caffein, carisoprodol sekaligus tramadol.

“Jadi satu, sehingga gejala korbannya sangat hebat seperti itu. Kan efeknya sudah berlipat-lipat,” terangnya.

Dia menjelaskan, perlu pengawasan yang efektif di apotek, toko obat, dustributor, klinik-klinik dan sarana resmi untuk mencegah beredarnya tablet PCC ini. Khususnya tempat-tempat ilegal pihaknya bekerjasama dengan aparat kepolisian, karena mereka yang mempunyai kompotensi di sarana tersebut.

“Petugas kita membantu juga membackup untuk mengidentifikasi obat itu secara fisik, meskipun masih diuji lab lagi,” sebutnya.

Selanjutnya, untuk memperluas cakupan pengawasan Safriansyah, juga menyebutkan pihaknya saat ini ada yang masih berada di wilayah Kabupaten untuk menyebarkan informasi terkait PCC.

“Harapan kita juga bisa berkoordinasi dengan pemerintah daerah bersama-sama mengawasi terutama instansi yang berkaitan dengan kesehatan,” tutupnya. (cr2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Mayat Bayi Mengapung di Sungai Ramba Palu

PALU- Masyarakat Jalan Sisingamangaraja (Sigma) Lorong Simaja 3, tepatnya di sekitar Sungai Ramba Palu, digegerkan ...