Jenazah korban serangan buaya muara sungai Palu saat prosesi pemakaman, Rabu (27/9).  (Foto: Mugni Supardi)

Duka mendalam menyelimuti keluarga korban dari terkaman buaya muara Sungai Palu di Jalan Cumi-cumi, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, pada Selasa (26/9) malam lalu. Keluarga almarhum Maninti (56), telah kehilangan seorang sosok kepala keluarga yang dikenal berwibawa.

LAPORAN : Amaliah

Jalina, istri almarhum memperlihatkan foto suaminya semasa hidup. (Foto: Mugni Supardi)

MEMILIKI kepribadian yang selalu memberikan motivasi ke setiap anaknya dan yang setia kepada seorang istrinya. Selain di mata anak-anaknya, warga setempat juga mengenal almarhum adalah sosok yang dikenal baik, penyabar dan berjiwa tanggung jawab di desa tempat tinggalnya.

Maninti, nelayan yang diterjang buaya muara sungai Palu Selasa (26/9), sekitar pukul 20.30 Wita di kawasan pantai Taman Tia Jalan Cumi-cumi. Kala itu, korban memasang pukat ikan ditemani Istrinya yang diketahui bernama Jalina.

Kemarin (27/9), ditemui di rumah duka di Desa Kalora, Kabupaten Sigi, Istri almarhum, Jalina (50), masih tampak diraut wajahnya menyimpan rasa duka yang mendalam dan trauma yang mendalam. Apalagi saat dia berbagi cerita kronologis kejadian suaminya diterkam buaya di depan kedua matanya sendiri.

Jalina menceritakan, sesaat sebelum peristiwa menimpa suaminya, ada dua orang laki-laki yang tidak dikenal membantu melebarkan pukatnya. Dua orang laki-laki itu memegang ujung pukat dan berdiri tidak jauh dari bibir pantai. Sementara Jalina hanya memfokuskan pandangannya kepada sang suami yang sedang melebarkan pukat sambil berjalan mundur ke laut dalam. Posisi air laut ketika itu sebatas pinggang dari almarhum.

Beberapa saat kemudian, dari kejauhuan suaminya berteriak minta tolong. Hanya terdengar dua kali teriakan minta tolong. “Aaa tolong-tolong,” kata Jalina menirukan perkataan suaminya.

Sontak, Jalina pun menjerit minta tolong. Dia juga sempat melihat tubuh suaminya saat diterkam buaya.  Ukurannya sangat besar dan berwarna kuning. Kejadiannya begitu cepat hingga akhirnya tubuh suaminya tidak terlihat lagi. “Langsung hilang begitu saja,” lanjut Jalina.

Warga sekitar yang mendengar jeritan Jalina meminta pertolongan pun datang membantu.  Menurutnya, ada yang sempat melempar buaya menggunakan batu, namun tetap saja tubuh suaminya hilang ke dalam air.

“Mungkin pukatnya suamiku terkena dengan buaya, tetapi saya juga tidak tahu pasti,” tuturnya.

Almarhum Maninti sendiri meninggalkan enam orang anak, yaitu Lisna (3), Tila (29), Kina (27), Kemal Idris (19), Nanda (16), dan Tomi (13).

Lisna, anak pertama dari 6 bersaudara itu mengaku sangat terpukul dan tidak menyangka hal ini terjadi kepada bapaknya. Bahkan dirinya tidak sempat bercakap-cakap sebelum ayahnya meninggalkan rumah ketika hari itu. Pertanda dari jauh-jauh hari pun tidak ada.

Dirinya menceritakan sehari-hari ayahnya biasa bercerita dan memberikan motivasi. Salah satu motivasi tersebut seperti dalam hidup ini jangan lebih meninggikan nafsu. Maksudnya, jangan sesekali bertengkar dengan orang, selesaikan dengan kepala dingin. Selain itu, juga anak-anaknya bisa menghargai waktu.

“Karena hari ini dan yang akan datang kalau memang sudah ajal, Allah pasti akan ambil. Itu yang sering dia bilang kalau saat kumpul dengan keluarga di rumah,” ungkapnya.

Begitupun dengan Kemal Idris. Anak ketiga ini menceritakan sosok ayahnya tidak jauh berbeda dengan apa yang telah diceritakan oleh kakaknya. Menurutnya, ayahnya yang juga salah satu tokoh masyarakat Desa Kalora sekaligus Ketua Badan Pengurus Desa (BPD). Oleh masyarakat setempat, Almarhum dikenal sebagai sosok yang punya pendirian dan pekerja keras.

Kalimat yang tak terlupakan dari ingatan Kemal Idris, adalah ketika sang ayah berkata kepadanya. “Jika orang melempar kita dengan batu, kita harus balas mereka dengan kapas. Maknanya kalau orang marah kita harus sabar,” ucap Idris.

Almarhum Maninti sendiri sehari-hari mencari nafkah selain berkebun juga mencari ikan di laut. Kata Idris itu sudah dilakoninya selama kurun waktu 21 tahun.

“Kalau yang dia anggap benar, pasti selalu ia junjung tinggi kebenarannya,” kata Kemal.

Saat terakhir dirinya bertemu dengan ayahnya pada malam kejadian, tepatnya setelah salat Magrib. Ketika itu dia sedang menyantap semangkok mie kua.

“Tidak lama dia hampiri mamaku dan bilang agar dirinya saja yang ke laut mencari ikan, karena mama saat itu kelihatan capek setelah dari kebun,” cerita Kemal.

Namun Kemal mengatakan mereka tetap pergi bersama. Apalagi ibunya tidak tega jika ayahnya pergi sendiri. “Sekarang kami anak-anaknya yang menjaga ibu,” tutup Kemal. (*)