Tradisi makan adat bersama selama berjam-jam ini disebut dengan modulu-dulu. Intinya adalah makan santai sambil berbincang ringan. Modulu-dulu menjadi sarana ampuh menjalin keakraban dan persaudaraan dalam masyarakat lembah Bada. (Foto:NurSoima Ulfa)

Toleransi beragama di Lembah Bada meningkat pesat pasca kerusuhan Poso. Meski berhasil mempertahankan perdamaian selama kerusuhan terjadi, tapi sedikit tidaknya membuat keyakinan masyarakatnya bertambah kuat. Semakin yakin bahwa kedamaian dalam hidup mutlak diperlukan. Siapa pun kamu dan apa pun agamamu.

LAPORAN: Nur Soima Ulfa


PERAN lembaga adat dalam menangkal upaya provokasi dan mempertahankan perdamaian di Lembah Bada saat kerusuhan Poso terjadi, bukan hanya seputar urusan menjaga perbatasan dan rumah kaum muslim Bada. Tetapi juga turut menyumbangkan ide tentang rencana perlindungan keluarga muslim bila kerusuhan tidak dapat dibendung masuk ke Lembah Bada pada Tahun 2000 silam.

Mantan Ketua Majelis Adat Tampo Bada (MTAB)  (alm) Teda’i Toia yang kala itu juga menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Poso, mengatakan apabila kerusuhan meluas hingga Tentena maka keluarga muslim di Bada akan diungsikan ke Padang Sepe, Desa Kolori, Kecamatan Lore Barat, untuk diselamatkan. Sementara, rumah mereka yang kosong akan ditempati oleh warga Bada lainnya. Ini dilakukan untuk menghindari pembakaran.

Skema penyelamatan tersebut dibuat berdasarkan kekhawatiran bahwa Lembah Bada akan menjadi sasaran lokasi pengungsian besar-besaran pengungsi Kristen, bila Kota Tentena bernasib sama dengan Kota Poso. Jika situasi itu memang terjadi dikhawatirkan keluarga muslim Bada akan menjadi sasaran empuk balas dendam para pengungsi. Seperti yang terjadi di beberapa desa antara Kota Poso dan Tentena, yang turut mendapatkan imbas konflik Poso.

Seperti yang diungkapkan oleh Simaman Cika, mantan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lore Selatan. Dia mengaku ingat betul bagaimana Teda’i Toia memaparkan skema tersebut dalam pertemuan dengan pemerintah kecamatan, tokoh adat, dan tokoh agama. Saat itu dia berusaha betul-betul meyakinkan Cika dan keluarga muslim Bada agar bertahan dan tidak meninggalkan Bada.

“Dia juga menghimbau agar jaga persatuan kita. Bahwa keluarga kita, umat muslim di Bada ini dirangkul semua. Karena mereka juga darah kita, turunan kita. Biarlah di sana (Poso, red) yang terjadi, tapi tidak di Bada. Yang penting Bada tetap dalam keadaaan aman. Ke depan ini yang kita jaga persaudaraan kita, kerukunan kita. Itu yang kita utamakan, (karena) orang muslim di Bada adalah kita juga. Ini yang membuat saya tambah yakin tetap di Bada, tidak keluar,” ujar Cika sembari mengutip perkataan Toia.

Soal penyebutan sedarah dan saudara bagi keluarga muslim di Bada, menurut Cika bukan suatu hal yang dilebih-lebihkan. Pasalnya, Cika mengungkapkan muslim di Bada 90 persen adalah orang Bada asli. Orang tua atau nenek-kakek mereka adalah orang Bada yang mualaf dan memeluk agama Islam. Umumnya karena pernikahan. Contohnya adalah istrinya yang memiliki orang tua berdarah Bugis dan Bada.

Sementara 10 persen muslim lainnya adalah pendatang dari luar Bada yang bersuku Bugis, Kaili, Kendari, hingga Jawa.“Jadi tidak mungkin sampai hati mau melukai saudaranya sendiri. Bagaimana bisa mau berbuat seperti itu,” tambahnya.

Selain karena masih adanya ikatan darah, dalam adat istiadat To Bada perbedaan agama dan suku tidak menjadi sesuatu yang terlarang. Ketua Pengurus Wilayah MATB, Gawie Wengkau menungkapkan adat itu tidak memandang suku maupun agama. Sebab adat dan budaya sudah hadir jauh sebelum agama datang. Perkara Kristen menjadi mayoritas di Lembah Bada, menurut Gawie, dikarenakan masuknya misionaris lebih dulu. Sebaliknya, jika mubalig lebih dulu masuk ke Bada maka Islam akan menjadi mayoritas. Olehnya, perbedaan agama bukanlah suatu yang dipertentangkan dan diperdebatkan.

“Yang intinya dimana bumi ku pijak di situ langit ku junjung. Kalau di Bada, orang bilang Pohinae artinya kebersamaan. Apapun itu, siapa pun itu kalau kebersaamaan pasti kita sanggup,” tegasnya.

HIDUP BERSAMA

Pohinae  lantas diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Contoh kecilnya adalah gotong royong. Gawie mengungkapkan di Lembah Bada, masyarakatnya terbiasa saling bahu-membahu satu sama lain. Seperti saat ketika seseorang meninggal dunia.

Saat duka seperti itu, kabar akan cepat menyebar ke 14 desa yang ada di lembah. Rumah duka juga akan dipenuhi oleh pelayat. Ketika seorang nasrani meninggal dunia, tetangga muslimnya juga akan hadir di rumah duka. Menurut Gawie, muslim akan membantu membuatkan peti mati dari kayu. Sementara sebaliknya, ketika ada muslim yang meninggal dunia, maka akan dibantu menggali tanah. Kecuali liang lahat.

“Seperti itu eratnya. Jadi bagaimana orang bugis misalnya, saat ada yang meninggal mereka atur sesuai adat mereka atau agama mereka, nanti kita yang menyesuaikan ke mereka,” ujar Gawie bersemangat.

Dia pun mengaku punya pengalaman yang sama ketika tantenya yang telah menjadi mualaf dan menikah dengan pria bermarga Al Habsyi, meninggal dunia. Saat itu, keluarganya mengirimkan sapi untuk digunakan sebagaimana diperlukan.

Eratnya toleransi juga tampak dalam penyajian makanan. Warga Kristen di Bada sudah sangat paham soal aturan makan seorang muslim. Bukan hanya soal jenis makanan yang diharamkan tapi juga soal tata cara pemotongan hewan hingga penggunanaan alat makan.

Gawie mengungkapkan biasanya warga Kristen akan menggundang tentanganya yang muslim untuk memotong hewan dan meminjam belaganya.  Dengan begitu, ketika tetangga muslimnya datang bertandang, maka bisa turut menikmatinya.

Soal perayaan keagamaan pun demikian. Ada kebiasaan melakukan konvoi pada malam Natal dan Tahun Baru bagi warga Kristen di sana. Nah, warga muslim juga ikut terlibat memeriahkan hari besar tersebut. Sebaliknya, begitu pun saat umat muslim Bada menrayakan Idul Fitri dan Idul Adha. Saling berkunjung ke rumah turut dilakukan.

“Setelah kerusuhan Poso, toleransi beragama antara Kristen dan Islam justru meningkat. Kalau dulu hanya Natal saja konvoi, sekarang kalau Idul Fitri kami juga pawai bersama. Kita juga lakukan halal bi halal di tahun ini untuk pertama kalinya semenjak kerusuhan,” ungkapnya.

Gawie mengatakan inisiatif untuk melaksanakan halal bi halal pada Idul Fitri tahun ini dicetuskan oleh Pengurus Wilayah Majelis Adat Tampo Bada di bawah kepemimpinannya. Tujuannya untuk mempererat tali persaudaraan. Saat halal bi halal itu semua warga muslim maupun nasrani di Lembah Bada diundang untuk berkumpul di Baruga Desa Bewa. Istimewanya, dalam halal bi halal tersebut untuk pertama kalinya dalam sejarah masyarakat Lembah Bada, dilakukan makan adat yang dinamakan modulu-dulu.

Gawie menjelaskan modulu-dulu adalah prosesi makan bersama. Di mana paling kurang 4 orang akan berkumpul membentuk lingaran. Mereka akan menaruh semua bekal makanan yang dibawa dari rumah dan meletakkannya ke tengah lingkaran .

Makanan tadi akan ditaruh di lembaran daun lebar bernama Tave dan makan beramai-ramai tetapi harus perlahan. Sebab inti dari modulu-dulu adalah bercakap-cakap santai sambil makan. Dengan begitu keakraban akan terjalin dan kesalahpahaman bisa diluruskan.(bersambung)