Tampak para ibu-ibu muslimah di Lembah Bada berkumpul mengikuti halal bi halal di Barug desa Bewa, beberapa waktu yang lalu. Foto lain, warga Bada non muslim juga turut hadir dengan membawa bekal makanan masing-masing. (Foto:Capture Panitia)

Cinta boleh datang dari mata turun ke hati. Tapi juga  boleh jadi, dari perut naik ke hati, karena itu “diplomasi meja makan” sering kali ampuh. Sama halnya dengan modulu-dulu, sebuah kearifan lokal yang hanya ditemukan di Lembah Bada. Mengikat cinta lewat obrolan ringan sambil makan bersama dalam satu alas daun.   

LAPORAN: Nur Soima Ulfa


LANTUNAN ayat suci Alquran terdengar merdu. Datangnya dari tengah ratusan orang yang berkumpul di dalam bangunan Baruga Desa Bewa, Kecamatan Lore Selatan, Kabupaten Poso. Setelah itu, disambung dengan sambutan dari beberapa tokoh masyarakat, tokoh agama dan unsur pemerintahan desa. Tampak pula hiburan berupa nyanyian. Setelah itu warga yang hadir membentuk lingkaran dan mulai membuka bekal makan masing-masing dan menumpuknya di lembaran daun di tengah mereka. Makan bersama pun dimulai.

Seperti itulah kira-kira acara halal bi halal  yang diselenggarakan di Baruga Desa Bewa, beberapa waktu yang lalu.  Mungkin, tidak bisa menggambarkan semua, tapi itulah yang tampak pada 26 klip video yang diberikan oleh Romel yang berprofesi sebagai perekam gambar video. Sehari-hari dia juga menjalankan usaha televisi kabel skala kecil di Lembah Bada.

Ke-26 klip video tersebut boleh jadi sedikit tapi punya nilai penting dalam mendokumentasikan serajah baru dalam harmoni kehidupan beragama di Lembah Bada.  Sebab untuk pertama kalinya umat muslim se Lembah Bada  berkumpul bersama dengan warga lainnya dalam acara  halal bi halal, yang dilaksanakan usai perayaan Idul Fitri 143 H.

Halal bi halal ini lebih terasa istimewa karena pengagasnya justru dari seorang nasrani taat dan penjaga adat bergelar Tuana Mahile Bada.  Dialah Ketua Pengurus Wilayah Majelis Adat Tampo Bada (MTAB), Gawie Wengkau.

Di awal dua tahun kepemimpinannya di MATB, Gawie membuat satu langkah maju yang meningkatkan level toleransi beragama di Lembah Bada.  Sebab selama ini setiap perayaan Idul Fitri hanya diwarnai dengan saling berkunjung rumah satu dengan lainnya. Tidak ada konvoi maupun acara perayaan bersama seperti saat Natal dan Tahun Baru.

Saat ditemui di kediamannya pada Sabtu (8/9), Gawie mengungkapkan inisiatif membuat halal bi halal muncul sebelum Ramadan.

“Saya bilang karena ini mau puasa, saudara-saudara kita ini nantinya juga mau Lebaran. Karena itu, kita buat acara halal bi halal dengan acara adat setelah Lebaran,” ungkap Gawie.

Rencana pelaksanaan halal bi halal tersebut lantas disetujui dan diajukan kepada warga muslim Bada melalui tokoh agama Islam sebagai representatif muslim di lembah ini. Rencana ini  kemudian disambut dengan antusias meski turut mengundang pertanyaan dari kaum muslimin sendiri.

La Ode Senti (44),  seorang TNI yang bertugas di Kodim 1307 Poso dan berasal dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Sudah 3 tahun 9 bulan dia  tinggal di Lembah Bada. Dirinya bersaksi saat mendengarkan rencana gelaran halal bi halal, seakan tak percaya. Pasalnya, direncanakan adanya konvoi takbir keliling dalam rangkaian acara halal bi halal.

Menurutnya bagaimana bisa pawai takbir dilakukan hanya segelintir orang. “Karena muslim di sini bisa dihitung dengan jari. Jadi masyarakat muslim di sini, kalau mau takbir keliling itu pikir 70 kali,” ungkapnya.

Namun setelah mendengarkan detil rencana bahwa warga Bada lainnya juga ikut terlibat dan bahkan menjadi panitia acara, maka La Ode merasa yakin jika acara akan sukses terlaksana. Pasalnya, dengan keterlibatan warga Bada lainnya, keamanan dan ketertiban selama konvoi bisa terwujud. Apalagi dewan adat, pemerintah setempat, tokoh pemuda serta tokoh agama lainnya juga mendukung.

MODULU-DULU

Sebagai pencetus, Ketua Pengurus Wilayah Majelis Adat Tampo Bada (MTAB), Gawie Wengkau, paham betul jika inti dari halal bi halal adalah mempererat tali  silatuhrami. Sementara, di satu sisi, Bada memiliki kearifan lokal berupa makan bersama yang disebut dengan Modulu-Dulu. Makan bersama ini sudah ada sejak nenek moyang dan dipertahankan sampai saat ini sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat di Lemba Bada.

Gawie menjelaskan modulu-dulu artinya makan sedaun nasi. Di mana aka nada 4-6 orang duduk berkeliling dengan makanan yang ditumpuk di atas daun tave sebagai alas makan. Daun ini mirip daun pisang yang lebar tetapi tidak memiliki batang besar dan paling mudah ditemukan di hutan.Sementara makanan yang ditaruh di atas daun adalah makan yang dibawa masing-masing orang dari rumahnya untuk disantap bersama.

Prosesi modulu-dulu mensyaratkan setiap orang untuk menyantap makanan sembari berbincang. Topiknya bisa apa saja. Mulai dari sekedar pembicaraan ringan seputar kebun, diskusi, hingga bertukar pikiran tetang politik. Menariknya, perbincangan harus dilakukan berjam-jam. Olehnya, makan harus pelan-pelan. Jika makanan habis, berarti perbincangan usai.

“Misalnya, ada orang yang belum dikenal, dia diajak untuk makan bersama-sama. Karena disitulah kita tukar pikiran sampai berjam-jam. Itulah  tujuan modulu-dulu,” terang Gawie.

Masih satu nafas dengan tujuan halal bi halal, membuat Gawie memasukkan modulu-dulu ke dalam acara inti acara.  Semua warga diundang dan diminta membawa makanan dari rumah. Tujuannya satu, membuat warga muslim dan nasrani di Bada bisa satu. Sekedar informasi, modulu-dulu kerap dilakukan saat kedukaan maupun pesta pernikahan atau ketika ada pejabat pemerintah berkunjung ke Lembah Bada.

Hanya saja, Gawie mengungkapkan karena masalah aturan soal makanan yang haram  maka muslim dan nasrani duduk dalam kelompok yang berbeda. Muslim akan berkempok dengan sesamanya, begitu juga dengan nasrani. Namun, Gawie menjamin tidak berkurang satu derajat pun keakraban yang terjalin pada malam halal bi halal saat itu.

”Modulu-duli ini adalah salah satu upaya menjaga silatuharmi dan lebih menjaga ketentraman di tengah masyarakat. Hidup bersama dalam damai,” terang Gawie.

TOLAK RADIKALISME

Kuatnya persatuan dan persaudaraan antar penganut agama di Lembah Bada, menjadi pondasi dan juga tiang utama masyarakatnya menangkal paham radikalisme. Paham ekstrim yang bisa memecah dan memicu permusuhan antara umat beragama itu, sulit tembus. Apalagi masyarakat Bada

menyaksikan dengan mata kepala sendiri penderitaan karena kerusuhan di Kota Poso dan sekitarnya pada Tahun 2000 silam.

Mantan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lore Selatan, Simaman Cika BA, mengungkapkan dirinya terngiang perkataan Mantan Wakil Gubernur Sulteng Kiesman Abdullah, yang menjadi Ketua Rujuk Sintuwu Maroso. Saat itu, Kiesman Abdullah melakukan kunjungan ke tempat pengungsian di Tentena 4 bulan setelah konflik meletus pada Mei Tahun 2000.

“Beliau bilang, tolong dijawab siapa yang rasakan penderitaan? Siapa yang mulai? Siapa yang rugi? Baik dari pihak muslim maupun Kristen sama-sama korban harta dan nyawa. Tapia pa kita mau begitu lagi? Kita ini diadu domba. Karena itu, marilah kita kembalikan persaudaraan kita ini, supaya kita sintuvu maroso (hidup kuat bersama, red),” terang Cika.

Pengalaman pahit di masa lalu  ditambah dengan kuatnya ikatan darah dibalut dengan toleransi dan kebersamaan yang dirawat oleh adat istiadat, membuat masyarakat Lembah Bada tidak mudah goyah dengan provokasi.

Termasuk paham radikalisme yang memecah keharmonisan antar agama dengan kebencian dan ajaran sesat. Sebab menghalalkan darah setiap orang yang tidak sekelompok dengannya. Seperti kelompok Santoso Cs yang masih bergerilya di dalam hutan hingga kini. Meski, Santoso sendiri sudah tewas di tangan aparat.

“Kalau kita di sini membentengi uamt muslim dari paham radikal, yang kita perkuat itu toleransi. Adatnya orang Bada juga. Kita harus pintar menyesuaikan diri. Di Bada ini kami umat Islam tidak ada organisasi. Tidak ada Muhammdiyah, tidak ada Alkhairat. Jumlah kami sedikit, bagaimana lagi bisa dikotak-kotakan,” ungkap Simanan Cika.

Dengan sedikit bergurau, dia mengungkapkan satu-satunya kelompok Islam di Bada adalah Persatuan Ibu Muslim (PIM) Bada. Kegiatannya adalah menghimpun dan mengornasir kegiatan ibu-ibu muslim atau majelis taklim.

Sementara itu Ketua Pengurus Wilayah Majelis Adat Tampo Bada (MTAB), Gawie Wengkau, mengaku  di tahun 2016, dia kedatangan komandan operasi Maleo. Kala itu, dia diminta agar menghimbau warga Bada agar tidak memberikan bantuan makanan kepada orang tidak dikenal atau sengaja menyimpan beras di kebun. Sebab bisa digunakan oleh Kelompok Santoso yang bersembunyi di hutan.

Meski begitu, dengan percaya diri Gawie mengatakan Kelompok Santoso belum terdeteksi berada di sekitaran hutan lembah Bada. Kalau pun ada, dia menjamin kelompok itu akan mati. Dia percaya keyakinan nenek moyangnya, yang mensakralkan Lembah Bada dari segala kejahatan. Bahwa setiap orang yang telah meminum air di Lembah Bada (ada yang berwarna merah dan putih), tidak akan bisa melakukan kejahatan.

“ Tidak akan berani kelompok santoso masuk di sini. Dia sudah tahu bahwa siapa yang berbuat kejahatan di sini pasti akan ditelan bumi ini. Apalagi kalau dia sudah minum itu air putih dan air merah. Jadi istilahnya orang tua itu dulu, siapa yang meminum air merah atau air putih, lantas dia berbuat kejahatan di sini tidak akan pulang, di akan di telah bumi ini,” pungkasnya.(**)