Musda PHDI dan WHDI, Kearifan Lokal dalam Semangat Dharma

0
47
Para tamu undangan serta pejabat daerah Provinsi Sulawesi Tengah berfoto bersama saat pembukaan kegiatan Lokosabha VIII Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Musda IV Wanita Hindu Dharma Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah di Jazz Hotel, Jumat (6/10). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Dengan mengangkat tema, pemberdayaan kearifan lokal dalam semangat dharma untuk kemajuan Sulawesi Tengah, kegiatan Lokosabha VIII Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Musyawarah Daerah (Musda) IV Wanita Hindu Dharma Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, resmi dibuka Jumat (6/10) kemarin bertempat di Jazz Hotel. Acara pembukaan berjalan lancar.

Lokosabha VIII PHDI dan Musda IV WHDI, dibuka langsung Gubernur Sulteng yang diwakili oleh Sekda Provinsi Sulteng Drs H Moh Hidayat Lamakarate MSi. Turut hadir pula Ketua Umum PHDI Pusat Mayor Jenderal (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, dan Ketua Umum WHDI Pusat Ny Ir Rataya B Kentjanawathy Suwisma.

Gubernur menyampaikan beberapa pesan dalam sambutannya yang dibacakan Hidayat Lamakarate. Jika menyimak tema kegiatan ini, kata Gubernur, sangat searah dengan tujuan Pemerintah Provinsi Sulteng untuk mewujudkan Sulteng yang maju, mandiri, dan berdaya saing dalam segala bidang. Tentu saja untuk mencapainya, dibutuhkan dukungan dari semua pihak dalam satu bingkai.

“Yaitu persatuan dan kebersamaan tanpa perbedaan. Olehnya itu, pembangunan yang berlangsung di Sulteng, tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik saja, sehingga mengabaikan pembangunan yang bersifat non fisik seperti pembangunan sosial, budaya, dan keagamaan,” kata Hidayat.

Ketua Umum PHDI Pusat Mayor Jenderal (Purn) Wisnu Bawa Tenaya menekankan dalam sambutannya, agar seluruh umat Hindu di Indonesia khususnya Sulteng terus meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam melaksanakan tugas sesuai profesi masing-masing. Apakah dari kalangan tentara, polisi, pegawai negeri, hingga pegawai swasta.

“Bekerja-lah dan lakukan yang terbaik. Setiap pekerjaan apapun dan di manapun. Karakter umat Hindu itu harus seperti panca pandawa, moralnya bagus, berani, cerdas, arif dan bijak,” sebut Perwira TNI-AD tersebut.

Ketua Panitia, Dr dr Ketut Suarayasa mkes MARS mengatakan, tema Lokasabha PHDI dan Musda WHDI kali ini bertujuan merefleksikan kembali peran umat Hindu dalam mendukung pembangunan di wilayah Sulteng.

Sesuai dengan amanat organisasi, kata dia, setiap 5 tahun sekali PHDI dan WHDI wajib melakukan regenerasi kepemimpinan, menerjemahkan kembali persoalan di daerah dalam bentuk program kerja, serta melahirkan rekomendasi yang inovatif sesuai dengan kebutuhan daerah.

“Semua ini akan dibahas dalam forum Lokasabha untuk PHDI dan Musda untuk WHDI,” kata Ketut Suarayasa.

Pada kegiatan kali ini juga, Ketut menyebutkan, ada pemberian penghargaan Dharma Abiwadha (penghargaan dharma) kepada mantan ketua PHDI dan WHDI atas segala pengabdian tulus mereka. “PHDI dan WHDI tidak bisa hadir sampai hari ini tanpa keikhlasan pengabdian mereka,” ujarnya.

Mantan ketua PHDI dan WHDI itu diantaranya, I Gusti Ngurah Malen (alm) sebagai ketua PHDI pertama, dimana PHDI baru ada di Kabupaten Donggala (1975-1983). Kemudian Drs I Gede Negara Widiasa (alm), tahun 1983-1992. Dalam periode beliau, PHDI sudah dalam lingkup Sulteng. Selanjutnya, dr AA Ngurah Gde Djaja (alm), menjadi ketua PHDI selama dua periode sejak tahun 1992-2002.

Ir Putu Surya juga menjadi ketua PHDI Sulteng 2 periode sejak tahun 2002-2012. Sedangkan Dharma Abhiwada untuk ketua WHDI Sulteng diberikan kepada A A Sagung Dewi Sukmawati, menjadi ketua WHDI periode 1997-2002 dan Ni Made Anggreniyati SE MSI periode 2002-2007.

Kegiatan ini akan digelar selama tiga hari, mulai Jumat (6/10) hingga Minggu (8/10), serta dihadiri dari utusan PHDI dan WHDI kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah yang berjumlah 11 kabupaten/kota, serta utusan dari Prajaniti Hindu Sulteng selaku peninjau. (acm/exp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here