Demo TKBM di PT CORII Morwali Utara Berakhir Ricuh

0
338
Yulius (kaos garis) coba diamankan dari emosi warga, yang terpancing atas tindakannya. Pada demo yang digelar di PT CORII. (Foto: Ilham Nusi)

MORUT – Gelombang protes kembali menghantam manajemen PT Central Omega Resources Industri Indonesia (CORII). Kali ini datang dari Solidaritas Buruh dan Rakyat Bersatu, Morowali Utara. Aksi itu bahkan berujung ricuh.

Massa gabungan tenaga kerja bongkar muat (TKBM) Ganda Ganda dan masyarakat Desa Ganda Ganda, Kecamatan Petasia itu, awalnya menjaga sikap. Terlihat saat orasi di sepanjang jalan dari dusun II hingga dusun V Lambolo, Desa Ganda Ganda. Sikap serupa masih berlanjut ketika ratusan masa berorasi di depan gerbang PT CORII di dusun tersebut.

Situasi mulai bergejolak, saat manajer HRD PT CORII Yulius tiba-tiba memarkir kendaraannya di depan mobil komando. Pasalnya setelah mendekati massa aksi, Yulius langsung terlibat adu argumen tanpa terlebih dahulu mendengarkan aspirasi warga.

Sok arogan pria bertubuh gempal itu mengecewakan massa aksi. Mereka menilai kehadiran Yulius tidak untuk beritikad baik. Akibatnya, massa spontan mengamuk dan berusaha mendekati pria itu.  Aksi saling dorong massa dengan aparat kepolisian serta sejumlah security perusahaan pemurnian Ore itupun tak terelakan. Beberapa menit kemudian, ricuh itu berhasil diredam. Petugas lantas mengamankan Yulius dari kemarahan masa.  “Dia (Yulius) tidak beritikad. Kami kecewa mendapat perlakuan seperti ini,” ujar Koordinator Lapangan Aksi, Takdir Tovosu.

Dalam orasinya, Takdir mendesak dilakukan pertemuan bersama antara PT CORII, pihak Pemerintah Daerah dan masyarakat Ganda Ganda, selambatnya Senin (9/10). Mereka juga meminta Pemkab dan DPRD Morut segera membuat landasan hukum tentang pelaksanaan realisasi dana CSR atau dana kompensasi masyarakat wilayah sekitar tambang.

Selanjutnya mendesak Pemkab dan Pemprov Sulawesi Tengah agar bersama-sama masyarakat Ganda Ganda melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan amanat analisis dampak lingkungan perusahaan ini. Selain itu, masa aksi juga meminta klarifikasi anak perusahaan PT COR Tbk ini terkait keberadaan Perusahaan Bongkar Muat (PBM) PT COR II yang menggeser keberadaan TKBM Ganda Ganda.

“Sebelum ada kesepakatan bersama dengan TKBM Ganda Ganda, kami mendesak PBM PT CORII agar menghentikan sementara kegiatan bongkar muat yang sedang berjalan,” tegas Takdir menutup lima poin tuntutan mereka.

Menanggapi aspirasi solidaritas tersebut, Yulius mewakili PT COR II mengaku sudah melibatkan TKBM Ganda Ganda berdasarkan kontrak bongkar muat selama 24 bulan yang ditandangani bersama Ketua TKBM Ganda Ganda.  Tidak dilibatkannya komunitas pekerja itu, menurut dia disebabkan proses pengapalan saat ini bukan oleh PT CORII melainkan PT Mulia Pasific Resources (MPR) yang juga anak perusahaan PT COR Tbk.

“Protes ini salah alamat, karena pengapalan sekarang ini bukan kami tetapi PT MPR. Sebenarnya, Takdir sudah saya datangi tadi pagi di rumahnya untuk dialog agar tidak perlu melakukan demo, tapi dia tidak mau,” jelas Yulius.

Eksternal Relation PT MPR Ratnawati saat dihubungi Radar Sulteng menjelaskan, pokok persoalan hingga memicu aksi protes. Menurutnya, pengapalan yang disoal TKBM Ganda Ganda memang tidak melibatkan mereka karena pengapalan dilakukan menggunakan alat berat.

“Pengapalan itu memang tidak bisa mepekerjakan orang banyak karena yang dimuat adalah Ore basah, tentunya harus pakai alat berat,” katanya.

PT MPR memang tidak terikat kontrak kerja dengan TKBM. Sebab kata Ratna, mereka punya PBM. Nah pihak itu berhak memilih tenaga kerja mana yang mereka tunjuk. “Saat pengapalan Ore, PBM hanya mengajak sedikit warga Ganda Ganda. Mereka pekerja harian lepas yang diupah untuk buka-tutup terpal,” jelasnya.

Mengenai tuntutan pelibatan TKBM dalam bongkar muat PT MPR, dia mengisyaratkan kemungkinan itu bisa terjadi. Namun tentunya akan melalui pembahsan bersama untuk menghindari gesekan baru di kemudian hari.  “Kalau memang memungkinkan, kita pasti mengakomodir perimntaan kerjasama mereka. Asalakan ini dibicarakan baik-baik tanpa harus desak-desakan,” sebut Ratna.

Bakri, Sekretaris TKBM Ganda Ganda menuturkan aksi mereka sebenarnya direncanakan Kamis (5/10). Namun Kepolisian Resor Morowali tidak mengizinkan karena surat permintaan izin No.001/PUK.K-SPSI/TKBM-GG/X/2017 yang ditadatanganinya bersama Ketua TKBM Takdir Tovosu baru dibuat sehari sebelum rencana itu.  “Namun ditunda karena berbagai pertimbangan dan baru dilaksanakan pada hari ini, Sabtu 7 Oktober 2017,” kata Bakri. (ham)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here