Home / BERITA PILIHAN / Habitat Tarsius Ditemukan di Maliwuko Lage Poso

Habitat Tarsius Ditemukan di Maliwuko Lage Poso

Tarsius yang dirawat oleh Balai Taman Nasional Lore Lindu. (Foto: Agung Sumandjaya)

POSO – Hutan Desa Maliwuko, Kecamatan Lage, Kabupaten Poso Sulawesi Tengah telah ditemukan sebagai salah satu habitat tarsius alias tangkasi. Bahkan di hutan desa tersebut habitat dari primata terkecil di dunia ini berkembang pesat.

Diketahui, dari 11 jenis Tarsius yang hidup di Pulau Sulawesi, tiga diantaranya berada di hutan-hutan primer khususnya yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Lore Lindu maupun Cagar Alam, termasuk di Maliwuko. Satwa endemik ini, oleh IUCN atau Uni Internasional untuk Konservasi Alam, masih menempatkan sebagai satwa dengan kategori rentan.

Sementara pemerintah Indonesia sendiri menempatkan ke 11 jenis tarsius dalam kategori hewan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

Yohanes (35), warga Maliwuko, menceritakan, secara umum Tarsius bertubuh kecil dengan mata yang relatif lebih besar dari tubuhnya, tiap bola matanya berdiameter sekitar 16 mm. Dengan mata yang berukuran sangat besar sebagai pengembangan kemampuan menemukan makanan di malam hari tarsius harus memutar kepalanya 180 derajat kearah man apun untuk melihat mangsanya.

Primata ini memiliki panjang kepala dan tubuhnya 10 sampai 15 centimeter, namun kaki belakangnya hampir dua kali panjang tubuhnya, memiliki ekor yang ramping dengan panjang 20 hingga 25 centimeter. Tarsius merupakan hewan nokturnal atau aktif dimalam hari untuk mencari makan berupa serangga dan vertebrata kecil seperti ular dan cicak. Mereka berburu dengan melompat dari satu cabang pohon ke cabang pohon lainnya, di daerah jelajah mereka seluas 1 hingga 2 hektar di sepanjang malam dan kembali ke sarang di pepohonan menjelang pagi.

“Kalau disini, kami mengenalnya dengan nama Tangkasi. Biasanya jam-jam enam sore itu suara mereka terdengar di hutan sekitar sini. Begitu pula saat menjelang pagi,” Kata Kepala Desa (Kades) Maliwuko, Simon Lapangoyu. Biasanya, lanjut Kades, Tangkasi di temukan di pohon bambu atau pohon jati.  Mereka aktif pada malam hari.

“Kalau mau dengar suaranya, itu di sana. Disekitar pohon sagu, dekat sungai,” kata ngkai Mail, warga desa Maliwuko lain sambil menunjukan telunjuk ke arah pohon sagu di sungai.

Menurut Kades Simon, pada sekitar bulan Juli 2017 lalu, se-ekor Tarsius sempat ditemukan warga saat gotong-royong membuka jalan ke lokasi lapangan sepak bola desa. Tarsius itu kemudian diserahkan ke pihak Polres Poso yang kemudian menyerahkan ke BKSDA Sulawesi Tengah.

Diakui oleh Simon Lapangoyu, tidak seluruh masyarakat di desanya mengetahui bahwa Tangkasi di Maliwuko di dunia internasional dinamai sebagai Tarsius,  yang sekaligus merupakan hewan dilindungi di Indonesia. “Memang ada yang menangkap dan memelihara hewan ini, namun itu semata-mata karena yang bersangkutan tidak mengetahui bahwa Tarsius dilindungi. Olehnya kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait yang berwenang untuk bagaimana penanganannnya,” ungkap Kades.

Secara terpisah kepala Seksi 2 Poso pada Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, Tasliman menjelaskan di Sulawesi Tengah setidaknya tercatat ada 3 jenis Tarsius, yaitu Tarsius Dentatus, Tarsius Lariansis yang hanya berada di sepanjang aliran sungai Lariang dan Tarsius Pumilus. Dari ketiga jenis Tarsius itu, Tarsius Pumilus sempat dikhawatirkan telah punah sebelum keberadaannya kembali ditemukan di gunung Rore Katimbu yang berada di perbatasan Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi dalam sebuah penelitian di tahun 2013 silam. Selain ketiga jenis itu, di Pulau Sulawesi masih terdapat delapan jenis Tarsius lainnya termasuk dua spesies yang diumumkan pada Mei 2017 dengan nama Tarsius Spectrumgurskyae dan Tarsius Supriatnai.

“Kami sudah dapat laporan mengenai dugaan keberadaan Tarsius di desa Maliwuko  dan memang rencanannya kami akan mensurvey lokasi di desa tersebut, sekaligus untuk melakukan sosialisasi status hewan ini dan apa manfaatnya bagi manusia,” kata Tasliman.

Dikatakannya, dalam rentang waktu 8 tahun terakhir ada kecenderungan peningkatan populasi Tarsius, meskipun belum dilakukan pendataan jumlah pastinya. Indikasi peningkatan populasi ditemukan berdasarkan pengamatan di kawasan-kawasan konservasi yang ada. Peningkatan populasi Tarsius ini dikatakannya juga karena kesadaran masyarakat yang tidak lagi menganggap Tarsius sebagai hama yang merusak hasil kebun, karena ia hanya memakan serangga atau vertebrata kecil seperti ular dan cicak.

“Kalau dulu tarsius ini dianggap hama. Tapi sekarang masyarakat sudah paham dan malah dia membantu masyarakat sebagai satwa predator, sehingga sekarang mereka (masyarakat, red) ikut membantu untuk melindungi. Makanya penyebarannya (Tarsius) agak meningkat. Karena hampir setiap saat kalau kita jalan melewati hutan, suaranya itu masih sangat jelas terdengar walaupun dia di luar kawasan,” ungkap Tasliman.

Sementara Ecil Tamalagi, pengamat Tarsius dari Komunitas Pecinta Satwa Tarsius Sulawesi Tengah, menilai perlu perhatian serius dari pemerintah untuk melindungi habitat Tarsius dari aktivitas pembukaan hutan untuk dijadikan areal perkebunan yang dilakukan masyarakat.

Pembukaan hutan menyebabkan Tarsius yang hidup secara berkelompok dalam satu keluarga semakin terdesak. Keberadaan serangga yang berkurang serta terjadinya perkelahian di antara kelompok Tarsius, karena ruang hidup mereka yang semakin kecil akibat pembabatan hutan. Keberadaan Tarsius di Maliwuko yang diduga jenis Tarsius Dentatus itu memang perlu segera diverifikasi oleh Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sulawesi Tengah. (bud)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Mayat Bayi Mengapung di Sungai Ramba Palu

PALU- Masyarakat Jalan Sisingamangaraja (Sigma) Lorong Simaja 3, tepatnya di sekitar Sungai Ramba Palu, digegerkan ...