Home / FEATURE / Suku Lauje, Enggan Disebut Petani Ladang Berpindah (1)

Suku Lauje, Enggan Disebut Petani Ladang Berpindah (1)

Tokoh suku Lauje, Ibrahim Hafid. (Foto:dok pribadi)

DI Provinsi Sulawesi Tengah, memiliki sekian banyak suku sekaligus kekayaan adat dan budaya yang sangat luar biasa. Keberadaannya sudah diketahui dunia, namun belum terlalu banyak dipublikasikan karena keterbatasan akses, atau belum ada pihak yang mau mempublikasikannya. Salah satunya suku Lauje.

Laporan : Muchsin Siradjudin

SUKU yang mendiami bagian Utara Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) ini memiliki adat budaya yang bernilai tinggi. Selain bahasa Lauje yang masih digunakan penuturnya ini, juga memiliki adat khusus misalnya untuk pertanian dan bercocok tanam.

Salah seorang tokoh suku Lauje, Ibrahim Hafid SSos, menuturkan kepada Radar Sulteng, suku Lauje yang tersebar di Kecamatan Tomini memiliki adat dan budaya yang unik.  Aslinya di Kecamatan Tomini, sebagian secara administratif masuk di Kecamatan Ongka Malino,  Kecamatan Tinombo, dan Kecamatan Palasa.

“Lalu saat ini sampai di wilayah Kecamatan Ongka Malino. Mereka juga ada, dan Kecamatan Mepanga, dan Kecamatan Tomini. Secara mayoritas mereka ada di Kecamatan Palsa dan Kecanatan Tomini, “ paparnya.

Tetapi ada  juga migrasi secara turun temurun, yang sudah lama berkembang di Kecamatan Ampibabo. Makanya, ada Lauje Ampibabo. Tetapi  menurut cerita rakyat, bahwa wilayah Lauje itu dimulai dari Ampibabo. Ini klaim-klaim perwilayahan. Melompat beberapa wilayah, misalnya Kecamatan Kasimbar dan Toribulu, karena disana ada suku Tajio. “ Jadi sebagian ada Ampibabo, dan kecamatan eks Tinombo, sekarang ada Kecamatan Tinombo Selatan, Sidoan dan Kecamatan Tinombo, Palasa, Tomini, sampai di Mepanga dan Ongka Malino, “ sebutnya, dan menyampaikan bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Lauje.

Ia lalu menolak stigma yang menyebut  tradisi sistem pertanian suku Lauje, sering dituding dari pihak pemerintah sebagai petani ladang berpindah. Tetapi bagi suku Lauje sendiri mengganggap sebagai petani yang berotasi.  “ Karena perpindahan sistem pertaniannya dari titik satu ke titik kedua dan seterusnya selalu balik lagi kembali ke titik pertama, “ jelas Ibrahim, yang juga adalah anggota Komisi IV DPRD Sulteng.

Sebetulnya, jelas Ibrahim, dalam sistem pertanian suku Lauje sistemn pertanian tersebut hanyalah berbentuk recovery, yakni mengistirahatkan tanah tersebut beberapa waktu tertentu untuk kembali digunakan, agar tanah itu terjaga kesuburannya. “ Tetapi dengan situasi saat ini, karena desakan arus masyarakat bawah dan masyarakat transisi, kami  mengkategorikan suku Lauje tiga kategori, yaitu masyarakat bawah  yang ada di wilayah  pesisir dan masyarakat transisi yang ada diantara masyarakat Lauje (suku aslinya) dan masyarakat yang  sudah berstrata sosial yang sudah menetap, “ bebernya.

Menurutnya, suku Lauje sudah terdesak dengan situasi itu maka sistem perladangan yang berotasi tadi sudah mulai berkurang. Sekarang mulai ada perubahan, mereka berotasi ke ladang yang menetap.

Selain pertanian, suku Lauje juga berjaya di bidang nelayan. Ada di pesisir pantai (masyarakat yang sudah keterogen, sudah membaur dan sudah terpengaruh dengan situasi perkembangan  di daerah trans).  “ Kalau simbol perahu di acara Masoro (syukuran dan tolak bala), untuk syukuran hasil panen, agar mendapat keselamatan dan perlindungan dari Tuhan, karena faktanya yang ditaru dalam perahu  itu adalah sumber daya alam (hasil-hasil pertanian) yang dihasilkan oleh warga suku Lauje. Simbolnya disimpan dalam perahu itu. Tidak hanya hasil pertnian tetapi juga apa saja yang menjadi alat dan hasil produksi mereka. Misalnya ada ayam, ayam juga ditaru disana.

Untuk perahu, dari hasil produksi pertanian tadi dibawa ke pantai dalam perahu. Lalu dilepas perahunya. Simbol itu adalah melepaskan sesuatu yang buruk-buruk. Kalau misalnya ada hama segala macam. Minta doa agar terlepas mara bahaya bersama perahu itu. “Intinya adalah mensyukuri nikmat Tuhan dan melepas hal-hal yang buruk.

Dijelaskannya, posisi masyaratakat nadat itu ada di tiga fase itu. Tiga kategori. Yang memang masih menjalankan tradisi dan budaya ketika melakukan budaya Masoro, dipimpin sukunya yang disebut Olongian, dan majelis adatnya. “ Kepala suku Lauje disebut Olongian. Dibawanya ada kepala adatnya, yang bertugas menjalankan tradisi-tradisi suku Lauje. Mereka adalah praktisi adatnya, “ jelas Ibrahim Hafid.(***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Mayat Bayi Mengapung di Sungai Ramba Palu

PALU- Masyarakat Jalan Sisingamangaraja (Sigma) Lorong Simaja 3, tepatnya di sekitar Sungai Ramba Palu, digegerkan ...