Bangkep Minta Bagi Hasil dari LNG

0
218

BANGKEP-Jatah bagi hasil konpensasi eksploitasi Minyak dan Gas (Migas) LNG Senoro, kepada Kabupaten Bangkep dinilai tidak adil. Pasalnya Bangkep daerah yang paling terkena dampak, dan disisi lain gas sumber LNG berada di wilayah administrasi Pemkab Bangkep.

Dalam kompensasi pembagiannya, Bangkep mendapat jatah bagian yang sama dengan wilayah Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Sulteng, minus Kabupaten Banggai yang mendapat jatah bagi hasil dengan status daerah penghasil.

Padahal sesuai fakta, palung migas dalam kaplingan blok Senoro yang dilelola LNG hampir 60 persennya berada di wilayah peta administrasi Kabupaten Bangkep. Belakangan banyak pihak di Bangkep, mulai menyuarakan hal ini. Mereka meminta agar Pemkab Bangkep tak tinggal diam dengan jatah bagi hasil yang dinilai tidak adil ini. Mereka mendesak, agar Pemkab bisa memperjuangkan jatah bagi hasil yang lebih sepadan.

Desakan salah satunya, dimunculkan oleh tokoh pemuda Bangkep, Laode Wardana. Menurut Laode, migas merupakan jenis sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Itu artinya, jika terus-terusan dieksploitasi dengan durasi waktu tertentu keberadaannya akan habis.

Ini tentu saja kata Laode, akan menimbulkan kerugian besar bagi pemerintah dan masyararakat Bangkep secara utuh. Sebab, kekayaan alam yang berada di daerah mereka tidak bisa dinikmati untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat Bangkep.

Selain dengan alasan karena palung migas blok Senoro berada di wilayah administrasi Bangkep, alasan lain yang dapat dijadikan landasan untuk mendesak nilai lebih atas bagi hasil eksploitasi migas di blok Senoro yaitu dampak ekologis serta dampak ekonomis bagi masyarakat Bangkep.

Untuk dampak ekologis jelas Laode Wardana, bisa sangat mungkin terjadi karena beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Bangkep, secara geografis saling berdekatan dengan titik eksploitasi migas di Kecamatan Batui, Kabupaten Bangkep.

“Dampak ekologis bisa dirasakan secara langsung oleh masyarakat di Kecamatan Buko, Buko Selatan, Bulagi Utara dan Bulagi Selatan. Wilayah ini secara langsung berada satu garis sejajar dengan Kecamatan Batui, dimana pusat eksploitasi migas blok Senoro dilakukan,” sebut Laode Wardana.

Di wilayah ini, sudah beberapa kali kejadian adanya kematian ikan secara masal. Lainnya, produktifitas rumput laut di Kecamatan Buko, Buko Selatan, Bulagi Utara dan Bulagi Selatan menurun secara drastis. “Dugaan sementara, penyebabnya karena dampak eksploitasi migas di blok Senoro,” tambahnya.

Sementara kerugian ekonomis bebernya, sekarang dirasakan secara langsung oleh masyarakat di Kecamatan Buko. Masyarakat nelayan di sana, tak lagi bisa melakukan aktifitas tangkap ikan dengan menggunakan rompong. “Warga dilarang untuk pasang rompong. Karena alasannya, wilayah peraiaran Kecamatan Buko, menjadi jalur lalulintas kapal-kapal pengangkut migas yang beroperasi di blok Senoro,” bebernya.

Dengan deretan kenyataan ini, sambung Laode Wardana, masyarakat Bangkep benar-benar dirugikan. “Ini tentu saja kerugian. Pemkab Bangkep harus berani menyuarakan masalah tersebut hingga ke tingkat pusat,” desaknya. (bar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.