Gegara Dana Desa, Mantan Kades Lintidu Dihukum 4 Tahun Penjara

0
256
Ilustrasi(@radarbanten.com)

PALU – Sudah sekian banyak perkara dugaan korupsi penyalahgunaan dana desa disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu.

Perkara itu menjerat mulai dari mantan kepala desa hingga perangkatnya, seperti bendahara dan sekretaris desa (sekdes). Dari yang selama ini disidangkan baru satu-satunya kepala desa yang diadili hukumannya naik satu kali lipat dari tuntutan pidana jaksa penuntut umum.

Dialah terdakwa Iskandar Karim Pau Sukara atau mantan kepala Desa Lintidu, Kecamatan Paleleh, Kabupaten Buol. Terdakwa Iskandar merupakan mantan kades yang terjerat penyalahgunaan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (DD dan ADD) Lintidu Tahun 2016. Dia disidangkan di PN Klas IA/PHI/Tipikor Palu sejak dua bulan yang lalu.

Berdasarkan data yang dihimpun Radar Sulteng, sidang perkara dugaan korupsi yang menjerat Iskandar sapaan akrab terdakwa terakhir dihelat Kamis (9/11) pekan kemarin dengan agenda pembacaan putusan. Majelis hakim akhirnya menyatakan dirinya (Terdakwa,Red) terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan merugikan negara atau perekonomian negara sebesar Rp 250 juta lebih.

“Hukuman yang dijatuhkan kepada terdakwa kalau tidak salah naik dari tuntutan pidana yang pernah dilayangkan jaksa penuntut umum,” ungkap Humas PN Klas IA/PHI/Tipikor Palu, Lilik Sugihartono SH MH dikonfirmasi sekaitan putusan akhir terdakwa Iskandar.

Lanjut Lilik Sugihartono, majelis hakim yang menyidangkan terdakwa ialah Erianto Siagian SH MH, didampingi dua hakim anggota Jult Mandapot dan Margono SH MH. Karena terbukti bersalah, majelis hakim menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 4 tahun, denda Rp 200 juta subsider 5 bulan kurungan.

Selain itu terdakwa juga dijatuhi pidana tambahan berupa membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp250 juta lebih, subsider 6 bulan penjara.

“Pertimbangan majelis hakim karena perbuatan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar ketentuan sebagaimana dakwaan primair,” kata Lilik Sugihartono menguraikan pertimbangan putusan yang sebelumnya telah dibacakan hakim ketua Erianto Siagian SH MH.

Putusan perkara korupsi yang menjerat terdakwa Iskandar, berbeda dengan putusan perkara korupsi lainnya yang pernah menjerat mantan kepala desa di Sulteng dan telah diperiksa di PN Klas IA/PHI/Tipikor Palu. Terdakwa Iskandar satu-satunya mantan kades yang terbukti bersalah mengorupsikan anggaran desa, kemudian dijatuhi hukuman pidana lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut umum.

Bahkan naik satu kali lipat dari tuntutan jaksa penuntut umum.

Sebelumnya jaksa Rahmat SH dari Kejaksaan Negeri Buol menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 2 tahun denda Rp50 juta subsider 2 bulan penjara.  Jaksa juga menuntut pidana tambahan membayar uang pengganti sebesar Rp 250 juta lebih subsider 6 bulan penjara.

“Putusan naik dari tuntutan karena majelis hakim dalam amar putusannya menyatakan terdakwa terbukti melanggar dakwaan primer. Jaksa menuntut terdakwa karena terbukti melanggar dakwaan subsider,” tandas Lilik sapaan akrab mantan hakim PN Manggala Lampung tersebut. (cdy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here