Masih Ingin Sekolah, Terpaksa Gugurkan Kandungan

0
309
Satu pasangan ABG (anak baru gede) di Luwuk terlibat kasus aborsi. Tampak Kapolres Banggai, AKBP Heru Pramukarno, SIK dan Kanit PPA Satreskrim Polres Banggai, Iptu Yogi, memperlihatkan barang bukti dan foto tulang anak bayi hasil aborsi yang dilakukan kedua ABG tersebut. (Foto: Steven laguni)

LUWUK–Nasib malang dialami gadis dibawah umur yang satu ini, sebut saja namanya Bunga (19). Sudah diputuskan sepihak oleh kekasih hatinya, berinisial SJM (17), dia pula harus menerima beban berat dengan mengandung anak hasil hubungan terlarang mereka yang dilakukan tanpa paksaan pada Agustus 2017 lalu.

Hasil hubungan intim selayaknya suami istri itu, ternyata tidak bisa diterima oleh Bunga, apalagi gadis berumur 19 tahun ini baru mengetahui dia hamil saat status hubungan keduanya telah berakhir alias putus. Sehingga usaha untuk menggugurkan kandungan dilakukan. Tapi sangat disayangkan, hal itu tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan Bunga.

Takut ketahuan orang tua, guru dan teman-teman sekolahnya, Bunga pun memutuskan untuk memberitahukan kepada mantan pacarnya tersebut. Melalui Riri, sepupuh SJM, informasi kehamilan Bunga sampai di telinga sang mantan pacar.

“Kami masih ingin sekolah pak, jadi kami lakukan itu (aborsi, RED),” jawab keduanya kepada Kapolres Banggai, AKBP Heru Pramukarno, SIK di aula Cakra Manggala Polres Banggai, Selasa (5/12) kemarin.

SJM menambahkan, berbekal sebagai pelajar pada salah satu SMK Kesehatan di Luwuk, dia langsung mendapat informasi bahwa Gastrul adalah obat mujarap untuk mengugurkan janin yang ada di dalam kandungan. Saat mengetahui hal tersebut, Ririlah yang paling penting dan berperan dalam proses pembelian obat tersebut.

Dengan bermodalkan uang Rp350 ribu dari SJM dan Rp150 ribu dari Bunga, Riri berhasil membeli 4 butir obat itu dari salah satu apotek di Luwuk. Kamis (9/11) sekira 14.00 Wita, Bunga pun mematuhi perintah sang mantan pacar untuk meminum 2 butir obat Gastrul dan memasukan 2 butir ke dalam alat vitalnya. Dibantu sang mantan pacar, alhasil janin itu keluar seperti yang diinginkan keduanya.

Lanjut SJM, karena takut ketahuan orang lain, dia pun memberitahukan orang tuanya yang ada di kampung halaman desa Tinonda, Kecamatan Lamala, untuk mengambil dan menguburkan anak mereka. Dan saat itu juga keinginan SJM diiyakan sang orang tua.

Kini keduanya harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka dan harus menjalani pemeriksaan di ruang PPA Polres Banggai.

“Mereka disangkakan dengan pasal berlapis yakni Pasal 194 undang-undang kesehatan, Pasal 75 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 346 KUHP dan Pasal 348 KUHP,” jelas Kapolres Banggai, AKBP Heru Pramukarno saat didampingi Kanit PPA Polres Banggai, Iptu Yogi kepada wartawan. (stv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.