Ironis, Lumbung Rotan Tapi Meubel di Palu Datangkan Bahan Baku dari Luar

0
149
sejumlah kreasi rotan yang dipamerkan di Pusat Inovasi Rotan Nasional (Pirnas), Kompleks KEK, Palu Utara. (Foto: Agung Sumandjaya)

PALU – Saat ini nama Kota Cirebon dan sejumlah daerah di luar Sulteng dikenal sebagai salah satu daerah terbesar produksi meubel nasional dari bahan rotan. Sekitar 80 persen bahan bakunya berasal dari wilayah Sulawesi Tengah.

Ini sangat ironis, karena usaha mebel rotan di Palu justeru belum bisa berproduksi secara besar-besaran, bahkan kesulitan bahan baku dan mendatangkan rotn dari luar. Ada apa ini?

Menanggapi masalah itu, Dinas Perindag Kota Palu menggelar pertemuan dengan para pelaku industri kecil menengah (IKM) yang bergelut di bidang meubel rotan dan para pengusaha rotan. Pelaku IKM dikumpulkan untuk mencari tahu mengapa IKM meubel rotan di Kota Palu dan sekitarnya belum bisa berkembang seperti daerah di luar Sulawesi Tengah.

Dari pertemuan ini diketahui, bahwa para pelaku usaha rotan yang ada, hanya sedikit yang mencari rotan hingga ke dalam hutan, melainkan menunggu dari para pengepul. Dari 42 pengusaha rotan yang terdata, diketahui hanya 8 perusahaan saja yang masuk hingga ke hutan.

Hal ini lah yang menyebabkan, pasokan untuk para IKM meubel rotan menjadi berkurang. Ini pula yang membuat, para pelaku IKM lebih memilih membeli rotan dari luar daerah, yang harganya murah, namun kualitasnya tidak sebaik rotan asli Sulawesi Tengah. Kepala Dinas Perindagkop Kota Palu, Farid mengungkapkan, sangat disayangkan, jika para pelaku IKM harus mengimpor dari luar Sulawesi Tengah, yang notabenenya daerah ini merupakan penyumbang 80 persen rotan di Indonesia.

Farid pun berharap, dari pertemuan dengan sejumlah IKM dan pengusaha rotan yang ada di wilayah Kota Palu dapat menemukan sebuah inovasi terbaru dan solusi bagi IKM agar kedepan tidak mengimpor Rotan dari kota-kota lain. Sebab Sulawesi Tengah merupakan penghasil terbesar Rotan.

Dari pertemuan itu, juga membuahkan beberapa rekomendasi, seperti perbaikan regulasi dari pemerintah. Contohnya, hotel-hotel yang ingin berinvestasi di Kota Palu, harus mengisi 10 persen dari perabotannya dengan produk berbahan baku rotan.

“Hal ini dalam rangka menggairahkan kembali para pengrajin, dan produk dari bahan rotan Kota Palu bisa menjadi salah satu unggulan di daerah ini,” tandas Farid.  (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here