Konsumsi Elpiji 3 Kg Bengkak, Subsidi Tambah Rp 1 Triliun

0
121
Ilustrasi

JAKARTA – Penyaluran elpiji tabung 3 kg bersubsidi hingga akhir tahun diperkirakan membengkak 1,6 persen dari kuota yang ditetapkan. APBNP 2017 menetapkan kuota penyaluran elpiji tabung melon tersebut 6,199 juta metrik ton.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyatakan, pemerintah terus berusaha menemukan sistem yang cocok agar penyaluran elpiji 3 kg bisa lebih tepat sasaran. Pemerintah bakal mencoba menjalankan sistem distribusi tertutup alias tidak dijual bebas. Hanya konsumen tidak mampu yang bisa membeli elpiji 3 kg bersubsidi.

’’Saat ini masih dievaluasi dengan Kementerian Sosial agar bisa dilakukan secepatnya. Untuk distribusi tertutup, data harus kuat,’’ ujarnya di gedung Kementerian ESDM kemarin (8/12). Kementerian ESDM bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan untuk memverifikasi data.

Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal ESDM Ego Syahrial menyebutkan, dari 25,5 juta warga yang layak menerima elpiji 3 kg bersubsidi, yang baru teridentifikasi sekitar 50 persen. ’’Tetapi, ada juga sekitar 128 kabupaten atau kota yang telah berkomitmen melarang PNS menggunakan elpiji 3 kg subsidi,’’ tuturnya.

Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Muchamad Iskandar menjelaskan, kenaikan volume 1,6 persen setara dengan 200 ribu metrik ton. Dia memerinci, selisih harga antara elpiji 3 kg bersubsidi dan elpiji nonsubsidi mencapai Rp 6.200 per kilogram. Diproyeksikan, ada tambahan anggaran Rp 1 triliun untuk elpiji bersubsidi. ’’Nanti mekanisme anggaran untuk tambahan itu dibahas BPK (Badan Pemeriksa Keuangan),’’ ungkapnya.

Adanya kelebihan tersebut membuat Pertamina berharap kuota elpiji 3 kg untuk tahun depan ditambah. Berdasar APBN 2018, kuota elpiji 3 kg mencapai 6,450 juta metrik ton. Jatah itu naik 5 persen jika dibandingkan dengan tahun ini 6,199 juta metrik ton. Pertamina mencatat konsumsi elpiji 3 kg PSO (public service obligation) pada tahun ini mencapai 6,5 juta metrik ton dan non-PSO 800 ribu metrik ton. Hingga akhir November, telah disalurkan 5,750 juta metrik ton elpiji 3 kg bersubsidi atau 93 persen dari kuota yang ditetapkan pada APBNP 2017.

Terkait dengan kelangkaan elpiji 3 kg bersubsidi di beberapa daerah, Kementerian ESDM menjamin stok aman hingga akhir tahun. Arcandra menuturkan bahwa stok elpiji Pertamina saat ini bisa bertahan selama 19–20 hari mendatang. ’’Pasokan tetap sama karena secara fluktuatif permintaan sudah bisa diukur di 20 ribu–20,4 ribu metrik ton per hari. Hanya, untuk antisipasi jelang akhir tahun, pada Desember stok elpiji sudah ditingkatkan menjadi 20,5 ribu metrik ton per hari,’’ jelas Arcandra.

Pihaknya mengakui, di beberapa daerah terjadi kelangkaan karena kendala distribusi. ’’Misalnya, di Gorontalo cuaca ekstrem sehingga distribusi susah, tapi sudah teratasi,’’ katanya.

Selain terkendala distribusi, kelangkaan elpiji 3 kg disebabkan kepanikan masyarakat akibat beredarnya isu ada elpiji 3 kg nonsubsidi atau Bright Gas 3 kg yang diluncurkan Pertamina tahun depan. Arcandra menegaskan bahwa adanya Bright Gas 3 kg tidak berdampak terhadap kuota penyaluran LPG 3 kg bersubsidi. (vir/c14/sof)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here