Ale Bantilan Dinobatkan Jadi Raja Tolitoli

0
176
Bupati Moh Saleh Bantilan saat dinobatkan sebagai Raja oleh Yapto Suryo Sumarno diatas sebuah batu besar, pada hari Minggu kemarin (10/12). (Foto: Ist)

TOLITOLI-Nuansa berbeda, tersaji pada perayaan Hari Ulang Tahun Daerah (Hutda) Kabupaten Tolitoli Ke 57 tahun ini. Pasalnya, momentum perayaan Hutda pada tahun-tahun sebelumnya digelar biasa-biasa saja, namun tahun ini tampak luar biasa.

Bentuk kesakralan tersaji pada kegiatan yang dipusatkan di kawasan pantai Gaukan, Kelurahan Nalu, Kecamatan Baolan.  Digelarnya prosesi adat yang mengukuhkan Bupati Tolitoli Moh Saleh Bantilan sebagai Raja ke 17 mengantikan almarhum ayahnya Hi Moh Anwar Bantilan yang telah wafat.

Penobatan raja atau Matanggauk tersebut, sesuai rencana dan kesepakatan dewan adat akan dinobatkan dan dikukuhnya oleh paman tertua Bupati Tolitoli yakni Harsono Bantilan, tepat pada puncak perayaan Hutda ke 57 yang jatuh pada 10 Nopember kemarin, tampak berubah. Karena Harsono Bantilan menyerahkan dan mempercayakan tanggung jawab menobatkan Raja Tolitoli ke 17 tersebut kepada koordinator raja-raja se Nusantara yaitu Yapto Suryo Sumarno yang secara khusus bertandang ke Kabupaten Tolitoli.

Berdasarkan pantauan media ini, sebelum dilakukan proses penobatan dengan menyerahkan mahkota di atas sebuah batu besar, yang telah dipersiapkan di  areal pelaksanaan pameran pembangunan pantai Gaukan, raja Tolitoli sebelumnya melaksanakan beberapa rangkaian kegiatan ritual adat, di rumah adat Tolitoli yang terletak di jalan poros kelurahan Nalu.

Selanjutnya Raja Tolitoli Moh Saleh Bantilan bersama istrinya kemudian ditandu bersama dan digotong menuju ke lokasi penobatan untuk melanjutkan beberapa prosesi adat sebelum dinobatkan menjadi raja.

Dihadapan tamu undangan dari berbagai daerah serta ribuan masyarakat yang hadir pada kesempatan itu, dibacakan riwayat penobatan 16 raja terdahulu sebelum menetapkan Moh Saleh Bantilan sebagai raja ke 17 pada 10 Desember 2017 kemarin, berdasarkan surat wasiat dari raja sebelumnya yang telah ditulisnya pada tahun 2012 sebelum wafat.

Ketua panitia pelaksana Iskandar A Nasir menjelaskan, penobatan raja Tolitoli ke 17 di atas sebuah batu (Lantung) besar memiliki makna filosofi dan diharapkan dapat menjadi doa dan harapan masyarakat Tolitoli atas kepemimpinan raja yang dapat memberikan perlindungan kepada rakyatnya.

” Lantung atau batu besar merupakan salah satu kekayaan alam yang banyak terdapat di daerah ini. Dari bentuk dan ukurannya yang begitu besar, Lantung berfungsi sebagai penghalang air yang mengalir deras dari atas pegunungan, sehingga terhindar dari bahaya longsor. Inilah hakekat yang kemudian menjadi alasan mengapa Gaukan (Raja) dinobatkan di atas batu,” jelas Iskandar Nasir.

Dijelaskan Iskandar, selain prosesi Matanggauk atau penobatan raja, seabrek rangkaian kegiatan sebelum puncak acara yang bertajuk Pesta Budaya Akbar (PBA) juga telah digelar oleh panitia. Diantaranya, pameran pembangunan, Festival kesenian, Fun Bike Anventure Togobuta, Lomba balap perahu katinting dan dayung, Lomba tangkap bebek, bakti sosial donor darah, lomba kebersihan tingkat OPD, instansi vertikal BUMN, BUMD dan kelurahan, lomba trompak panjang, hadang dan engran, lomba mewarnai tingkat TK dan SD. Semua pagelaran seni budaya, serta pelaksaan upacara Hutda ke 57, akan digelar di lapangan Haji Hayun pada Senin besok (hari ini, red)

Iskandar juga menjelaskan, tugas raja ke 57 kedepan, tidak ada kaitannya dengan tugas pemerintahan. Tugas raja dijelaskannya tidak lain adalah menjadi pemangku adat, yang akan berupaya melakukan pelestarian serta pengembangan tradisi, adat istiadat dan kesenian Tolitoli, agar tetap lestari dari generasi ke generasi.

Bupati Tolitoli, H Moh Saleh Bantilan, sekaligus Raja Tolitoli dalam sambutannya mengatakan, setiap pemimpin dan pemerintahan punya masanya untuk berbakti dan berbuat dengan bekerja keras serta bertekad membangun daerah tercinta ini ke arah yang lebih baik, demi mencapai kesejahteraan masyarakat Kabupaten Tolitoli yang berkeadilan.

” Tugas kita adalah melanjutkan estafet perjuangan tersebut, agar karya bakti kita semua bermanfaat bagi kepentingan masyarakat,” katanya.

Optimalisasi sumber daya alam untuk menjadikan Kabupaten Tolitoli sebagai destinasi wisata, kata Bupati, merupakan tema Hutda kali ini. Bukan hanya sekadar retorika belaka dan slogan tanpa makna, tetapi tema ini menjadi motivasi dan tekad kita untuk dapat bertindak dan bereaksi nyata dalam memanfaatkan sumber daya alam untuk kemakmuran rakyat.

Disebutkannya, sumber daya alam sebagai salah satu aset yang dimiliki daerah yang perlu dibenahi untuk dikembangkan sebagai potensi dan daya tarik wisata, agar memberikan manfaat bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), dan dapat digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan.

” Semua itu bisa tercapai jika kita dapat bersatu, saling mendukung dan bersinergi. Karena hanya dengan persatuan dan kesatuan dilandasi jiwa Bhinneka Tunggal Ika serta kerja keraslah maka kita semua akan dapat meraih cita-cita mewujudkan Tolitoli yang sejahtera, berkarakter aktif, adil, dan religius,” katanya.

Selain itu, semangat gotong royong dan kebersamaan, juga akan menjadi modal dalam melangkah kedepan menuju harapan yang dicita-citakan bersama. Berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang kebudayaan, serta bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selanjutnya Bupati juga  menyampaikan rasa bersyukur dan  ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para perintis terbentuknya Kabupaten Tolitoli, dan para mantan Bupati dan Wakil Bupati yang telah memimpin penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan. Selain itu juga Bupati Tolitoli menyampaikan Penghormatan dan ucapan terima kasih kepada para mantan pejabat yang pernah mengabdikan dirinya di daerah ini, para tokoh masyarakat, tokoh adat, politisi, cendekiawan dan akademisi, kalangan dunia usaha, insan pers, kalangan LSM, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, atas pengabdian, sumbangan pemikiran, dan peran sertanya sehingga mencapai kondisi daerah Kabupaten Tolitoli yang lebih maju dari sebelumnya.

” Mereka telah memberikan sumbangan pengabdian yang sangat berarti bagi daerah ini. Suatu pengabdian yang patut kembali menjadi renungan, sekaligus sebagai motivasi dan inspirasi bagi kita semua di usia Kabupaten Tolitoli ke-57 ini, untuk menggelorakan semangat maupun tekad melanjutkan pembangunan di daerah Kabupaten Tolitoli selama hayat masih dikandung badan,” sebutnya lagi.(yus/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here