Survei BPS: 2015 ke 2016, Ekonomi Donggala Turun 1 Persen

0
316
Ilustrasi grafik kemiskinan (@pojoksatu.id)

BERDASARKAN hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah atau angka kemiskinan di Kabupaten Donggala ‘dikhawatirkan’ setiap tahunnya mengalami peningkatan. Dari data survei tahun 2016 saja, secara persentase mencapai 18,59 persen atau angka absolutnya 55.600 jiwa warga miskin.

Kasi Statistik dan Distribusi BPS Kabupaten Donggala, M Room, menjelaskan, angka kemiskinan tersebut mengalami kenaikan setelah dibandingkan dari data hasil survei 2015 yakni 18,11 persen atau angka absolut 54 ribu jiwa.

Menurutnya, kenaikan angka kemiskinan ini karena adanya fenomena penurunan ekonomi di daerah, ditambah jumlah pengangguran terbuka pada tahun 2017 tercatat hingga 3,32 persen.

“Tingkat pengangguran di Kabupaten Donggala tidak begitu signifikan. Ini karena hampir semua sektor alami mampu menyerap tenaga kerja,” jelasnya.

Ditambahkan Room, dari hasil survei 2016 juga menyebutkan bahwa daya pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Donggala mengalami penurunan. Tahun 2015 pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,99 persen, sedangkan di tahun 2016 turun 1 persen atau 4,99 persen.

“Seharusnya, jika ekonomi tumbuh bagus, maka angka kemiskinan turun. Tapi, kondisi sebenarnya tidak demikian,” kata Room yang menambahkan, geliat sektor pertanian di Kabupaten Donggala juga cenderung mengalami penurunan, dimana pada tahun 2015 share terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 37,77 persen, di 2016 turun menjadi 36,60 persen.

Ia juga menyinggung soal pencanangan Donggala sebagai Kota Wisata, seharusnya bisa ikut mendongkrak peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya di bidang ekonomi pariwisata.

“Efek dari pencanangan Donggala Kota Wisata belum terlalu kelihatan, masih sangat kecil, share ke PDRB juga belum ada,” sindirnya.

Agar roda perekonomian di Kabupaten Donggala semakin dinamis, BPS kerap menyampaikan data atau hasil survei kepada pemerintah, sebagai upaya dukungan terhadap program-program pemerintah agar ekonomi Kabupaten Donggala bisa lebih baik. Saran itu, di antaranya perlunya mendorong pertumbuhan sektor industri dan jasa.

Untuk diketahui, standar penghitungan angka garis kemiskinan di antaranya dengan menghitung pengeluaran makanan yakni kebutuhan pokok seperti beras, ikan, sayur dan kebutuhan lainnya. Dengan kata lain, jika kebutuhan makanan sudah mencapai 2100 kalori maka itu sudah tidak lagi dikatakan miskin. Indikator miskin lainnya juga bisa dilihat dari kebutuhan sandang dan papan, seperti perumahan dan kendaraan.

“Di Donggala juga ada yang namanya kemiskinan natural, seperti mereka yang tinggal di gunung-gunung, berladang dan sebagainya. Tapi, ketika didatangi kita boleh ukur miskin, tapi mereka tidak mengakui miskin,” lengkapnya.(cr5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.