2015 Dibangun, Pasar Wakai Belum Difungsikan

0
461
Bangunan Pasar Wakai yang dibangun sejak tahun 2015, belum difungsikan karena akses jalan masuk ke pasar baru dibangun dan kondisinya kalau musim hujan berlumpur. (Foto: Murtalib)

AMPANA – Sudah sekira tiga tahun, Pembangunan pasar Wakai Kecamatan Una-Una Kabupaten Tojo Una-Una hingga Desember 2017 belum difungsikan alias dapat dinikmati oleh para pedagang setempat.

Pasalnya, gedung baru yang dibangun dengan dana miliaran tersebut belum memiliki akses penerangan (listrik) dan juga jalan yang memadai. Akses jalan menuju bangunan pasar baru Wakai, sebagian masih berlumpur bila musim hujan. Dan sebagian baru selesai ditimbun karena masih terlihat papan proyek lanjutan yang dibangun Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Touna.

‘’Nanti para pedagang di pasar lama akan dipindah ke pasar baru Wakai. Sudah lama bangunan pasar baru selesai tapi belum ada listrik dan juga akses jalan ke pasar yang masih pecek-pecek. Lama-lama bangunan bisa rusak kalau dibiarkan terlalu lama,’’ kata seorang warga Wakai yang mengaku bernama Hamin.

Kesangsian Hamin bukan tanpa alasan. Pasalnya, tidak jauh dari lokasi Pasar Wakai juga dibangun pusat kuliner yang kondisi bangunan sudah rusak dan dibiarkan mubazir. Padahal pembangunan pusat Kuliner di Wakai tersebut menggunakan uang rakyat. ‘’Belum sempat diresmikan, bangunan pusat kuliner di Wakai sudah rusak. Bagian dalam ruangan, sekat-sekatnya rusak berantakan dan sekeliling bangunan sudah ditumbuhi rerumputan. Kasihan program pembangunan kalau tidak bisa dinikmati oleh masyarakat,’’ kata Hamin sambil memperlihatkan kondisi bangunan yang rusak-rusak.

Dari pantauan Radar Sulteng, pembangunan pusat kuliner lokasinya bersebelahan dengan pelabuhan Feri di Desa Wakai Kecamatan Una-Una, Kabupaten Tojo Una-Una. Demikian juga, lokasi pasar baru Wakai, tidak jauh dari pembangunan Pusat Kuliner. Dari kejauhan terlihat tulisan Welcome dan juga tulisan Galeri Handcraft. Masuk ke dalam bangunan pusat kuliner, selain dinding penyekat banyak yang rusak, juga di lantainya banyak bekas-bekas kotoran ternak. Bahkan, di dalam bangunan pusat kuliner oleh masyarakat digunakan untuk memperbaiki perahu-perahu sehingga kondisi kumuh nampak dibangunan tersebut.

Melihat masih adanya program pembangunan yang belum difungsikan, warga masyarakat Wakai berharap, agar pemerintah Kabupaten maupun provinsi memberi perhatian khusus. Artinya, kapan program pembangunan bisa segera dirasakan oleh masyarakat kepulauan. Bahkan, warga juga meminta kepada aparat terkait (Polisi maupun Kejaksaan) untuk melakukan pengawasan di lapangan karena bagaimanapun program pembangunan di daerah terpencill seperti Wakai juga menggunakan uang Negara. ‘’Tugas aparatlah yang melakukan penyelidikan dan pengawasan. Kami hanya bisa menunjukan lokasi pembangunan yang katanya untuk masyarakat,’’ demikian Hamin menjelaskan. (lib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.