Lima Agama Kecam Tindakan Donald Trump

0
541
Donald Trump. (Foto: AP via jpnn.com)

JAKARTA –Pimpinan dari organisasi 5 agama di indonesia mengeluarkan pernyataan rikap resmi terhadap dinamika yang tengah berkembang di Palestina saat ini. Kelimanya satu suara mengecam tindakan sepihak Presiden AS Donald Trump di kantor PBNU, Jakarta, Jumat (15/12).

Dalam pernyataan tersebut, hadir  Ketua Konferensi Wali Gereja (KWI) Uskup Agung Igatius Suharyo, Ketua Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) Pdt. Henriette T. Hutabarat, Jandi Mukianto Wakil Ketua Wali Umat Budha Indonesia (Walubi), Wakil Sekretaris Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), Peter Lesmana, Pengurus Parisadha Buddha Dharma Nichiren SyoSyu Indonesia (NSI), serta dari wakil Islam Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj.

Dalam paparannya, Said Aqil mengatakan, bahwa pihaknya tidak menyangkal keberadaan Israel sebagai sebuah negara. Selama tidak mengabaikan kedaulatan dan hak-hak Palestina sebagai negara. “Kenyataanya ada negara bernama Palestina, ada yang bernama Israel, negara-negara dunia tinggal mendorong agar keduanya bisa hidup berdampingan,” katanya.

Said menuturkan, kedatangan Israel pada tahun 1948 ke Palestina memang menjadi sebuah tantangan bagi perdamaian. Semenjak itu, Tragedi kemanusiaan yang memakan korban jiwa maupun harta terus saja terjadi. Sementara masih ada pihak-pihak yang memundurkan jalan menuju perdamaian ”Ketika sudah ada kemajuan, ada tragedi lagi,” kata Said.

Saat ini, solusi kata Said adalah kembali pada Kesepakatan Oslo dan kembali ke Resolusi PBB. Said menyebut harga yang dibayar untuk mendamaikan kedua bangsa sudah sangat mahal. Presiden Mesir Anwar Sadat sendiri telah menjadi korban atas idenya memprakarsai kedamaian ”dua negara”

Alumnus Universitas Ummul Quro Makkah ini juga berharap para pemimpin negara-negara Arab segera sadar dan menghentikan semua konflik dan kepentingan. Tujuannya adalah untuk menggalang kekuatan yang cukup. “Kalau konflik terus nggak selesai-selesai kita (umat islam,Red) terus-terusan diremehkan,” katanya.

Said Aqil menyebut memang ada upaya komunikasi dari Kedubes AS beberapa waktu lalu. Secara khusus mengundang dirinya dan pengurus untuk datang ke Kedubes AS di Jakarta. Namun, Said menolaknya. “Kami diundang kesana (kedubes AS,Red) saya nggak mau, kalau mereka kesini (Kantor PBNU,Red) boleh,” katanya.

Uskup Suharyo mengungkapkan bahwa sikapnya sebagai Pimpinan Agama Katolik di Indonesia didasarkan pada setidaknya tiga hal, pertama sebagai warga Internasional yang diwakili oleh PBB, wajib patuh dan taat pada semua resolusi yang telah dibuat.

Kedua sebagai umat Katolik, Suharyo menyatakan bahwa umat Katolik satu suara dan mengikuti apa yang dinyatakan oleh Paus Fransiskus sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik di dunia. “Paus mengakui negara Palestina, itu eksplisit ya, Jelas,” katanya. Paus sendiri kata Suharyo tidak memiliki kepentingan politik apapun, hanya semata membela kemanusiaan.

Yang ketiga, kata Suharyo adalah kapasitasnya sebagai warga Indonesia. Pemerintah telah mengatakan sikap diplomatik resmi dalam pembelaan terhadap Palestina dan semua upaya perdamaian.

Uskup Agung pimpinan Gereja Katolik DKI Jakarta ini menegaskan bahwa dirinya tidak percaya terhadap perbuatan kekerasan apapun yang mengatasnamakan nubuwat kitab suci. Memang benar dalam iman Nasrani, penyelenggaran sejarah dipimpin oleh Tuhan YME, namun tetap ada peran manusia di dalamnya. “Allah nggak menuntun sejarah berdasrakan nubuwah, tergantung manusianya, mau damai apa perang,” pungkasnya.

Senada,  perwakilan Gereja Protesta Pdt. Henriette menyatakan bahwa upaya damai antara kedua negara tidak mungkin diintervensi oleh keputusan dari luar. Seperti yang tengah terjadi saat ini “Kalau pun ada solidaritas dari negara-negara luar, itu adalah fasilitasi, perundingan yang genuine yang resmi berasal dari kedua belah pihak,”katanya. (tau)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.