Ancaman Minamata di Palu Mengintai

0
411
Grafis hasil penelitian Budyanto N. Somba.

PALU – Masih ingat dengan tragedi lingkungan di Minamata, Jepang yang terjadi pada 1956 lalu? Di kota yang berada di barat daya Kyushu, ujung paling selatan Kumamoto Jepang tersebut, banyak warganya yang meninggal karena pencemaran lingkungan, akibat tingginya kadar Merkuri di laut.

Selain meninggal, juga banyak warga Minamata yang menderita. Bahkan sampai saat ini pun, masih ada warga Minamata yang hidup tetapi dengan kondisi cacat fisik. Kondisi tersebut dikenal dengan Penyakit Minamata atau Sindrom Minamata. Saking dahsyatnya tragedi di Minamata, nama penyakitnya, diambil dari nama daerah tersebut.

Ancaman yang menimpa warga Minamata tersebut, bukan tidak mungkin akan menimpa warga Palu, jika melihat tingkat pencemaran lingkungan di Teluk Palu saat ini.

Dalam tragedi yang terjadi di Minamata, berdasarkan berbagai referensi, diperoleh informasi bahwa sebanyak 2.265 individu di kawasan tersebut terserang dan dilaporkan 1.784 korban meninggal karena keracunan yang diakibatkan oleh merkuri.

Ancaman pencemaran di Teluk Palu ini, tidak lagi hanya sebatas wacana, tetapi sudah dibuktikan secara ilmiah. Mengutip data penelitian yang pernah dilakukan Budyanto N. Somba, mahasiswa Pascasarjana Universitas Tadulako, diperoleh informasi, bahwa kandungan merkuri (Hg) dan kadmium (Cd) di Teluk Palu, sudah sangat mengkhawatirkan.

Penelitian yang dilakukan Budyanto Nura Somba ini, diasistensi oleh Dr Fadly Y. Tantu dan  Dr Zakirah  Raihani Ya’la. Keduanya adalah staf pengajar di program pascasarjana Universitas Tadulako. Dalam penelitian yang juga sudah dijurnalkan tersebut, terurai hasil penelitian yang menunjukkan, bahwa tingkat pencemaran di Teluk Palu, sudah kian mengkhawatirkan.

Budyanto Nura Somba, mengatakan bahwa penelitian yang dia lakukan, dengan melihat penentuan kapasitas asmilasi (fisik-kimia) yang diwakilkan oleh parameter BOD5, COD (parameter kimia) dan TSS (parameter fisik) pada Teluk Palu. Caranya, dengan dilakukan dengan mengukur langsung di lapangan (Insitu) debit sungai/outlet dan di laboratorium kosentrasi parameter (BOD5, COD, dan TSS).

Hasilnya, berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh informasi bahwa beban limbah Teluk Palu telah melewati baku mutu lingkungan. Standar baku mutu lingkungan tersebut, berdasarkan SK MENKLH No 51 Tahun 2004.

“Hasil penelitian kami, juga menujukkan bahwa beban limbah yang masuk telah melewati kapasitas asimilasinya untuk parameter BOD5, COD, dan TSS parameter organik dan kimia,”katanya lagi.

Hasil penelitian ini kata Budyanto, sudah cukup memberikan gambaran bahkan kesimpulan, bahwa perairan Teluk Palu telah mengalami masukan limbah (pollutant) yang cukup banyak dan tidak mampu diasimilasi/direduksi lagi.

“Dampaknya, bisa sangat berbahaya. Tidak berlebihan, kalau ada anggapan, bahwa kasus lingkungan yang terjadi di Minamata, bisa saja menimpa kita yang ada di Kota Palu. Utamanya mereka yang selama ini, banyak beraktvitas di wilayah Perairan Teluk Palu,”urai Budyanto.

Kata Budyanto, bahwa hasil pengukuran Hg atau merkuri di Teluk Palu menunjukkan bahwa wilayah Perairan Pantoloan mengalami pencemaran, dapat diduga karena disebabkan oleh aktivitas pembakaran batu bara pada PLTU Mpanau.

“Kami sampai dengan tahap ini, menggunakan kata diduga. Sebabnya, kami tidak melakukan investigasi soal asal pencemaran, tapi penelitiannya lebih kepada pencemarannya,”tegasnya.

Namun kata Budyanto, dari studi referensi yang dilakukan, diperoleh informasi bahwa Merkuri yang terbentuk dari hasil pembakaran batu bara yang berbentuk oksida (Hg 2+), mempunyai waktu tinggal di udara hanya beberapa hari saja, disebabkan karena tingkat kelarutan yang tinggi dari (Hg 2+) di dalam uap air yang ada diudara dan masuk ke kolom perairan melalui difusi dan hujan.

Selain menemukan kandungan merkuri, dalam penelitiannya, Budyanto juga mendapatkan temuan, bahwa logam berat jenis kadmium (Cd), juga ditemukan di sekitar wilayah perairan Mamboro. Tingginya konsentrasi kadmium di Teluk Palu, diduga kuat diakibatkan oleh aktivitas PLTU Mpanau yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar pembakar reaktor.

Mengutip hasil penelitian yang sama dan pernah dilakukan Siboni, dkk pada, 2004, bahwa pemindahan (loading) batu bara dari kapal pengangkut ke daratan menyebabkan pencemaran kadmium di perairan.

Selain itu Cd di Teluk Palu juga diduga berasal dari air sisa pembakaran boiler yang dibuang ke Teluk Palu. Kondisi ini sesuai, dengan penelitian yang dilakukan Zavala, dkk pada 2004, bahwa buangan air sisa hasil pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara mengandung banyak kadmium dan tidak melalui treatment sebelum dibuang.

Diungkapkan pula, bahwa pada setiap gram batu bara mengandung 2 ppm kadmium. Selain dari batu bara sumber-sumber pencemaran ini berasal dari aktivitas manusia di di daerah pesisir berupa aktivitas buangan limbah dari industri dan limbah pertanian yang berasal dari pupuk superphospat mengadung kadmium bahkan ada yang sampai 170 ppm.

“Tapi yang paling tinggi kontribusinya, adalah dari aktivitas pembakaran dan pemindahan batu bara di PLTU,”ungkapnya lagi.

Kata Budyanto, dalam rekomendasinya, bahwa perairan Teluk Palu telah mengalami pencemaran, untuk itu perlu dilakukan upaya pengendalian yang komprehsensif dan terintegrasi agar dapat memberikan dampak yang nyata terhadap upaya pengendalian pencemaran di Teluk Palu.

“Juga perlu ada upaya yang komperhensif untuk semua pihak, agar karunia Tuhan yang begitu indah ini, jangan justru menjadi sumber bencana,”demikian Budyanto.(hnf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.