Polisi Sebar Foto DPO Pembunuh Siswi SMAN 1 Parigi Utara

0
577
Polisi sedang memperlihatkan selebaran gambar DPO pembunuh Rina (17), di Desa Toboli Barat. (Foto: Amirullah)

PARIMO–Aparat Polres Parimo, telah menyebar foto Daftar Pencarian Orang (DPO) yang merupakan tersangka pembunuh Rina (17), siswa SMAN 1 Parigi Utara yang tewas di semak-semak areal perkebunan warga Desa Toboli Barat. Tidak lain, pelakunya merupakan kakak iparnya sendiri.

Kepala Polres Parimo mengungkapkan, Jufri alias Ady suami dari kakak kandung korban telah ditetapkan sebagai tersangka, berdasarkan keterangan sejumlah saksi yang telah diperiksa.

Dia juga meminta, pelaku segera menyerahkan diri kepada pihak kepolisian, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sebab, yang bersangkutan telah masuk dalam DPO, yang telah disebarkan ke seluruh Polres di wilayah Polda Sulteng, dan meminta bantuan mereka untuk melakukan penangkapan dan menyerahkan diri kepada pihaknya, apabila menemukan pelaku.

Menurut dia, keberadaan pelaku berlum diketahui namun pihaknya terus berupaya mengerahkan anggotanya untuk melakukan pengejaran agar pelaku segera diamankan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sampai saat ini pihaknya belum mengetahui pasti apa motif pelaku, hingga tega melakukan tindakan kriminal tersebut.

“Pelakunya tidak lain adalah kakak ipar korban sendiri. Motifnya belum kami ketahui, apa yang mendasari pelaku melakukan itu. Makanya kami terus melakukan pengejaran,” ungkapnya, ketika ditemui, Kamis (21/12).

Pelaku dikenakan Pasal 340 KUHP, pembunuhan berencana karena berdasarkan hasil penyelidikin ada jeda waktu yang dipersiapkan untuk melakukan tindakan tersebut. Kasus itu diduga telah direncanakan bukan seketika, dan sepertinya pelaku juga telah melakukan survey terhadap jalur yang dilalui korban saat akan berangkat ke sekolah.

“Yang bersangkutan sudah tahu jam berapa korban melintas di jalur itu, dan ada saksi yang melihat pelaku dan korban bertemu di jalur itu, dihari disaat hilangnya korban. Bahkan, ditemukan baju di sungai saat anggota melakukan penyisiran, dan istri yang diduga pelaku juga membenarkan itu miliknya. Anehnya lagi, secara mendadak pelaku berpamitan akan mencari pekerjaan di Kalimantan, dengan membawa seluruh barang berserta fotonya, terkesan ingin menghilangkan jejak,” tuturnya.

Hasil otopsi tim dokter gabungan Polda Sulteng dan Bhayangkara Makassar, disimpulkan penyebab kematian korban juga bukan karena keracunan. Dalam otopsi yang dilakukan pihaknya juga memeriksa apakah korban Rina sedang mengandung, ternyata tidak. Bahkan diorgan intim korban tidak ditemukan sperma yang menempel, sehingga disimpulkan korban tidak diperkosa.

Tetapi pada bagian hidung jelasnya, ditemukan pendarahan akibat tindakan kekerasan yang kemungkinan terjadi saat korban melakukan perlawanan terhadap pelaku. Bahkan untuk mempercepat kematian, ada bekas jeratan tali di leher korban.

“Sayatan benda tajam juga tidak ada berdasarkan hasil otopsi. Menjadi masalah sayatan itu tidak bisa teridentifikasi karena tubuh korban sudah rusak,” jelasnya.(ami)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.