Merayakan Natal di Jerusalem, Melewati Ketegangan di Dua Sisi Perbatasan

0
1217
Anak-anak yang mengikuti parade perayaan Natal di depan Gereja Nativitas, Betlehem, kemarin (24/12). (Foto: Indria Pramuhapsari /Jawa Pos)

Menuju Jerusalem, pemeriksaan di sisi Jordania ketat, tapi di sisi Israel jauh lebih bikin ”senam jantung” lagi. Berikut catatan wartawan Jawa Pos Grup INDRIA PRAMUHAPSARI yang tengah merekam suasana Natal di sana.

PENGUMUMAN itu sebenarnya disampaikan Eko Put secara datar saja. Tapi, tetap saja muncul efek ketegangan yang tak terelakkan.

”Sebentar lagi kita sampai di perbatasan Jordania-Israel. Akan ada pemeriksaan keamanan,” kata Eko, pemandu wisata yang mengantarkan rombongan turis rohani asal Indonesia.

Kami langsung deg-degan. Beberapa saat sebelumnya, Eko mengajak kami menyanyi dan bertepuk tangan. Mungkin itu cara dia untuk meredam ketegangan. Sebab, dia pasti tahu, sebagian besar anggota rombongan belum tahu, pemeriksaan macam apa yang akan dilewati.

Begitu bus berhenti di pos pemeriksaan Jordania, wajah kami langsung tegang. Seorang petugas keamanan naik ke bus. John Reyaan, turis asal Jakarta yang tidak pernah sedetik pun melepaskan kamera dari tangannya, langsung mengabadikan momen itu.

”No,” kata petugas yang memakai rompi hitam tersebut sambil menatap tajam ke arah John.

Yang diteriaki langsung merasa telah salah langkah. Dengan segera, dia menghampiri petugas tersebut dan menyodorkan kamera. ”Sorry,” kata pria berkacamata tersebut.

Saat itu keheningan langsung menyergap seisi bus. Semua mata menatap kejadian di depannya. Tanpa kata, dia langsung mengambil kamera John, memeriksanya, dan menghapus gambar yang baru saja terekam di sana.

Sesaat kemudian, petugas diam. Dia menatap John. Sekali lagi John minta maaf. Petugas itu masih tetap diam. Tapi, sejurus kemudian, dia menyerahkan kamera tersebut kembali kepada John.

Dengan cepat, petugas itu kemudian memeriksa paspor penumpang satu per satu. Wajah kaget para penumpang berubah cemas. Untung, pemeriksaan paspor berjalan lancar. Sampai kemudian, petugas tersebut turun dari bus.

Wajah-wajah cemas para penumpang sedikit demi sedikit berubah datar. Belum lega. Mereka masih takut. Mereka merasa, pemeriksaan di sisi Jordania akan menegangkan.

Bus lantas berjalan ke kompleks perbatasan Jordania. Sampai di sebuah pos, bus berhenti lagi. Semua penumpang diminta turun dengan seluruh barang bawaan. Koper-koper besar dan tas kabin juga diturunkan.

”Kita akan melalui pemeriksaan X-ray. Sebaiknya jaket, jam tangan, dan ikat pinggang dilepas saja biar lebih cepat,” pesan Eko.

Tidak seperti pemeriksaan di bus, pemeriksaan X-ray jauh lebih santai. Hanya ada satu petugas di bagian pemeriksaan X-ray. Perempuan. Dan, dia memeriksa layar sambil bertelepon. Jauh dari kesan serius. Semuanya lolos dari pemeriksaan X-ray.

Di ujung lain, ada sebuah pintu. Mereka yang baru saja lolos pemeriksaan langsung menuju pintu tersebut. Mereka yakin itu pintu keluar. Sambil menggeret koper mereka, para anggota rombongan yang wajahnya mulai menampakkan kelegaan itu berjalan menuju bus.

”No. Stay there,” teriak seorang petugas sambil mengangkat sebelah tangannya, tanda berhenti.

Jantung 22 anggota rombongan yang berasal dari beberapa kota di Indonesia itu berdebar kencang. ”Busnya sedang diperiksa,” kata seorang di antaranya.

Dari jarak sekitar 5 meter, mereka menyaksikan dua petugas turun naik memeriksa bus. Bagasi yang kosong pun tidak luput dari pemeriksaan.

Tak lama kemudian, all clear. ”Aman. Silakan masuk bus lagi,” kata Khaled, pemandu wisata lokal asal Jordania yang memandu kami dari Bandara Queen Alia, Amman.

Satu per satu, para wisatawan yang mulai bisa tersenyum itu mengembalikan koper-koper ke bus. Mereka membawa tas kabin kembali masuk bus.

Pemeriksaan berlanjut ke pos lain. Pos imigrasi. Sekali lagi, paspor diperiksa. Di kantor imigrasi perbatasan itu, ada tiga konter. Tapi, hanya dua yang buka.

”Your passport. See here. You can see it? Can?” kata petugas di konter pertama yang dikhususkan bagi turis asing.

Yang dia maksud adalah alat perekam iris mata. Setelah menyerahkan paspor, si pemilik wajib menatap alat perekam iris mata itu untuk keperluan biometri. Tak sampai tiga menit, pemeriksaan paspor rampung.

Di pos itu, Khaled berpisah dengan rombongan. Pemandu wisata asal Jordania tak boleh ke perbatasan. Hanya pengemudi bus yang diizinkan.

”Bapak/Ibu, nanti tolong paspornya disiapkan ya. Kita akan diperiksa lagi di sisi Israel,” kata Eko.

Menurut dia, pemeriksaan di sisi Israel bakal lebih ketat lagi. ”Tapi, tidak perlu panik, tenang saja. Oh ya, jangan ambil gambar ya,” kata Eko.

Informasi itu disambut dengan diam. Para penumpang kembali tegang. Atau takut. Kisah tentang pasukan keamanan Israel pun langsung memenuhi benak. Jantung kembali berdebar kencang.

Apalagi, sebelum meninggalkan Jordania, bus dihentikan lagi oleh seorang petugas yang lantas naik bus dan memeriksa paspor setiap penumpang. Di sisi Jordania, paspor turis asing memang diperiksa tiga kali.

Dan, tibalah episode pemeriksaan keamanan di sisi Israel. Dari sisi Jordania, bus berhenti di daerah tak bertuan di atas Sungai Yordan alias Sungai Yarmuk. Ada palang pintu yang tertutup di pos berbendera Israel itu. Pengemudi harus menunggu palang terbuka sebelum melanjutkan laju bus.

”Nanti Aden (nama sopir bus) hanya akan mengantarkan kita sampai ke pos. Setelah menjalani pemeriksaan, kita akan dijemput bus dan pemandu wisata dari sisi Israel. Bus Jordania hanya sampai sini,” terang Eko.

Setelah menunggu selama sekitar 15 menit, dari sisi Israel datang dua mobil. Satu sedan dan satu lagi jenis SUV. Setelah itu, palang dibuka. Bus pun melaju ke dalam.

Hanya 5 meter. Sebab, bus harus diperiksa. Seorang petugas memeriksa bus dengan detektor logam. Kali ini tidak ada petugas yang naik ke bus untuk memeriksa paspor.

Tapi, petugas itu dua kali mengelilingi bus. Setelah dinyatakan aman, bus melaju ke kompleks imigrasi Israel.

Ada dua bangunan utama di sana. Bangunannya jelas lebih bagus daripada kantor imigrasi Jordania. Dan, petugasnya lebih banyak.

Rombongan turis asing dan koper-koper plus bawaan masing-masing berbaris memasuki kantor imigrasi. Seluruh proses pemeriksaan X-ray dan paspor terpusat di bangunan sebelah kanan tersebut.

Di dalam ruangan ada 12 petugas. Seorang di antaranya berpakaian preman. Pemeriksaan pertama adalah X-ray. ”Biasanya ada random check. Ada koper yang ditahan untuk kemudian dibuka dan diperiksa semua isinya,” kata Eko lagi.

Terkadang, lanjut dia, ada juga pemeriksaan identitas. ”Tapi, tidak semuanya. Kita berdoa saja,” kata Eko menjelang pemeriksaan.

Kalimat ”kita berdoa saja” itu justru kian menambah suasana tegang. Wajah-wajah panik bermunculan di antrean turis menuju pemeriksaan X-ray.

Sebelum koper dinaikkan ke ban berjalan X-ray, ada petugas perempuan yang memeriksa paspor. Wajahnya cantik, tapi galak.

Satu per satu kami diperiksa. Ada beberapa orang yang paspornya ditahan setelah petugas itu menanyakan nama lengkap.

”Speaking English?” tanyanya kepada saya.

Setelah saya jawab yes, dia menanyakan nama lengkap. Saya menjawab dengan jelas. Eh, tapi dia malah menahan paspor saya. Oops! Nyali saya langsung ciut. Saya pun melewati X-ray dengan ekspresi tegang.

Pemeriksaan X-ray berjalan mulus. Lantas, petugas yang membawa paspor saya meneriakkan nama saya. Saya mendatanginya. Dia minta saya membawa koper saya ke lokasi X-ray.

Deg! Jantung saya rasanya mau copot. Apalagi, turis lain hanya bisa menatap saya dalam diam. ”Ah, hanya random checking biasa,” harap saya.

Setelah koper saya ada di hadapan petugas perempuan itu, dia memerintahkan untuk membuka. Sekali lagi dia bertanya, apakah saya paham bahasa Inggris. Saya jawab iya.

Dia pun berusaha memastikan apakah semua barang di dalam koper itu milik saya. ”Nobody ask you to bring their things? Anything?” katanya.

Saya pun menjawab ”tidak” dengan mantap. Dia lantas memeriksa barang-barang di dalam koper. Termasuk Alkitab. Petugas itu membolak-balik lembaran Alkitab yang saya bawa. Sekitar 10 menit kemudian, petugas itu mengucapkan empat kata yang membuat saya lega. ”Okay. You can go,” ucapnya.

Betapa leganya saya. Pemeriksaan koper acak dan wawancara singkat nan menegangkan berakhir juga. Setelah itu, saya melanjutkan langkah saya ke bagian pemeriksaan paspor yang letaknya berseberangan dengan bagian X-ray.

Saya antre di belakang turis lain. Satu per satu mereka maju. Ternyata, petugas di konter juga rewel. Dia menanyakan identitas semua turis yang bisa berbahasa Inggris. Termasuk saya.

Nama lengkap, nama ayah, nama ibu, ditanyakan. Saat saya jawab, petugas itu rupanya tidak terlalu mendengar. Saya pun mengulanginya, lebih keras.

Namun, lelaki berwajah judes itu mengaku tak bisa mendengar suara saya. Saya pun mengulangi lagi nama saya dengan berteriak. ”Ah. I still cannot hear you,” katanya seraya menyerahkan paspor saya yang sudah dia sisipi kartu izin seukuran KTP.

Saya pun mengambil paspor saya, balik kanan sambil nyengir. Dalam hati, saya berkata, ”Sekarepmu, Pak.”

Setelah dua kali dijudesi dan dipelototi dua petugas imigrasi Israel, satu perempuan dan satu laki-laki, saya pun melenggang santai ke pemeriksaan terakhir. Yakni, pemeriksaan ulang paspor dan capnya.

Kali ini, 3 petugas, 2 lelaki dan 1 perempuan, memeriksa dokumen saya dengan santai. Si petugas perempuan membuka lembaran-lembaran paspor saya sambil tersenyum. Lancar.

Bersama rombongan, saya pun menggeret koper dan barang bawaan ke bus. Semua orang semringah. Lewat sudah pemeriksaan supertegang di sisi Israel.

Di dalam bus, kami saling bercerita tentang pemeriksaan yang baru kami lewati. Rupanya, seorang turis yang lain, Damar, juga diperiksa kopernya seperti saya. Dan, dia membawa rice cooker. Bapak yang berasal dari Batam itu pun diserbu dengan berbagai pertanyaan.

Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan kalimat yang menjelaskan bahwa alat itu dia bawa untuk memasak. Petugas curiga. Tapi, petugas lantas menemukan beras di dalam koper tersebut.

Baru dia percaya kepada keterangan bapak yang berwisata bersama anak, istri, ipar, dan keponakannya itu soal panci penanak nasi tersebut. ”Itu untuk keponakan saya karena dia harus makan nasi,” katanya. Kami tertawa mendengar kisahnya.

”Anak saya malah sampai ditanyai nama mbahnya. Wis jan,” kata Pak Seno, turis asal Semarang yang bepergian bersama istri dan dua anaknya.

Eko mengatakan, petugas memang biasanya menanyakan identitas sesuai isian biodata saat aplikasi visa. Setelah drama imigrasi di perbatasan Jordania dan Israel, akhirnya kami tiba di tujuan: Israel. (*/c10/ttg/jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here