Diumpan Ayam, Buaya Berkalung Ban Muncul

0
18754
Buaya berkalung ban motor saat di umpan seekor ayam oleh warga sekitar di dekat Jembatan II, Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/1). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Seekor ayam menjadi santapan buaya yang berkalung ban, Kamis (4/1). Awalnya, buaya berkalung ban motor ini sedang berjemur, di bawah terik matahari Kota Palu, yang panasnya sekitar 30 derajat celcius.

Kurang lebih satu jam berjemur, warga yang sudah berkerumun melihat si buaya sontak berteriak saat buaya mendekati ayam. Tidak sampai semenit, satu dua langkah naik ke daratan yang berada di pinggir sungai, langsung hap. Ayam potong milik warga dengan kaki kiri terikat tali itu menjadi santapan bagi si buaya.

“Biasa memang diberi makan ayam oleh warga, tapi ayam yang hidup, kalau  ayam sudah mati  ini buaya tidak doyan,” kata salah seorang warga, Gafur, ditemui di dekat Jembatan 2.

Warga setempat mengaku tidak sering memberi makan buaya tersebut. Hanya sesekali, jika memang terpaksa. Kadang seperti ada relawan atau LSM pencinta satwa yang ingin menyelamatkan, barulah diberi umpan. Namun beberapa kali upaya dilakukan, hanya terbuang sia-sia karena si buaya yang ditunggu tidak muncul.

“Kurang tahu juga ini buaya, saat ada yang ingin menolong malah tidak muncul, saat tidak ada yang menolong malah muncul,” sambung Gafur.

Berbagai asumsi muncul di tengah-tengah masyarakat bahwa buaya berkalung ban ini mempunyai keanehan karena  saat ada relawan yang ingin menolongnya justru tidak muncul. Adanya ban dilehernya juga membuat anggapan bahwa buaya ini ajaib. Banyak masyarakat yang mengaitkan tentang hal-hal mistis soal buaya berkalung ban ini. Ditambah lagi warga sekitar mengakui sering melihat buaya putih menampakkan tubuhnya di titik-titik tertentu sekitar sungai yang membelah Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Namun, masyarakat juga beranggapan bahwa ban dilehernya karena ulah manusia sendiri yang membuang sampah dengan sembarangan. Radar Sulteng mencoba mencari tahu jenis ban yang berada dileher buaya. Setelah mendapatkan beberapa foto yang jelas dan bertanya ke pemilik bengkel, jenis ban itu diperkirakan memiliki diameter 14 jenis Aspira SPR 31.

Buaya di sungai Palu memang sudah ada sejak  lama. Sungai Palu adalah sungai yang membelah Kota Palu. Sungai Palu memiliki panjang 90 km, dengan kedalaman yang belum banyak diketahui oleh warga dan BKSDA sendiri, lebarnya pun beragam sekitar 10 sampai 20 meter. Mengalir dari tenggara ke barat laut mengikuti alur lembah panjang Patahan Palu Koro (sumber wikipedia). Di dalamnya menurut BKSDA Sulteng ada sekitar 21 ekor buaya. Diantaranya 17 buaya dewasa, dan 4 ekor buaya berukuran kecil, berukuran sekitar 50 sampai 60 cm. Khusus buaya berkalung ban, BKSDA menyebutkan memiliki panjang  lebih 3 meter dan berkelamin jantan.

“Buaya 21 ini yang dapat terlihat, karena bisa saja masih banyak yang bersembunyi di dalam sungai. Jadi kemungkinan besar jumlahnya lebih dari 21,” kata Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulteng, Haruna saat dikonfirmasi Radar Sulteng, kemarin.

Ada empat jembatan yang menghubungkan antara timur dan barat Kota Palu. Yaitu jembatan I, II, III dan IV. Dari keempat jembatan ini, buaya yang berkalung ban sering menampakkan tubuhnya di jembatan II dan IV. Bahkan, tak jarang buaya berkalung ban ini sampai berkeliaran di Teluk Palu, berjarak sekitar 2 kilo dari muara sungai Palu. BKSDA sampai memberi status waspada bagi masyarakat yang sering mandi di sekitar  Pantai Teluk Palu karena daya jelajah buaya muara semakin luas.

“Karena banyak sungai-sungai kecil di bibir Teluk, airnya pasti masih payau,” lanjut Haruna.

BKSDA Sulteng sendiri berpendapat bahwa persedian makanan di dalam sungai sampai muara masih cukup banyak bagi habitat buaya muara ini. Sehingga tak perlu warga memberikan makan secara rutin bagi si buaya.

“Di habitatnya sangat banyak makanan seperti ikan, dia akan tinggalkan habitatnya kalau makanannya kurang,” sebut Haruna.

Dia menjelaskan, dari pengamatan pihaknya terdapat sarang buaya di dalam sungai tepat di sekitar lokasi Jembatan II. Pasalnya, tidak jauh dari jembatan yang menghubungkan wilayah Tatura Selatan dan Tavanjuka ini terdapat sisa jembatan beton yang ambruk. Jika air sungai sedang tidak banjir, maka bekas tembok jembatan akan terlihat separuh. Dalam beberapa hari terakhir, memang buaya berkalung ban selalu muncul dan menghilang di bekas jembatan tersebut. Di lokasi itu juga tempatnya untuk berjemur.

“Itu dulu bekas jembatan. Nah, disitu sarangnya,” terang Haruna.

Selama ini, konflik buaya dan manusia baik di Sungai Palu maupun Teluk Palu sering terjadi, bahkan sudah memakan korban jiwa. Adalah seorang nelayan yang mencari ikan di bibir pantai Teluk Palu pada malam hari. Nelayan tersebut membuka jaringnya, tak disangka buaya saat itu masuk ke dalam jaring. Karena merasa terganggu buaya pun mencoba memberontak sampai si nelayan tergigit. Beberapa jam kemudian ditemukan nelayan sudah tak bernyawa, saat diotopsi ada bekas gigitan di tubuhnya.

“Buaya ini tidak akan mengganggu kalau dia tidak merasa terancam,” kata Haruna.

Lanjut Haruna, kualitas air dan banyaknya persediaan makanan di habitat buaya muara di Palu masih sangat baik, sehingga mendukung perkembangbiakan buaya. Namun pada dasarnya sifat hewan cenderung menghindari konflik dengan manusia kecuali ketika mereka merasa terganggu atau terancam. Haruna juga meyakini, serangan buaya bukan dikarenakan jumlah makanan mereka di alam berkurang, lantaran jasad korban seorang nelayan yang diterkam ditemukan dalam kondisi utuh alias tidak dimakan oleh buaya.

“Pada prinsipnya kita meyakini binatang itu, asal tidak diganggu atau dia merasa terancam maka tidak akan terjadi apa-apa, kerenanya butuh kehati-hatian manusia saat beraktivitas di daerah yang jelas-jelas ada buaya di situ,” ungkap Haruna.

Untuk langkah awal, kata Haruna lagi, masyarakat diminta agar tidak melakukan aktivitas di wilayah kekuasaan buaya pada waktu aktif-aktifnya sedang mencari makan. Seperti pada sore, malam hari sampai subuh.

Disinggung soal penanganan satwa yang terlibat konflik dengan manusia, Haruna membenarkan adanya pengecualian dimana satwa boleh dibunuh bila memang membahayakan keselamatan manusia. Hal itu berlaku, sekalipun satwa tersebut dilindungi undang-undang. Namun Haruna mengakui BKSDA sendiri belum terpikir dengan upaya tersebut.

“Ini satwa dilindungi, kita berupaya untuk menyelamatkannya tanpa melukainya sedikitpun,” jelasnya.

BKSDA Sulteng merasa serba salah dalam imbauannya kepada warga yang beraktivitas setiap hari di Sungai dan Teluk Palu yang menjadi habitat serta wilayah jelajah buaya muara. BKSDA sebenarnya ingin masyarakat bisa mengurangi aktivitas di sungai maupun di Teluk Palu.

“Kita melarang, tapi banyak warga yang mengais rezeki berupa pasir maupun kerikil sungai, jadi serba salah,” tambah Kasubag TU BKSDA Sulteng, Mulyadi

Langkah awal, BKSDA dalam mencegah atau sekadar mengingatkan kepada warga untuk tidak banyak beraktivitas di wilayah yang menjadi jelajah buaya muara ini dengan memasang papan imbauan di titik-titik tertentu. Ke depan, Mulyadi mengakui masih ada beberapa titik yang akan dipasang, apalagi tingkat konflik antara buaya dan manusia akhir-akhir ini bisa dikatakan meningkat.

“Mungkin tidak berpengaruh, tapi kita sudah berusaha. Habitatnya juga di sana, kita tidak bisa ganggu, sama halnya kita manusia mengganggu orang yang sudah lama menetap di kampung halamannya,” ujar Mulyadi.

Menurut Mulyadi, sering kali pihaknya meninjau langsung lokasi di Sungai Palu. Dimana lokasi yang biasa warga memancing dan juga menambang pasir dan kerikil. Untuk para penambang pasir kata Mulyadi, hampir setiap hari turun ke Sungai dan selalu berpapasan dengan buaya, sehingga mereka harus tahu apa yang dilakukan saat itu. Tercatat penambang pasir juga pernah sekali mendapat serangan buaya, saat itu si penambang mengira bahwa dia sedang memegang sebatang kayu, namun tak disangkannya itu adalah buaya.

Mulyadi menyebutkan, biasa kalau sudah saling berdekatan sekali dengan buaya penambang pasir memilih untuk berdiam diri. Artinya,  jangan bergerak bahkan tidak membuat gerakan sekecil apapun.

“Karena jika ada gerakan, si buaya ini mungkin merasa terganggu atau terancam dan bisa saja langsung menyerang,” tuturnya. (acm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.