Cerita Penambang Pasir, yang Bekerja Bersama Buaya Disampingnya

0
1346
Seekor buaya sedang berjemur tidak jauh dari aktivitas para penambang pasir di dekat Jembatan II, Palu, Sulawesi Tengah, belum lama ini. (Foto: Mugni Supardi)

Kehidupan manusia saling berdampingan dengan makhluk hidup lainnya. Begitupun potret dari penambang pasir dan buaya muara yang sudah sejak lama berada di Sungai Palu, Sulawesi Tengah. Meski sering melihat keberadaan buaya muara muncul tidak jauh dari lokasi mereka menambang, para penambang merasa selama buaya tidak diganggu pasti aktivitas mereka di dalam air berjalan dengan lancar.

Laporan: Mugni Supardi, Palupi

BUAYA yang kerap terlihat di sungai Palu, sore itu, kembali menampakan dirinya di sekitar lokasi penambangan pasir di Kelurahan Palupi. Sontak, kemunculan buaya ini, kembali menjadi pusat perhatian warga yang kebetulan melintas di Jembatan II, Jalan I Gusti Ngurah Rai.

Namun kemunculan buaya ini, tidak membuat sejumlah penambang pasir khawatir, dan terus saja bekerja mengambil pasir di dasar sungai. Mereka juga tidak seperti warga lainnya, yang penasaran akan kemunculan buaya itu. Para penambang, tetap fokus bekerja mengumpulkan pasir. “Habitatnya memang, sehingga tidak heran kalau dia (buaya) sering muncul,” teriak Asrun, penambang pasir yang ketika itu berada di sungai.

Asrun tidak sendiri, dia bersama para penambang pasir yang bekerja menggunakan mesin penyedot pasir dan dengan cara manual menggunakan ember, setiap harinya memang menggantungkan hidup di sungai sekitar Jembatan II Palu. Mau tidak mau, setiap hari Asrun dan rekan-rekannya harus turun ke sungai.

Dia sendiri saat bekerja menggunakan ember berukuran besar yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengambil pasir dari dalam sungai ke daratan. Begitu seterusnya dari pagi hingga sore hari. Jika malam hari para penambang memilih untuk tidak bekerja.

Para penambang di dekat Jembatan II ini hampir beraktivitas setiap hari di dalam sungai. Sekalipun cuaca dalam keadaan yang tidak bersahabat. Kalau mereka tidak menambang hanya ada satu kemungkinan, yaitu terjadi banjir besar di Sungai. Lokasi dimana mereka menempatkan pasir yang diambil biasanya sampai tergenang. Niat untuk mencari nafkah pun harus diurungkan, biasanya mereka absen untuk menambang karena banjir paling lama selama dua hari. Setelah surut, para penambang harus membersihkan sisa-sisa lumpur untuk beraktivitas kembali. “Tidak ada pakai tanggal merah kalau menambang pasir begiini,” tambah Asrun, warga dari Desa Binangga, Kabupaten Sigi ini.

Meskipun sudah menganggap biasa pekerjaannya, para penambang juga harus waspada setiap saat. Waspada terhadap keberadaan buaya yang tinggal di sungai. Karena bukan hanya ada satu ekor buaya yang sering mereka lihat. Bisa sampai empat jenis buaya dengan berbeda ukuran yang muncul di lokasi penambang pasir dalam sehari.  Selain di Jembatan II, ada juga beberapa lokasi penambang pasir di sepanjang sungai palu.

Para penambang ini berprinsip, selama buaya tidak diganggu, maka buaya juga tidak akan mengganggu para penambang. Anggapan ini bukan hanya ada pada diri penambang pasir, tetapi juga masyarakat yang sering beraktivitas di sungai palu. Seperti orang yang memancing ikan dan nelayan setempat.

Sehingga banyak orang yang berpandangan bahwa buaya di sungai Palu ini tidak akan mengganggu manusia, jika tidak ada sebab terlebih dahulu. Dari berbagai perisitiwa serangan buaya yang dirangkum Radar Sulteng di sungai Palu juga membuktikan bahwa buaya ini menyerang setelah dia merasa terancam. Seperti serangan buaya pada seorang penambang pasir beberapa tahun lalu.

Si penambang yang turun pada waktu subuh ini tidak mengetahui bahwa apa yang dipukul-pukulinya menggunakan sebilah kayu merupakan seekor buaya. Dia beranggapan bahwa itu adalah sisa batang pohon yang hanyut dibawa arus sungai. Selanjutnya tahun 2017 silam, nelayan di pesisir Teluk Palu juga ditemukan meninggal dunia. Setelah sebelumnya diketahui nelayan tersebut saat membuka jaringnya pada malam hari, tidak secara sengaja seekor buaya masuk ke dalam jaringnya.

Dia pun ditarik ke dalam air laut, hingga beberapa jam kemudian jasadnya ditemukan dalam kondisi yang utuh, hanya ada bekas gigitan di beberapa bagian tubuhnya. Kemudian pada tahun 2017 juga seorang remaja di Kelurahan Ujuna diterkam buaya di kakinya. Saat itu, kondisi di sekitar lingkungannya terjadi banjir luapan dari sungai Palu. Sehingga dapat dengan mudah buaya masuk melalui saluran air. Dengan air yang masih cukup tinggi tergenang, si remaja laki-laki ini rupanya seperti menginjak gumpalan lumpur. Namun itu bukanlah gumpalan lumpur. Karena tidak butuh waktu lama, kaki remaja tersebut langsung menerima gigitan dari buaya yang menurut perkiraannya adalah lumpur.

“Kalau tidak diganggu dia pasti tidak mengganggu kita, bahkan saat kita di dalam air mereka (buaya) tidak juga mendekat, karena mereka mungkin mengetahui kalau ada kita,” masih kata Asrun.

Terkadang kata Asrun, hanya berjarak beberapa meter saja lokasi buaya berjemur, ada aktivitas dari penambang pasir. Sesekali juga melintas biasa buaya langsung berpapasan dengan penambang, kurang lebih dengan jarak 2 sampai tiga meter. Bahkan, lokasi para penambang pasir di Jembatan II ini berdekatan dengan lokasi dimana buaya yang berkalung ban sering muncul.

“Ya kalau buaya yang satu ini muncul pasti arus lalu lintas di Jembatan II macet, karena banyak kendaraan yang berhenti, sering juga terjadi kecelakaan karena pengendara hanya lihat ke buaya berkalung ban, bukan pandangannya ke depan,” jelas Asrun.

Sependapat dengan Asrun, Sahril penambang pasir lainnya mengatakan sudah terbiasa dengan kemunculan buaya di sela-sela aktivitas mereka. Dia juga beranggapan buaya di sungai Palu ini tidak akan mengganggu aktivitas manusia di dalam air, jika buaya tidak merasa diganggu atau sedang terancam.

Pria yang memiliki tiga orang anak ini berpendapat banyak jenis buaya yang sering dilihatnya. Tetapi disaat sungai dalam posisi banjir, buaya-buaya ini tidak satupun naik ke darat di sekitar lokasi para penambang. Tak terkecuali buaya yang terkenal berkalung ban motor.

Sungai Palu yang memiliki lebar hampir puluhan meter ini kata Sahril cukup dangkal. Karena dia mencoba berjalan ke tengah sungai atau sekitar sepuluh meter ke depan, posisi air masih sampai di perutnya. Memang beberapa bagian di dalam sungai Palu menurut warga Kelurahan Ujuna ini terdapat tebing atau jurang yang dalam, tapi itu tidak banyak. Biasanya hanya ada di bawah jembatan atau di sekitar jembatan yang menghubungkan wilayah barat dan timur Kota Palu ini. Di dalam tebing ini lah diduga menjadi sarang buaya muara sungai Palu. “Dangkal ini sungai, dasarnya banyak bebatuan, hanya di pinggir-pinggir sungai terdapat pasir, kalau ada banjir pasti banyak pasir yang terbawa, berkah juga bagi penambang di sini,” ungkap Sahril, pria kelahiran 24 Agustus 1965 ini.

Sahril pun berpesan kepada warga yang tidak sengaja melihat atau berpapasan dengan buaya di sungai jangan sesekali melempar atau mengganggu buaya tersebut. “Yang namanya makhluk hidup kalau diganggu pasti akan melawan,” tutup Sahril. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.