Bertarung di Pilkada Parimo, Pasangan AMIN Inginkan Perubahan

0
448

PARIMO-Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati (Wabup) Parimo periode 2018-2023, H Amirullah Almahdaly SE, dan Dra Hj Yufni Bukundapu MSi, (AMIN) mendeklarasikan diri maju di Pilkada Parimo, Rabu (10/1).

Calon Bupati Parimo, H Amirullah Almahdaly SE, menyempatkan diri bertemu langsung dengan masyarakat di Kelurahan Bantaya, Rabu kemarin (10/1). (Foto: Iwan Rusman)

Deklarasi tersebut dilaksanakan di pesisir Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi sekitar pukul 11.00 wita. Usai deklarasi, pasangan AMIN yang didampingi para petinggi parpol pengusung Partai Demokrat dan Hanura langsung mendaftarkan diri ke KPU Parimo.

Beberapa hal utama diungkapkan oleh calon Bupati H Amrullah Almahdaly SE dihadapan ratusan simpatisan dan tim. Termasuk hal yang membuat dirinya berani ingin bertarung di Pilkada 2018.

Usai deklarasi sekitar pukul 16.30 wita, kepada koran ini Amrulah mengungkapkan, keinginan untuk mencalonkan diri sebagai bupati sudah ada sejak delapan tahun lalu. “Kemudian, apa yang terjadi di tempat kelahiran saya ini, tidak ada sebuah perubahan yang mengarah kepada kesejahteraan rakyat,”tuturnya.

Sampai dengan hari ini yang muncul justru adalah tingkat kemiskinan, buta huruf yang tinggi, kesenjangan sosial dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang rendah.

“Itulah yang membuat saya termotivasi. Karena saya rasa kemampuan yang saya miliki bisa digunakan untuk merubah keadaan itu,”ujarnya, usai deklarasi di pesisir pantai Kelurahan Bantaya, Kecamatan Parigi.

Berpasangan dengan Dra Hj Yufni Bukundapu Msi, karena menurutnya calon wabup tersebut memiliki segudang ilmu. “Terlepas dari itu, birokrasi kita juga harus butuh transparansi dalam mengelola keuangan daerah,”jelasnya.

Menurutnya, persoalan yang terjadi di Parimo bukan karena keuanganya sedikit. Tetapi karena salah urus. Sebab bekerja tidak berbasis data.

Kata dia, memang harus dipahami bahwa data itu mahal. Tapi kalau bekerja tanpa data justru jauh lebih mahal bahkan mubazir. Karena terjadi pemborosan.

“Itulah yang mendorong saya untuk menjadi bupati Parimo. Disisi lain, dorongan dari rakyat untuk mencari figur yang lebih tepat untuk kedepannya,”tuturnya.

Ia mengaku senang kembali ke kampung halamannya. Di tahun 2009 ia masuk kedalam dunia politik. Awalnya tidak begitu suka dengan politik.

Bertarung di Pilkada Parimo bukan soal bupati. Tetapi menyangkut kemaslahatan. Di DPRD Provinsi Sulteng dua periode di Badan Anggaran. Ia mengetahui persis anggaran di Parimo.

“Parimo punya banyak uang, hampir Rp 1,5 triliun dana transfer. Itu luar biasa yang harus digunakan. Dan saya berani katakan hari ini, ini salah urus,”tandasnya. Sehingga kedepannya, ia berharap bersama masyarakat mengurus persoalan tersebut. Kemudian, semua pengaduan orang susah ada di DPR.

Pihaknya memahami jika sampai hari ini, DPRD belum mampu menyerap aspirasi. Karena tidak ada angka yang tepat untuk dikelola dalam pokok pikiran. “Saya berjanji kepada DPRD Parimo kalau saya terpilih, saya akan membentuk sebuah panitia, mengkaji dan memperbesar dana aspirasi,”tandasnya.

Ia menegaskan, bersama dengan calon wabupnya berkomitmen, yang diserap di Parimo adalah murni dari aspirasi.(iwn/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here