Dua Putra Kahar Muzakkar yang Bertarung di Pilgub Sulawesi Selatan

0
2015

Aziz dan Andi Mudzakkar yang bertarung di pilgub Sulsel sama-sama berposisi cawagub. Aziz dikenal sebagai tokoh agama, sedangkan Andi lebih nasionalis.  

Laporan: Mustaqim Musma-Fahril, Makassar

Aziz Qahhar Mudzakkar (kiri) dan Andi Mudzakkar sepanggung pada diskusi politik Fajar Group di Graha pena Makassar (18/12/2017). (Foto: Idham Ama/Faja R /Jpg)

JADI calon gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) sudah pernah. Begitu pula calon wakil gubernur di provinsi yang sama.

Tapi, dari semua palagan politik yang pernah diikutinya, barangkali, pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sulsel tahun inilah yang paling menguras emosi Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar. Sebab, anggota DPD tiga periode itu bakal berhadapan dengan adiknya, sang Bupati Luwu Andi Mudzakkar.

Aziz merupakan cawagub Nurdin Halid (NH). Sedangkan sang adik yang akrab disapa Cakka itu berpasangan dengan Ichsan Yasin Limpo, juga sebagai cawagub.

”Apa yang menjadi keprihatinan sekian lama, dan kemudian juga ternyata sama juga dengan pemikiran Pak NH, bahwa bangsa kita ini sudah berada di depan jurang. Baik di bidang politik maupun ekonominya,” kata Aziz tentang kesediaannya kembali bertarung di pilgub Sulsel untuk kali ketiga seperti ditulis Fajar (Jawa Pos Group).

Aziz dan Cakka merupakan putra Qahhar Mudzakkar (atau ada yang menulisnya Kahar Muzakkar), dari ibu yang berbeda. Qahhar dikenal sebagai tokoh pejuang, mantan pengawal kesayangan Presiden Soekarno, tapi kemudian membentuk Tentara Islam Indonesia karena kekecewaannya kepada Jakarta.

Oleh tentara yang membunuhnya, Qahhar diklaim tewas tertembak pada 3 Februari 1965. Namun, sampai sekarang jenazah atau makamnya tak pernah ditemukan.

Dalam pilgub Sulsel tahun ini, kakak beradik bersama pasangan masing-masing itu bertarung pula dengan dua pasangan lainnya. Yakni, Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman dan Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo.

Menurut pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Jayadi Nas, secara ketokohan, Aziz lebih unggul daripada Cakka. ”Cakka kan hanya dikenal di Luwu Raya, sedangkan Aziz ketokohannya dikenal hingga ke semua pelosok di Sulsel,” ungkap Jayadi kepada Pojoksulsel (Fajar Group).

Aziz memang tergolong veteran untuk urusan pilgub di Sulsel. Pada pilgub 2007, dia jadi kandidat gubernur berduet dengan Mubil Handaling. Tapi, kalah oleh pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang.

Syahrul merupakan kakak Ichsan, pasangan Cakka sekarang. Duet Syahrul-Agus pula yang kembali mengalahkan Aziz kala menjadi cawagub berduet dengan Ilham Arief Sirajuddin di Pilgub Sulsel 2013.

Tak mengherankan pula kalau kemudian Aziz kritis dengan kinerja Syahrul sekarang. Menurut dia, di balik angka-angka tinggi keberhasilan Sulsel, masih ada ketimpangan.

”Coba kita lihat di negeri kita ini, kita masuk nomor 4 negara paling tinggi kesenjangannya. Jadi, saya sejak dulu kurang menerima bila ada orang yang bangga dengan pertumbuhan ekonomi sekarang,” katanya dalam diskusi bertajuk Menatap Wajah Sulsel 2023 yang dihelat Fajar Group di Makassar pada Desember.

Di titik itu, dia berseberangan dengan sang adik yang juga hadir dalam diskusi yang sama. Cakka justru memuji kinerja pemerintahan Syahrul-Agus.

”Pak Syahrul dan Pak Agus saya angkat topi dengan standar maksimal tingkat pertumbuhan ekonominya. Hari ini memang sangat diperlukan pertumbuhan ekonomi dari semua sektor yang ada, serta tingkat pendidikan,” katanya.

Cakka dalam bahasa Luwu berarti cerah. Seperti Aziz, putra bungsu pasangan Abdul Qahhar Mudzakkar-Hj Andi Haliah itu lahir dan besar di Palopo. Sebelum kemudian berkuliah di jurusan teknik sipil Unhas.

Persaingan sengit dua bersaudara tersebut diperkirakan bakal terjadi di Luwuk Raya. Pasangan masing-masing jelas akan mengandalkan keduanya untuk memperebutkan lebih dari 1 juta suara di sana.

Di mata Jayadi, ada tiga faktor yang membuat Aziz bakal mampu mengungguli Cakka di Sulsel, apalagi hanya sekadar daerah Luwu Raya. Pertama, menurut dia, Aziz hingga saat ini mampu merawat ketokohannya.

Kedua, sebagai tokoh agama, Aziz yang juga dikenal sebagai ustad itu mampu menjaga hubungan dengan semua umat beragama. ”Ketiga, Aziz sangat dekat dengan umat dibandingkan dengan Cakka,” katanya.

Tapi, Andi Luhur Priyanto, pengamat lainnya dari Universitas Muhammadiyah Makassar, menganggap Cakka juga punya kelebihan yang tak dimiliki Aziz. Meski pernah memimpin partai Islam, PBB (Partai Bulan Bintang), Cakka dinilai lebih nasionalis. ”Karakter ini membuat figur Cakka lebih diterima di basis pemilih minoritas dan plural,” kata Andi.

Yang pasti, meski berseberangan di palagan politik kali ini, tidak berarti ”hubungan batin” keduanya terputus. Saat menghadiri Milad Ke-108 Muhammadiyah di Jeneponto pada 25 November tahun lalu, Aziz tertangkap kamera menggunakan ponsel bergambar pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar di bagian belakang. Lengkap dengan slogan Bersama Itu Kita.

Meski memang sumber fajar.co.id menyebutkan bahwa Aziz tak sadar ada gambar tersebut di ponsel yang dia pinjam. ”Itu HP-nya Syamsuddin Karlos (anggota DPRD Sulsel, Red),” kata sumber tersebut. (*/JPG/c10/ttg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here