Kasus Korupsi Sungai Mewe, Mantan Bupati Sigi Diminta Dihadirkan

0
566

PALU –  Majelis hakim yang menyidangkan kasus dugaan tindak pidana korupsi dana proyek perbaikan sungai mewe di tiga desa Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi memerintah kepada jaksa penuntut umum (JPU) agar menghadirkan mantan Bupati Sigi Aswadin Randalemba, kehadapan persidangan, pada sidang selanjutnya.

Ilustrasi

Karena, perkara dugaan korupsi yang menjerat terdakwa Christian Soetantjo rekanan yang mengerjakan proyek serta terdakwa RL, terjadi ditahun 2013, semasa Kabupaten Sigi masih dipimpin oleh Bupati Sigi Aswadin Randa Lemba. Perintah majelis hakim tersebut terungkap disidang lanjutan pemeriksaan perkara tersebut, Senin (15/1).

“Mantan bupati masih ada, tolong jaksa penuntut umum hadirkan,” tanya Felix Da Lopez hakim anggota 1 kepada jaksa penuntut umum.  “Ia yang mulia kami akan panggil lagi saksi tersebut (mantan bupati red),’’ jawab  Moh Tang SH, selaku JPU.

Majelis hakim meminta kehadiran mantan orang nomor satu di Kabupaten Sigi ini, untuk dimintai klarifikasi terkait Surat Keputusan (SK) Bupati Sigi yang dikeluarkan tahun itu. Isinya tentang penetapan status tanggap darurat bencana banjir di tiga desa yang dilewati sungai mewe, yakni Desa O’o, Desa Lempelero dan Desa Pilimakujaya, Kecamatan Kulawi Selatan.

“Biar dia siapa ya, mau dia bupati, jika pengadilan yang memanggil dia harus hadir. Karena keterangannya diperlukan  menyangkut nasib orang lain. Jadi harus dihadirkan,” tegas Felix Da Lopez mengingatkan kembali JPU.

SK Bupati Sigi yang menetapkan status tanggap darurat di tiga desa itu menjadi sebab dilakukannya perbaikan sungai mewe, yang pelaksana pekerjaannya melekat di BPBD Sigi. Nilai anggaran perbaikan tersebut Rp 1 miliar lebih. Hingga kemudian bermasalah, bukan hanya progres pekerjaan yang diduga tidak benar. Namun SK Bupati Sigi yang terbit, belakang diketahui hanyalah  formalitas, untuk dijadikan dasar turunnya proyek perbaikan sungai mewe, dengan alasan status tanggap darurat.

Mantan Bupati Sigi juga diminta dihadirkan, karena mantan Sekda Kabupaten Sigi Husen Habibu satu dari 11 saksi yang hadir dipersidangan kemarin mengaku benar-benar tidak mengetahui adanya SK tentang penetapan status tanggap darurat tersebut, pada saat itu.

“Saya tidak tahu karena tidak melalui saya lagi. Saya tahu nanti dipanggil jaksa,” katanya di dalam persidangan. Husen Habibu juga mengaku tidak tahu menahu soal progres pelaksanaan pekerjaan perbaikan sungai mewe tersebut.

Namun saksi ini, tidak memungkiri kalau tahu di tiga desa tersebut pernah terjadi bencana banjir. Bahkan saat itu dia turun langsung ke tiga desa itu. “Malam kejadian banjir, saya berangkat tengah malamnya, pagi sekitar jam 8 saya tiba di tempat bencana,” tuturnya. Dia juga mengakui bahwa bencana yang terjadi mengakibatkan kebun warga, jembatan dan beberapa rumah warga rusak. “Hanya apakah sudah status tanggap darurat pada saat itu atau belum saya tidak tahu. Karena selanjutnya yang ambil alih adalah wakil bupati saat itu,” urainya.

Saksi lain ada yang menerangkan soal teknis pekerjaan itu, seperti saksi Hasim, pegawai di BPBD Sigi ini mengaku kalau RAB pekerjaan dari perbaikan sungai mewe itu baru kemudian disusun setelah pekerjaan selesai dikerjakan. Yang parahnya dalam perkara ini adalah, tiga perusahaan yang mengerjakan proyek di tiga desa itu, atas nama terdakwa Christian Soetantjo, ternyata perusahaan itu hanya atas nama terdakwa, pemiliknya adalah orang lain. (cdy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.