Erni, Ibu Tujuh Anak yang Tinggal di Gubuk Tak Berpintu

0
341

Tak sulit menemukan Erni. Sekali tanya, tetangganya langsung menunjuk wanita bertubuh sedang itu. Erni dan 31 keluarga lainnya hidup bermukim di bantaran Sungai Dolago, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Laporan: Ilham Nusi, Parimo

Di gubuk ini, Erni dan tujuh orang anaknya tinggal seatap, bertahan dan terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan. (Foto:Ilham Nusi)

ERNI lantas pamitan pada dua temannya mengobrol. Ia lalu mengajak wartawan Radar Sulteng ke rumahnya. Tak sampai lelah berjalan, kami pun sampai.

“Silahkan duduk. Maaf, kondisinya seperti ini,” kata Erni, membuka perbincangan kami, Senin (22/1) siang.

Hampir dua tahun terakhir, Erni menjanda. Untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama tiga putri dan empat putranya, Ia harus mencari rebung dan pakis bersama tetangga. Aktifitas itu berlangsung dari pagi hingga jam empat sore.

Setibanya di rumah, anak-anak Erni selalu membantunya. Sayuran itu tidak dijual langsung ke pasar. Warga Dusun III Moti, Desa Tindaki, Kecamatan Aprigi Selatan itu akan menunggu pengepul masuk ke pemukiman.

Jika beruntung, Erni dan kawan-kawan mengumpul buah kelapa yang tergeletak di tanah. Di waktu panen cokelat dan padi, Erni ikut menjad buruh harian.

“Hasil mencari sayuran paling banyak Rp50 ribu. Kalau menjadi buruh panen cokelat atau padi, saya bisa dapat Rp70 ribu sehari,” katanya.

Erni maupun perempuan Moti lainnya tidak setiap hari mencari sayur. Karena harus menunggu tanaman yang dipetik kembali tumbuh. Paling cepat tiga hari berselang.

Penghasilan pas-pasan memaksa Erni membeli beras eceran. Paling banyak empat kilogram untuk dimasak tiga hari. Kadang hanya bisa membeli satu kilogram saja.

Meski sulit, Erni tetap berusaha menghidupi ketujuh orang anaknya. Terkadang Ia meminta buah hatinya untuk kembali bersabar.

“Jika terpaksa, saya meminta tolong pada teman-teman.  Kadang dapat, sering pula tidak. Karena memang kondisi mereka hampir sama dengan saya,” bebernya.

Dalam segala keterbatasan, perempuan 43 tahun itu tetap bertahan di rumah yang menurutnya gubuk. Walau beratap rumbia dan berdinding anyaman bambu ditambah sepotong karung pelastik. Itupun hanya bagian dapur dan setengah dinding bagian barat.

Ruang tamu rumah Erni sama sekali tanpa dinding, apalagi pintu. Sementara kamar dan pintunya ditambal empat potongan tripleks. Beruntung katanya rumah tetangga berdekatan. Jadi mereka tidak terlalu khawatir jika terjadi apa-apa.

“Anak-anak perempuan tidur di kamar. Saya dan bungsu serta kakanya tidur di luar. Hanya dinding sebelah ini ditutup kain dan depannya ditutup sama daun pintu yang belum terpasang itu,” tandasnya, sedikit tersenyum.

Menurut Erni, saat masih bersama suami, rumahnya berdinding penuh. Namun kondisinya jauh lebih parah karena nyaris roboh. Tatkala hujan, mereka terpaksa menunggu redah lalu dikeringkan agar bisa tidur lagi.

“Pernah ada orang dari pemerintahan. Sudah foto-foto rumah kami yang mau roboh, katanya mau dapat bantuan. Tapi sampai sekarang kabarnya tidak jelas,” imbuhnya.

Setelah berpisah, rumah yang dibeli 15 tahun silam dari tetangganya seharga Rp100 ribu itu benar-benar dorobohkan. Padahal, Erni belum punya uang untuk membangun baru. Perlahan Ia mulai mengganti atap tua dengan rumbia.

“Saya khawatir kalau nanti roboh pasti menimpa rumah tetangga. Walaupun dibeli satu-satu, Alhamdulillah, akhirnya saya bisa ganti atapnya sebulan lalu,” ujarnya.

Pun dalam kondisi sekarang, Ia mengaku bahagia dapat hidup bersama Nurfianti Ganiyah (17), Muhammad Fadil (14), Ece (12), Inayah (9), Ipul (7), Ishak (3), dan Aditya (2). Sebelumnya, Nurfianti, Fadil dan Inayah lama menetap di Panti Asuhan Nurul Iman di Kota Palu.

Selain anak sebagai hartanya, di rumah Erni terpajang satu unit televisi 21 inch yang dulunya dibeli bekas. Sedangkan antena parabola hanya pemberian orangtua.

“Motor ini punya nenek anak-anakku di Lambaru. Sudah diminta kembalikan. Tapi belum diantar karena tidak bisa hidup,” tukasnya sembari menyusui Aditya.

Erni tidak sendiri, masih ada dua tetangga yang nasibnya serupa. Sedangkan tetangga lainnya hanya sedikit lebih baik dari mereka. Meski demikian, Ia bangga empat orang anaknya dapat sekolah.

“Fadil, anak kedua saya putus sekolah. Dia kadang menjadi buruh pengepul batu di sungai itu,” katanya.

Erni terkadang sedih. Sebab tidak saban hari anak-anaknya mendapat uang jajan. Dari keempat anaknya, Ece dan Ipul menerima beasiswa. Jika ada kelebihan, dana bantuan itu akan dibagi untuk keperluan sekolah Nurfianti dan Inayah.

Nurfianti dan Inayah sebenarnya bisa mendapat beasiswa. Tapi nama mereka belum masuk daftar dalam kartu keluarga Erni. Karena dulunya Nurfianti, Fadil, dan Inayah tinggal di panti asuhan.

Sesungguhnya Erni sudah tak sanggup membiayai sekolah anak sulungnya. Namun karena keinginan murid kelas satu di SMK Dolago itu sangat besar, Erni akhirnya semakin keras melawan kondisi serba kekurangan hidupnya.

“Anak-anak saya rajin sekolah, meski tanpa uang jajan. Apalagi si Pia, tetap sekolah walau tidak punya ongkos sewa mobil. Kecuali dua hari ini Pia belum sekolah karena sakit,” jelasnya, kemudian memindahkan Aditya ke dalam ayunan.

Pia yang sedang menonton siaran televisi menyahuti cerita ibunya. Ia mengaku kukuh kembali berkumpul bersama ibu dan adik-adiknya, meski suatu saat nanti pendidikannya harus putus.

“Panti asuhan tempat saya tinggal menjamin sekolah anak asuhnya hingga kuliah. Tapi saya ingin bersama orangtua dan saudaraku. Saya tidak peduli meski kehidupan kami sulit. Ini cara saya untuk bahagia,” ujar Pia.

Pia yang saat itu sedang sakit mengaku tak ingin membebani ibunya dengan ongkos sewa mobil ke sekolahnya, apalagi meminta uang jajan. Karena itu Ia tidak pernah mengeluh ada ataupun tidak.

Agar sampai ke sekolah dan kembali ke rumahnya, Pia membutuhkan ongkos Rp6 ribu. Jika kurang atau sama sekali tak punya uang, gadis itu terpaksa menumpang pulang bersama teman sekolahnya.

“Saat tidak ada uang, saya menunggu teman sekolah lewat. Saya berhenti menunggu kalau lewat jam sembilan,” tandasnya.

Menurut Pia, wali kelas beberapa kali menegurnya karena tidak masuk sekolah. Ia pun sudah menjelaskan kondisi ekonomi orangtuanya. Bahkan Ia menunggu pihak sekolah yang berniat mendatangi rumahnya.

“Beberapa waktu lalu guru mau datang kesini. Tapi mungkin belum punya waktu luang,” katanya.

Sembari menidurkan si bungsu, Erni kemudian berkisah tentang musibah banjir bandang beberapa tahun silam. Kala itu, Moti dikepung luapan air sungai Dolago yang berjarak belasan meter dari pemukiman.

Warga Moti akhirnya bisa dievakuasi sehari setelah banjir. Selanjutnya mereka mendapat bantuan makanan, peralatan dapur serta pakaian bekas.

Meski sadar membangun di atas tanah negara, Erni tetap berharap bantuan perbaikan rumahnya. Minimal ada biaya untuk membeli bahan sekedar tripleks. Dengan begitu, anak-anaknya bisa hidup di hunian layak.

“Bukan cuma saya, warga Moti sebenarnya butuh perhatian pemerintah. Misalnya bedah rumah. Di sini memang tanah negara, tapi saat pemilihan kepala desa kami sudah dijanjikan agar bisa disertifikasi,” harapanya.

Hingga saat ini, warga Moti tidak kekurangan air bersih dan penerangan listrik. Namun mereka harus membayar iuran per bulan kepada masing-masing pengelolanya.

“Kami bayar air Rp10 ribu dan listrik Rp40 ribu per bulan. Pernah juga kami dapat bantuan pembangunan MCK,” sebut Erni.

Pemukiman warga Moti sesungguhnya adalah potret kemiskinan beberapa wilayah di daerah berjuluk lumbung beras ini. Pasalnya, Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Parimo mengklaim produkivitas sawah di wilayahnya mencapai 307.800 ton GPK, atau setara beras sebanyak 173.080 ton.

Kepala Desa Tindaki Syamsul Rizal, mengaku sudah memikirkan nasib warganya di bantaran sungai itu. Namun hingga saat ini belum ada solusi tepat untuk penanganannya.

“Pernah ada program bedah rumah di Dusun III itu. Tapi syarat lahannya harus dilengkapi surat-surat, minimal SKPT. Masalahnya itu tanah negara,” kata Syamsul kepada Radar Sulteng di ruang kerjanya, Selasa (23/1).

Selain kendala tersebut, program bedah rumah polanya adalah swadaya. Artinya, si penerima harus menyediakan dana pribadi untuk menyelesaikan perbaikan. Karena itu, Pemdes Tindaki membatalkan alokasi program tersebut.

“Kalau anggarannya dipaksakan turun kemudian bedah rumah itu tidak selesai, maka yang susah pemerintah desa. Daripada jadi kasus pidana lebih baik tidak sama sekali,” kata Syamsul.

Sejak lama, lanjut Syamsul, pemerintah telah berusaha menertibkan warga tersebut. Sebab banyak di antaranya tidak jelas asal usulnya. Agar lebih efektif, Pemdes Tindaki masih menunggu draf Peraturan Desa yang sedang disusun BPD setempat.

“Kami akan menerbitkan Perdes Tindaki tentang keamanan dan ketertiban. Nanti itu akan digunakan untuk menertibkan warga Moti di bantaran sungai,” tandasnya.

Terkait penyejahteraan 32 keluarga berpenghasilan rendah di bantaran Sungai Dolago, dan masyarakat lainnya di Tindaki, Kades yang sudah dua kali terpilih itu memastikan akan menyusun program pemberdayaan masyarakat.

“Program pemberdayaan itu sangat penting untuk masyarakat desa,” ujarnya.

Saat ini, Desa Tindaki dihuni sedikitnya 900 kepala keluarga atau tak kurang dari 3.000 jiwa yang menyebar di empat dusun setempat.

Keterbatasan ekonomi rupanya tak mampu mematahkan semangat empat kakak beradik di atas. Bukti nyata ketidakberdayaan mereka, seharusnya menyadarkan Pemkab Parimo untuk jauh lebih dalam mengenali kondisi sesungguhnya masyarakat di kabupaten itu. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here