Buaya Sungai Palu Bisa Jadi Bom Waktu

0
1352

PALU – Keberadaan buaya berkalung ban di Sungai Palu harusnya menjadi perhatian banyak pihak. Bukan hanya upaya penyelamatan ban yang harus dipikirkan. Tapi “ancaman bom” waktu yang bisa timbul karena keberadaan buaya-buaya muara lainnya di Sungai Palu.

Panji bersama tim penyelamat buaya berkalung ban Jawa Pos-Radar Sulteng saat memberi keterangan bersama Walhi Sulteng terkait keberadaan buaya di sungai Palu, kemarin (25/1). (Foto: Dite/JawaPos)

Kekhawatiran inilah yang terbesit di kalangan aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Direktur Walhi Sulawesi Tengah Aries Bira mengatakan, keberadaan buaya di Sungai Palu bukan hanya buaya berkalung ban, jumlah mereka banyak. Bahkan lebih banyak dari data yang pernah diungkapkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng, yakni 20-an ekor.

“Mungkin saat ini buaya-buaya itu masih bisa bersanding dengan manusia. Bukan lawan. Itu karena jumlah makanan yang tersedia di sungai dan muara masih banyak,” ujar Aries Bira di Kantor Walhi Sulteng, kemarin (25/1).

Namun ancaman akan tiba ketika nantinya jumlah makanan makin menipis. Sedangkan populasi buaya terus makin meningkat.

Menipisnya makanan itu tentu bisa karena banyak faktor. Faktor yang umum tentu global warming. Faktor yang lebih spesifik mungkin tercemarnya air sungai. “Kita tahu sendiri makin hari sungai Palu makin kotor,” ujar Aries. Jika itu yang terjadi, maka bom waktu pun akan meledak dan buaya bisa akan memangsa manusia.

“Kalau sekarang sih masih sedikit jumlah kasus manusia yang diserang buaya. Tapi kalau tidak diperhatikan ya bisa jadi bom waktu,” tegasnya.

Terakhir, kasus kematian manusia karena serangan buaya terjadi beberapa bulan lalu. Seorang nelayan tewas di rumah sakit setelah diserang buaya.

Menurut penuturan masyarakat sekitar, buaya itu tak berniat menyerang manusia. Hanya ketika itu si buaya terjerat jaring nelayan. Nah, buaya itu lantas dilempari batu oleh orang yang ada di daratan. Buaya lalu menyerang si nelayan dengan menggigit di beberapa bagian. Bukan sengaja memakan tubuh nelayan.

Aries Bira menambahkan, sesuai rencana tata ruang wilayah Kota Palu, Sungai Palu bukan termasuk area konservasi. Sehingga keberadan buaya di sana dirasa kurang tepat. Masalahnya, di Palu dan sekitarnya tak ada kawasan yang diperuntukan sebagai konservasi atau penangkaran buaya.

Apa yang disampaikan Walhi memang persis temuan Panji Petualang. Sebagaimana diketahui, Panji tengah melakukan upaya penyelamatan buaya berkalung ban bersama Jawa Pos. Selama melakukan observasi siang dan malam, Panji menemukan banyak buaya berkeliaran di sekitar Sungai Palu. “Dari yang anak-anak sampai yang paling besar sekitar 6-7 meteran,” ujar Panji.

Panji menegaskan, persoalan yang harus diselesaikan memang bukan hanya pelepasan ban. Tapi mau dikemanakan buaya berkalung ban ini nanti jika sudah berhasil diselamatkan setelah dilepaskan mau dibawa ke mana. Mau dilepaskan lagi atau dibawa ke konservasi. Kalau dibawa ke konservasi nasib buaya lainnya bagaimana?” tanyanya.

Dia khawatir, lima tahun mendatang bom waktu ini akan mulai dirasakan masyarakat.(gun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.