Pertama Kalinya Upacara Bendera Dilaksanakan di SD Bungintende

0
173
Siswa SD Desa Bungintende, Kecamatan Bungku Selatan, Kabupaten Morowali saat melaksanakan upacara pertama bersama anggota SDC Morowali dan mahasiswa UNS Maret Solo, Senin (22/1). (Foto:Ist)

MOROWALI – Di tengah-tengah upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Morowali menciptakan generasi yang berkualitas melalui program pendidikan gratis, masih terdapat siswa yang belum mendapatkan pendidikan secara menyeluruh. Seperti di Desa Bungintende, Kecamatan Bungku Selatan, Kabupaten Morowali.

Siswa yang duduk di bangku sekolah dasar (SD) Desa Bungintende, sama sekali belum mendapatkan pelayanan pendidikan yang maksimal. Buktinya, mereka tidak mengetahui lirik lagu Indonesia Raya. Hal ini menandakan, bahwa para siswa kurang mendapat pembelajaran terkait prosesi upacara bendera.

Tidak hanya itu, sejak sekolah didirikan siswa di desa itu tidak pernah melaksanakan upacara bendera merah putih yang mana rutin dilaksanakan seluruh siswa se Indonesia setiap hari Senin atau setiap peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.

Saat anggota SDC Morowali bersama Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS Maret) Solo memasuki Desa Bungintende guna melakukan program kerja pengembangan wisata dan transplantasi karang, para siswa SD Bungintende akhirnya bisa melaksanakan upacara bendera merah putih pada Senin 22 Januari 2017 lalu.

Namun, saat pelaksanaan upacara bendera merah putih para siswa SD Bungintende, tidak menghafal lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya.

“Selama kami hidup di pulau ini, baru kali ini anak-anak kami melaksanakan upacara bendera merah putih. Selama ini tidak pernah. Jangankan anak kami, kami dari orangtua juga tidak pernah melaksanakan upacara bendera seperti ini karena kami tidak tahu,”ungkap beberapa orangtua murid.

Mereka menjelaskan, penyebab para siswa SD Bungintende tidak pernah melaksanakan upacara bendera merah putih dan tidak menghafal lagu Kebangsaan Indonesia Raya, karena kurangnya tenaga pendidik yang mengajar.

“Selama ini, cuman satu orang guru itupun tenaga honor yang ada di sekolah ini. Kepala sekolahnya dan guru lainnya, tidak pernah datang. Mereka selalu berada di luar pulau. Bagaimana murid bisa pintar, kalau gurunya juga malas mengajar,”tegas para orangtua murid beserta warga lainnya.

Sementara itu, salah seorang guru honorer SD Bungintende yang enggan namanya dibeberkan membenarkan bahwa selama ini para guru di SD Bungintende tidak pernah masuk. Hal tersebut membuat, seluruh siswa SD Bungintende sering tidak  pelajaran yang maksimal.

“Upacara bendera ini, adalah yang pertama kali mereka laksanakan seumur hidup mereka. Lihat saja antusiasnya,”ungkap tenaga honorer tersebut.

Guru honorer ini berharap, agar Pemkab Morowali dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan turun langsung ke Desa Bungintende untuk mengecek kondisi belajar mengajar di SD tersebut. Dirinya juga sangat berharap, bahwa Pemkab Morowali beri teguran kepada para tenaga pendidikan yang jarang masuk mengajar di SD Bungintende.

“Semoga Pemerintah Kabupaten Morowali, mengetahui kondisi siswa SD di Desa Bungintende ini. Kalau begini terus, kapan anak-anak disini akan pintar,” ujarnya.

Yang disesali setiap siswa yang lulus dari sekolah SD ini pasti tidak lanjut bersekolah ke tingkat SMP. Selain terkendala biaya mereka juga terkendala akses keluar masuk. Kebanyakan setelah lulus mereka langsung menjadi nelayan. “Semoga Pemerintah cepat turun kemari, untuk mengoreksi kinerja para guru dalam mendidik para siswa disini,” harap warga lainnya.(fcb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here