Eks Napi Terorisme Poso Dilatih Wirausaha

0
564

POSO-Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Jakarta menggelar kegiatan pelatihan penguatan wirausaha untuk membantu pengembangan usaha para mantan narapidana (napi) terorisme dan eks kombatan konflik Poso.

Pelatihan penguatan wirausaha eks napi terorisme. (Foto: Budiyanto)

Wirausaha menjadi pilihan para mantan napi terorisme di Poso untuk memulai hidup mereka kembali seusai menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Palu.

Ada sebelas orang napi terorisme dan eks kombatan konflik Poso menjadi peserta kegiatan pelatihan penguatan usaha.

Adriani Badra, direktur sebuah LSM yang bekerja dalam kegiatan kajian dan penelitian konflik di Sulawesi Tengah mengatakan, kegiatan pelatihan penguatan usaha itu sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi yang selama ini sudah dilaksanakan oleh pemerintah dan lembaga non pemerintah di Poso, khususnya terhadap mereka yang pernah terlibat dalam kasus-kasus terorisme.

“Dari sejumlah nama itu mereka ini adalah para mantan atau eks narapidana teroris yang telah bebas, dan juga ada beberapa orang yang mantan kombatan yang tidak terproses secara hukum, tetapi terlibat beberapa kejadian kekerasan yang terjadi pasca konflik. Itu kemudian mereka mencoba bagaimana untuk survive hidup, jadi ada yang melakukan dengan modal usaha sendiri awalnya, namun ada yang melalui intervensi program pemberdayaan ekonomi dari beberapa institusi atau lembaga, baik yang dari pemerintah maupun non pemerintah,” terangnya.

Adriani mengatakan, meskipun telah mendapatkan intervensi berupa bantuan modal usaha baik dalam bentuk peralatan maupun dana segar, tetapi umumnya kegiatan wirausaha para mantan napi terorisme dan kombatan Poso belum banyak berkembang. Itu diakibatkan keterbatasan pengetahuan terkait managemen usaha, pengemasan produk, serta pemasaran baik secara tradisional maupun secara online.

“Sehingga melalui kegiatan pelatihan penguatan usaha ini diharapkan dapat membuat kegiatan wirausaha para mantan narapidana terorisme semakin berkembang,” ungkap dia.

Pelatihan kewirausahaan bukan sekedar hal-hal yang bersifat teknis tapi juga ada hal-hal penguatan yang sifatnya lifeskill. “Bagaimana kemudian proses kita ini benar-benar bagian komitmen bahwa inilah jalan keluar agar tidak lagi mengulangi tindakan-tindakan yang merugikan mereka sendiri maupun bagi masyarakat,” ujar Adriani.

Wakil Bupati (Wabup) Poso, Samsuri, memastikan Pemkab Poso akan mendukung upaya pengembangan kegiatan wirausaha yang dilakukan oleh para napi terorisme dan eks kombatan di daerahnya. Dukungan itu diberikan dalam bentuk bimbingan dari ahli-ahli peternakan, pertanian, perkebunan dan perdagangan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“Kita sebenarnya ingin juga sama-sama membimbing untuk lebih terarah. Kalau kita punya peternakan kita juga ada ahli peternakan. Misalnya ada sapi yang tidak bunting-bunting, ahli kita bisa mengatasi,” ujar Wabup.

Arifudin Lako alias Brur, mantan napi terorisme yang bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) pada 2015 silam mengakui bahwa seusai menjalani masa hukuman ia dan rekan-rekannya berupaya kembali ke tengah masyarakat dan beraktifitas mencari nafkah seperti warga Poso pada umumnya. Namun usaha tersebut terkendala pada modal usaha untuk memulai ataupun untuk pengembangan usaha. “Mantan napi terorisme bahkan eks kombatan itu sampai sekarang ada beberapa yang bahkan pekerjaannya belum ada yang tentu, atau pekerjaan tetap. Jadi lewat kegiatan seperti ini saya pribadi berharap dari Pemda juga bisa terketuk dan bisa membuka peluang untuk teman-teman semisal memberikan modal bantuan usaha atau dibuka peluang atau dibukakan jaringan untuk usaha teman-teman,” urai Brur.

Wirausaha menjadi pilihan bagi narapidana terorisme di Poso untuk memulai kehidupan baru seusai menjalani masa hukuman di lembaga pemasyarakatan selama bertahun-tahun. Mereka umumnya berupaya mencari nafkah berdasarkan keterampilan baik di sektor pertanian, peternakan, kuliner, audio visual  maupun usaha jasa seperti perbaikan kendaraan dengan membuka usaha perbengkelan.

Dengan cara demikian mereka berharap kini dapat menjadi bagian dalam kegiatan pembangunan serta mengkampanyekan Poso sebagai daerah yang sudah aman dan kondusif untuk dapat dikunjungi siapa saja, termasuk oleh wisawatan dalam dan luar negeri.(bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.