Kasus Dana Penelitian Untad; Vonis 2 Tahun, Kasasi Malah Jadi 6 Tahun

0
136

PALU –  Bukannya berkurang atau tetap pada hukuman yang sudah diterimanya saat ditingkat pertama maupun di tingkat banding, kini hukuman pidana yang akan dijalani Prof Dr Sultan MSi, malah bertambah lebih berat lagi.

Ilustrasi

Dosen di Universitas Tadulako (Untad) ini, harus menjalani hukuman pidana pokok selama 6 Tahun penjara, karena kasasi yang dimohonkannya ke Mahkamah Agung (MA) telah keluar dengan hasil “tolak perbaikan”.

Prof  Dr Sultan MSi, merupakan terdakwa kasus dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan dana penelitian tahun 2014-2015, yang berperkara sejak ditingkat pertama pada PN Klas IA/PHI/tipikor Palu, dan ditingkat Banding telah dinyatakan terbukti bersalah.

Upaya hukum kasasi terhadap putusan Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu (pengadilan pengaju), yang dimohonkan terdakwa  ke Mahkamah Agung (MA) telah diputus  sejak tanggal 11 Desember 2017 lalu. Dari saat itu pengadilan pengaju kemudian menerima petikan putusan kasasi perkara itu Januari 2018 kemarin.

“Putusan kasasi Prof Sultan dari MA telah turun hanya masih dalam bentuk petikan, isinya tolak perbaikan,” ungkap Humas PN Klas IA/PHI/Tipikor Palu, Lilik SugihartonoSH.

Putusan kasasi perkara Prof Sultang dari MA bernomor: 2002 K/Pid.Sus/2017. Maksud putusan MA tolak perbaikan, kata Lilik selain ditolak  hakim agung MA ditingkat kasasi juga memperbaiki putusan sebelumnya yakni pada tingkat banding  Pengadilan Tinggi (PT) Sulteng.

“Dalam amarnya, MA menolak permohonan kasasi pemohon, dan memperbaiki putusan atau membatalkan putusan banding PT Sulteng,” sebut Lilik.

Kata Lilik, hukuman terdakwa Prof Sultan berdasarkan petikan itu malah naik lebih berat dari putusan tingkat pertama, maupun tingkat banding. Selain dihukum badan 6 tahun penjara, terdakwa Prof Sultan  juga dihukum membayar denda Rp 200juta, subsider 6 bulan kurungan, serta hukuman tambahan membayar  uang pengganti Rp311 juta, subsider 1,6 tahun penjara.

“Petikan putusannya kemarin sudah sementara didistribusikan ke para pihak,”   terang Lilik.

Terdakwa Prof  Sultan saat melakukan dugaan perbuatannya itu  menjabat sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Tadulako (Untad) tersebut. Dalam perkara ini dia dijerat bersama bendaharan Fauziah Tendri, yang juga terbukti bersalah. Dia sebelumnya diduga melakukan pemotongan dana penelitian sebesar 5 persen pada tahun 2014-2015, masing-masing Rp172,35 juta di tahun 2014 dan Rp419,725 juta di tahun 2015.

Selain itu, ada dana yang tidak dibayarkan ke peneliti, masing-masing Rp172,35 juta di tahun 2014 dan Rp146,25 juta di tahun 2015, cicilan pembayaran kepada peneliti Rp30,9 juta sehingga totalnya Rp287,7 juta. Dalam proses pembuktian Di Pengadilan tingkat pertama, dia dinyatakan terbukti bersalah kemudian dihukum dengan pidana penjara penjara  2 tahun.

Vonis ini lebih rendah dibanding tuntutan jaksa selama 4 tahun penjara, denda Rp50 juta subsider 3 bulan kurungan dan membayar uang pengganti sebesar Rp230 juta, subsider  2 tahun kurungan. Atas putusan itu selanjutnya terdakwa dan JPU mengajukan upaya hukum banding ke PT Sulteng.

Hasil putusan ditingkat banding berbeda. PT Sulteng membatalkan putusan pengadilan tingkat pertama dan menghukum terdakwa dengan pidana 3,6 tahun penjara, denda Rp50 juta, subsider dua bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp311 juta, subsider 8 bulan kurungan.

Tidak terima lagi dengan putusan ditingkat banding itu, terdakwa selanjutnya memohonkan upaya hukum kasasi ketingkat MA.  Ternyata lebih parah, hasil putusan MA malah naik lebih berat dari putusan sebelumnya di tingkat pertama dan tingkat banding. Prof Sultan harus menjalani pidana pokok penjara selama 6 tahun. (cdy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here