TAJUK | Pentingnya Peran Orang Tua Awasi Anaknya Gunakan Sepeda Motor 

0
388

KECELAKAAN lalu lintas (Lakalantas) kembali merenggut nyawa seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP). Peristiwa naas ini terjadi di Desa Lahu Afu Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali. Korban yang teridentifikasi bernama Akbar mengendarai sepeda motor berboncengan dengan temannya Abdillah (17). Kecelakaan terjadi ketika korban hendak mendahului mobil dump truk tapi dari arah berlawanan muncul mobil pikap. Korban panik dan tidak bisa menguasai keadaan sehingga menabrak mobil di depannya.

Lakalantas termasuk dalam lima besar penyumbang angka kematian di Indonesia. Lebih miris lagi jika yang menjadi korban adalah kalangan pelajar. Sebab usia pelajar dari aspek legal memang belum bisa mengendarai kendaraan bermotor. Tapi faktanya, tidak susah menemukan pelajar lalu lalang di jalan dengan sepeda motor. Maka upaya pencegahan terhadap terjadinya Lakalantas di kalangan pelajar atau anak-anak pada umumnya, akan efektif bila dimulai dari pengawasan orang tua di rumah. Setelah itu, pengawasan guru di sekolah dan terakhir edukasi dari pihak kepolisian, baik terhadap pelajar maupun masyarakat.

Pengawasan orang tua memegang peran kunci. Jangan membiarkan anak-anaknya yang masih SMP membawa kendaraan sendiri ke sekolah maupun tempat-tempat lain. Namun dengan alasan praktis dan kemudahan, saat ini ada kecenderungan sebagian orang tua justeru memberi fasilitas sepeda motor kepada anak-anaknya. Padahal anak yang bersangkutan belum layak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Kecenderungan ini tidak saja terjadi di kota tapi berlaku hingga ke pelosok-pelosok desa.  Bila fenomena semacam ini terus berlanjut, kita khawatir peristiwa-peristiwa seperti yang baru saja terjadi di Bungku Timur akan makin sering terjadi.

Maka selain pentingya pengawasan orang tua dari rumah dibutuhkan pula peran aktif dari sekolah untuk memantau siswanya yang mengendarai sepeda motor. Demi keselamatan bersama maka sekolah dapat membuat regulasi yang  melarang siswanya mengendarai sepeda motor ke sekolah. Ini diberlakukan bagi satuan pendidikan tingkat SMP/MTs. Dengan adanya larangan dari pihak sekolah, diharapkan dapat mengurangi potensi terjadinya kasus-kasus Lakalantas yang melibatkan pelajar.

Adanya bus sekolah yang beroperasi di setiap daerah sebetulnya dapat mendukung agenda ini. Bus sekolah, selain mengurangi beban orang tua siswa untuk biaya transportasi bagi anak-anaknya lebih jauh dapat menghindarkan pelajar yang belum memenuhi syarat untuk membawa kendaraan sendiri. Masalahnya karena hampir di semua daerah keberadaan bus sekolah sudah tidak beroperasi. Pemda kurang peduli dengan soal ini meskipun manfaatnya sangat bagus. Di satu sisi membantu masyarakat dan pada sisi yang lain turut berkontribusi bagi keselamatan lalu lintas untuk anak-anak pelajar.

Di atas segala upaya-upaya ini, kita berharap agar jajaran kepolisian bersama seluruh mitranya tetap aktif melakukan sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya keselamatan di jalan raya. Jajaran Polres di setiap kabupaten perlu memperluas jangkauan sekolah-sekolah yang menjadi sasaran. Karena hanya dengan upaya edukasi secara terus menerus kita harapkan menumbuhkan kesadaran  masyarakat untuk berperan dan menjadi bagian dari agenda meningkatkan keselamatan lalu lintas.  (**)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.