Ditutup, Polda Sulteng Terus Awasi Tambang Emas Poboya

0
878
ILUSTRASI: Kegiatan di lokasi tambang emas di Dusun Vatutempa, Poboya, beberapa waktu lalu. (Foto: dok. bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU –  Kepolisian Daerah (Polda) Sulteng akhirnya bertindak tegas. Lokasi tambang emas di kelurahan Poboya dinyatakan ditutup dan terus dilakukan pengawasan. Sebelumnya, aktivitas tambang beroperasi dan hanya dinikmati segelintir pengusaha tanpa memperhitungkan dampak lingkungan yang mengancam masyarakat Kota Palu dan sekitarnya.

Sebelumnya kepada sejumlah wartawan, Kapolda Sulteng Brigjen Pol I Ketut Agrawa dengan tegas meminta agar tidak ada lagi aktivitas tambang di wilayah tersebut dan dinyatakan ditutup. Bahkan, pemantauan lokasi tambang Poboya, juga dilakukan menggunakan helikopter.

Plt Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hery Murwono ditemui Radar Sulteng, kemarin menyampaikan bahwa saat ini Polda masih terus melakukan pemantauan di sekitaran lokasi tambang emas poboya, karena jelas dalam perintah Kapolda bahwa tidak ada lagi aktivitas di sekitaran wilayah tersebut.

” Kami dari Polda Sulteng sendiri masih terus melakukan pemantauan di sekitaran lokasi tambang emas poboya, karena jelas perintah Kapolda aktivitas tambang dihentikan bahkan ditutup, “ungkapnya. Jumat (16/2) kemarin.

Sementara sumber Radar Sulteng menyebutkan, untuk mengetahui masih beroperasinya tambang emas di Poboya tidaklah sulit. Apabila masih diberlakukan penjagaan (dipalang pintu)  menuju kawasan tambang emas Poboya mengindikasikan bahwa aktivitas pertambangan masih ada. Namun, bila penjagaan tersebut tidak ada dan terbuka untuk umum berarti lokasi tersebut benar-benar ditutup.

Sebelumnya, pada Sabtu 4 November 2017 sekitar pukul 10.15 wita petugas Ditreskrimsus Polda Sulteng mendatangi rumah H alias Pak U di Jl. Basokavola Kel. Poboya Kec. Mantikulotre kota Palu dan menemukan Mercury / HG atau yang biasa disebut air perak sebanyak 8 (delapan) botol ukuran 1 kg (satu kilogram). Kemudian berdasarkan pengembangan yang dilakukan tim satgas Poboya, diketahui bahwa Mercury tersebut diperoleh dari MN alias PM alias M yang beralamat di Kel. Poboya kota Palu.

” Dalam penyelidikan yang dilakukan tim satgas Poboya Ditreskrimsus Polda Sulteng telah mengamankan barang bukti berupa 8 (delapan) botol Mercury yang bertuliskan merk Mercury  HG Special For Gold 99,999 % Weight 1 Kg Net, ” kata Hery.

Berdasarkan hasil pengembangan penyelidikan yang telah dilakukan petugas Ditreskrimsus Polda Sulteng, selanjutnya perkara ini ditingkatkan dari lidik ke sidik sesuai dengan Laporan Polisi nomor LP-A/01/I/2018/SUS tanggal 2 Januari 2018. “ Berdasarkan Laporan Polisi tersebut maka penyidik Ditreskrimsus melakukan pemeriksaan terhadap terlapor MN alias PM dan beberapa saksi antara lain HA, SM dan HU,” jelasnya.

Dari hasil pemeriksaan para saksi dan terlapor pada tingkat penyidikan serta dari hasil gelar perkara yang dilaksanakan pada tanggal  26 Januari 2018 maka terlapor MN alias PM alias M ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan perkara telah memperdagangkan  dan atau menyalurkan Bahan Berbahaya dan Beracun ( B3 ) jenis Merkuri tanpa memiliki izin yang sah yang dikeluarkan oleh pemerintah. “Sebagaimana diatur dalam pasal 106 jo pasal 24 ayat (1) UU RI No. 07 Tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 4  tahun atau pidana denda paling banyak Rp  10  Juta,” tambahnya. (who)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.