Apotek di Palu Mulai Tarik Produk Albothyl

0
888

PALU – Albothyl adalah salah satu obat yang mengandung Policresulen, setelah ada 38 kasus yang disebabkan obat tersebut, untuk sementara izin edarnya dibekukan. Distributor pun diminta harus menarik obat di pasaran dengan jangka waktu satu bulan, mulai 15 Februari hingga 15 maret 2018.

Albothyl (@tribunbali.com)

Sejumlah apotek di Kota Palu sudah melakukan penarikan obat Albothyl dari pajangan etalase apotek dan menyimpannya dan menunggu secara resmi BPOM dan Dinas kesehatan Kota Palu melakukan penarikan obat tersebut.   Salah seorang penjaga Apotek, Nindy menyebutkan, apotek tempatnya bekerja sudah tidak menjual obat yang mengandung Policresulen dan memanjangnya di etalase apotek. Ia masih menunggu penarikan secara resmi oleh BPOM dan intansi terkait.

“Obat Albothyl masih ada tapi kita sudah tidak pajang di etalase dan tinggal tunggu penarikan,” ungkapnya Senin (19/2) kemarin.

Namun demikian, dirinya juga masih juga menunggu hasil klarifikasi dari PT Pharos Indonesia yang merupakan produsen Albothyl terkait temuan Badan POM beberapa waktu lalu yang menemukan policresulen dalam obat Albothyl. Penjual obat yang dicabut izin edarnya dapat dijerat dengan pasal 197 No 36 Tahun 2009 tentang Undang-undang Kesehatanan tentang pelarangan izin edar atau obat yang ijin edarnya telah dicabut. Dimana undang-undang kesehatan ini adalah untuk orang yang mengedarkannya dan bukan menjerat pemakainya.

Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sulteng saat dikonfirmasi mengatakan, ada empat produk yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat yaitu Albhothyl produsen PT Pharos Indonesia, Medisio Distributor PT Pharos Indonesia, Prescotide Produsen PT Novel Pharmaceutical laboratories dan Aptil Produsen PT Pratapa Nirmala.

Saat ini semua produk yang mengandung policresulen ditarik dar pasaran, dan akan diteliti lebih jauh, karena memang fungsi oabt tersebut untuk medis belum di cabut hanya saja di tarik karena akan diteliti. Menurutnya, jika policresulen dilarutkan dalam air untuk kumur, atau pembersih luka makan konsntratnya akan berkurang, sehingga efek samping obat akan berkurang pula. 38 kasus yang telah ada di BPOM RI saat ini adalah kasus sakit sariawan diobati dengan Albhotyl  menjadi lebar dan tambah sakit.

“Albhotyl itu sampai keluar negeri, berdasarkan keterangan masyarakat sangat ampuh untuk mengobati sariawan, untuk kumur dengan konsentrat yang sedikit tidak masalah sebenarnya,” sebutnya.

Namun karena saat ini policresulen sedang dalam pengawasan dan penelitian, sebaiknya tidak digunakan dalam bentuk apapun, baik dilarutkan dalam air. Jika setelah diteliti oleh BPOM tidak menutup kemungkinan akan dipasarkan kembali. “Tidak menutup kemungkinan dipasarkan kembali, hanya saja cara penggunaanya yang dirubah,” ungkapnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, dr Royke Abraham menjelaskan, policresulen dilarang karena ditemukan chemical burn (luka bakar) pada selaput lendir rongga mulut. Badam POM menganggap cairan policresulen konsentrasi 36 persen pemakaiannya harus dengan pengenceran terlebih dahulu. “Policresulen cairan obat luar konsentrat 36 persen tidak lagi direkomendasikan penggunanaya untuk indikasi pada bedah, dermatologi, otolaringologi, stomatologi, dan odontologi,” ucapnya saat membaca surat rekomendasi BPOM. (cr3/umr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.