Cerita Ayah dan Ibu Al Fayer, Bocah Korban Pengeroyokan di Petobo

0
11088

Kabut duka masih menyelimuti keluarga dari Iwan. Putranya, Al Fayer, baru saja pergi meninggalkan dirinya dan keluarga untuk selama-lamanya. Bukan hanya kepergian siswa kelas VIII (delapan) di salah satu SMP Negeri di Kota Palu itu, yang membuat keluarga terpukul, namun juga penyebab kematiannya yang tidak wajar.

Laporan: MOH SALAM, Petobo

Orang tua Al Fayer, siswa SMP yang dikeroyok hingga meninggal dunia menceritakan keseharian anaknya.

FAYER, begitu Al Fayer akrab dipanggil oleh keluarganya. Dia terakhir kali meninggalkan rumah, dan berpamitan kepada sang Ibu hendak ke masjid. Namun, seolah pertanda, pamitan itu menjadi pamitan terakhir Fayer, karena selang beberapa jam kemudian, orang tuanya menerima kabar jika sang anak tengah berada di rumah sakit usai menjadi korban main hakim sendiri.

Yang lebih membuat keluarga shok, Fayer disebut terlibat kasus pencurian sehingga menjadi bulan-bulanan oknum warga. Keluarganya pun tidak percaya, jika anak yang dikenal rajin beribadah itu, bisa terlibat kasus pencurian. Setiap sore menjelang malam, menurut Mira, ibu dari Al Fayer, anaknya memang kerap pamit ke masjid untuk menunaikan salat magrib secara berjamaah.

Tidak ada firasat buruk dari Mira, jika nyawa anaknya akan berakhir tragis saat itu. Fayer pun dalam kesehariannya, merupakan anak yang patuh kepada orang tuanya serta tidak pernah membuat keributan yang menyusahkan orang sekitarnya.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini, juga diketahu kerap menghabiskan waktu usai sekolah dengan bekerja di salah satu tempat pencucian motor. Orang tuanya sudah sering meminta agar Fayer untuk tidak bekerja, namun dirinya bersikukuh ingin  menambah uang jajan dari hasil kerjanya tersebut.

“Setiap mau ke masjid, dia ini juga yang paling rajin panggil teman-temannya sama-sama salat berjamaah di masjid,” tutur Mira.

Di sekolah pun, tidak ada laporan bahwa anaknya kerap berbuat keributan. Malah, Fayer tergolong anak yang cerdas, karena kerap kali mendapat nilai memuaskan, terutama pada mata pelajaran Matematika.

Iwan, ayah Fayer, juga tidak percaya jika almarhum terlibat kasus pencurian sebelum meninggal, sebab dirinya selalu memberikan nasehat dan mengajarkan anaknya untuk berperilaku baik, di mana pun itu.

Menurut Iwan, setiap pagi sebelum Fayer pergi ke sekolah pasti diberikan nasehat agar tidak bolos dan sekolah dengan sebaik-baiknya sehingga bisa menjadi orang yang sukses.

“Setiap pagi sebelum dia ke sekolah pasti tidak pernah saya tidak berikan nasehat sama dia untuk tetap sekolah baik-baik dan menjaga kepercayaan orang tua,” ujarnya.

Ia juga sering melihat kebiasaan yang baik dari anaknya yaitu suka bergaul sama siapa saja termasuk dengan orang tua teman-temannya sehingga Fayer tidak hanya dikenal dikalangan temannya sendiri melainkan juga dikenal serta akrab dengan orang tua temannya tersebut.

Iwan menyebutkan, dirinya mendapat informasi dari tetangganya, jika anaknya dilarikan ke rumah sakit dengan keadaan kritis, sekitar pukul 21.00 wita. Dia pun yakin, jika anaknya jadi korban salah sasaran.

Tidak hanya keluarga, rekan-rekan sekolah korban pun juga tidak menyangka jika Fayer yang dikenal dengan sosok rajin dan akrab dengan teman-temannya itu akan melakukan perbuatan tercela seperti yang dituduhkan. Keluarga berharap, pihak berwajib segera mencari kebenaran tentang kasus yang hingga menyebabkan anak lelakinya itu meninggal dunia.

Dia juga meminta, dengan segera diusutnya kasus ini, agar tidak ada lagi Fayer berikutnya yang menjadi korban salah pukul diakibatkan masyarakat yang suka main hakim sendiri di lapangan ketika mendapatkan pelaku kejahatan. “Baiknya pihak berwajib segera tuntaskan masalah ini,” harap Iwan. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.