Penyu Berusia Ratusan Tahun Dilepasliarkan

0
306

MOROWALI – Aparat dari UPT Kelautan Wilayah IV Sulteng, PSDKP Satker Luwuk Pos Morowali, Dinas Perikanan Kabupaten Morowali Utara dan Personel Pol Air, pekan kemarin berhasil mengamankan penyu hijau dari rumah salah seorang warga di sekitar Pelabuhan Kota Kolonodale. Penyu yang memiliki bobot 200 kg tersebut, usianya diperkirakan sudah ratusan tahun.

Penyu hijau yang diamankan dari salah seorang warga di Kota Kolonodale oleh tim terpadu. (Foto: UPT Wilayah 3 Kelautan)

Kepala UPT Wilayah III Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, H Muchlis Baeda, SPi, MSi, mengatakan bahwa penyu dengan nama latin Chelonia mydas tersebut, diamankan dari salah seorang warga. Merupakan hewan yang dilindungi, sehingga penyu tersebut harus dilepas kembali ke alam bebas.

“Kita bersama dengan teman-teman dari Polair ketika menjemput penyu tersebut. Hal ini dilakukan, seandainya ada penolakan dari warga untuk menyerahkan penyu tersebut,”kata H Muchlis ditemui Senin kemarin (26/2).

Staf di Pos PSDKP Luwuk Satker Morowali, Mulyadi SSTPi, dihubungi terpisah, mengakui bahwa informasi terkait keberadaan penyu tersebut, berasal dari postingan salah seorang warga, yang ingin menjual seekor penyu hijau.

“Saya kemudian menghubungi nomor yang ada di postingan itu. Saya berpura-pura ingin membeli. Saya tanya apakah penyu-nya masih ada, orang itu menjawab masih ada. Lalu saya bilang tolong disimpan, saya dari Bungku mau datang beli,”kata Mulyadi.

Selanjutnya, Mulyadi melakukan koordinasi dengan UPT Wilayah IV Kelautan. Setelah memastikan bahwa keberadaan penyu tersebut benar-benar ada di rumah warga, kemudian dilakukan koordinasi lagi dengan aparat dari Polair. Setelah itu, tim lintas instansi tersebut, mendatangi rumah nelayan yang menyimpan penyu tersebut.

Saat didatangi, Mulyadi langsung melihat keberadaan penyu tersebut yang ditempatkan di bawah rumah warga yang bernama Rahman. Awalnya, Rahmat mengakui kalau penyu tersebut adalah miliknya. Namun saat Mulyadi memberikan sosialisasi, khususnya larangan memperjualbelikan hewan yang dilindungi, Rahman kemudian berkelit. Dia mengatakan, bahwa penyu tersebut milik Hadamin, ayahnya.

“Kepada kami, Hadami itu mengaku bahwa penyu tersebut tersangkut di pukatnya. Kemudian kami sampaikan, bahwa hewan ini adalah termasuk jenis yang dilindungi, sehingga tidak boleh dipelihara apalagi sampai dibunuh,”kata Mulyadi.

Kata Mulyadi, di akun Facebooknya, Rahman menawarkan bagi siapa saja yang ingin membeli penyu seberat 200 kg dengan harga Rp1,5 juta. Baik Hadamin maupun Rahman, tidak mau disalahkan, karena menurut mereka, bahwa penyu tersebut datang sendiri ke sero (jala)nya.

“Saya kemudian sampaikan, mestinya setelah penyu tersebut masuk dalam jaring, harus dilepaskan lagi ke laut. Dalam UU dilarang, memperjualbelikan bahkan menyimpan. Setelah mereka paham, kami kemudian buat surat pernyataan. Baik yang mengunggah dan yang mengaku pemilik. Keduanya juga kami minta untuk menyaksikan saat pelepasliaran,”sebutnya.

Sebelum dilepas kembali ke laut, dilakukan dulu proses identifikasi terhadap penyu tersebut. Diperoleh informasi, kalau hewan yang satu-satunya spesies dalam golongan Chelonia tersebut memiliki lebar 92 cm lebar, panjangnya 1,2 meter dan bobotnya 200 kg. Jenis kelaminnya jantan dan usianya diperkirakan sudah ratusan tahun.

“Kita tidak bisa pastikan usianya sudah berapa tahun. Kalau dilihat dari cangkang atau batoknya yang sudah berwarna hitam, kemungkinan memang penyu tersebut sudah ratusan tahun,”katanya lagi.

Mulyadi, mengungkapkan bahwa kasus pengungkapan usaha memperjualbelikan penyu, bukanlah yang pertama kali terjadi. Sejak 2016 sampai dengan saat ini, Mulyadi mengaku sudah berhasil menyita atau menggagalkan usaha penjualan 132 ekor penyu.

Kasus terbesar yang pernah diungkap Mulyadi, sekitar April 2016 yang lalu. Di desa Ulunambo Kecamatan Menui Kepulauan, Mulyadi bersama rekan-rekannya berhasil menyita 70 ekor penyu dari berbagai ukuran. “Bahkan ada yang panjangnya hampir 2 meter,”ungkapnya.

Kemudian di Kecamatan Bungku Tengah, Mulyadi pernah menyita 22 ekor penyu hijau yang sudah siap untuk dijual ke Kota Luwuk Kabupaten Banggai. Setelah itu, juga berhasil penyitaan di beberapa lokasi, sehingga sampai dengan kasus terakhir pekan kemarin, sudah berhasil diselamatkan 132 ekor penyu hijau.

“Penyu ini dibeli di nelayan sekitar Rp300 perekor, kemudian oleh penampung dijual lagi di Luwuk yang harganya sudah bisa sampai Rp1,5 juta perekor. Nanti akan dikirim ke Bali. Kalau sudah di Bali, harganya sudah selangit. Penyu hijau ini diperjualbelikan, untuk dikonsumsi di restoran-restoran,”demikian Mulyadi.(hnf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.