Bukan Penambangan Batu Gajah di Desa Rarapadende, Tapi Pembersihan Lahan

0
521

SIGI – Kepala Dusun, Desa Rarampadende, Iwan mengklarifikasi terkait dugaan adanya penambangan batu gajah di wilayahnya. Yang ada kata Iwan, pembersihan lahan milik warga, agar tanah berbatu tersebut bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

Lahan berbatu milik masyarakat dibersihkan agar dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian. (Foto: Aspeta)

‘’Apa yang disangkakan oleh Bupati Sigi Mohamad Irwan terkait penambangan ilegal di desa tersebut sama sekali tidak benar.  Aktifitas tersebut merupakan pembersihan lahan. Di mana lahan masyarakat  tersebut memiliki tekstur tanah berbatu, sehingga dalam bertani seperti menanam jagung masyarakat sedikit kesusahan,’’ jelas Iwan bersama pemilik lahan yang datang langsung ke Radar Sulteng, kemarin (27/2).

Oleh karena itu kata Iwan, dengan adanya pembersihan lahan, masyarakat merasa terbantu khususnya dalam bertani. Bahkan lanjut Iwan, pembersihan lahan di area pertanian warga itu merupakan permintaan dari masyarakat desa sendiri, yang disampaikan ke Kantor Aspeta Sulteng.

Sebelum melakukan pembersihan lahan dari material batu gajah, pihak Aspeta pun terlebih dahulu melakukan peninjauan lokasi yang akan dilakukan pembersihan. Dukungan masyarakat terhadap pembersihan lahan pertanian dari batu gajah itu, dituangkan dalam lembar persetujuan yang ditandatangani oleh 240 masyarakat Desa Rarampadende termasuk pemilik lahan.

“Jadi salah besar kalau dikatakan itu pertambangan. Kami juga kecewa dengan sikap Bupati Sigi yang melarang aktifitas pembersihan lahan. Karena menurut kami dengan adanya bantuan dari Aspeta, masyarakat pemilik kebun juga terbantukan, khususnya dalam pertaniannya,” jelas Iwan.

Diungkapkan Iwan, sebelum adanya pembersihan di Desa Rarampadende sudah ada aktifitas serupa di desa tetangga. Dan yang membuat masyarakat kecewa, aktifitas itu sama sekali tidak disorot atau diberhentikan oleh Pemerintah Kabupaten Sigi. Sehingga masyarakat menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Bupati Sigi, tindakan pilih kasih.

“Di desa tetangga itu adik dari Bupati Sigi yang melakukan pekerjaan itu. Dan kenapa tidak diberhentikan juga,” terang Iwan  dengan nada bertanya.

Masih menurut Iwan, pembersihan lahan itu juga dianggap berdampak positif kepada masyarakat. Karena dalam pengerjaannya, masyarakat desa yang tidak memiliki pekerjaan diberdayakan dalam proses pembersihan. Dan lubang-lubang bekas pengambilan batu, ditutup dan diratakan kembali.

Sementara Samin Lazim, selaku pemilik lahan menyampaikan, dalam bertani atau menanam jagung ia tidak kesulitan lagi. Di mana sebelumnya lahan perkebunan tersebut berbatu dan sulit ditanami.

“Memang batu gajah itu mau mereka angkut sekalian untuk proyek sungai yang dikerjakan oleh Pemerintah Pusat, kenapa tidak masyarakat sigi juga ikut membantu. Apalagi ke depan kami bisa lebih leluasa menanam di lahan ini,” ungkapnya.

Dengan adanya tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sigi, masyarakat berharap agar pemerintah bisa memikirkan masyarakat dan bersikap seadil-adilnya, serta memberi solusi terbaik menyangkut persoalan ini.

“Kalau Bupati Sigi mau berlaku adil dan tegas, kenapa pertambangan serupa yang dilakukan di desa lain tidak ditindak,” demikian tegasnya. (ndr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.