Rencana Pembongkaran Jembatan Pamona Tentena Ditentang

0
1315
Inilah kondisi jembatan Pamona di Tentena. Jembatan ini memiliki nilai sejarah Masale simbol kearifan lokal masyarakat Pamona. (Foto: Budiyanto)

POSO – Rencana pembongkaran bangunan jembatan Pamona di Kota Tentena oleh pemerintah kabupaten (Pemkab) Poso memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat setempat. Meski ada yang setuju, namun tak sedikit orang yang sudah terang-terangan menolaknya.

Salah satu pihak yang keberatan terhadap rencana Pemkab Poso membongkar jembatan kayu ini adalah Jimmi Methusala. Aktivis lingkungan ini dengan tegas menolak dan akan melakukan perlawanan jika Pemkab Poso nantinya akan benar-benar membongkar dan mengganti jembatan Pamona yang terbuat dari bahan kayu tersebut dengan model baru berbahan beton.

Pasalnya, jembatan yang dibuat pada tahun 1930-an ini memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi bagi orang Poso. Bila dipaksakan, sejarah Masale terancam tinggal kenangan karena wujudnya sudah tidak ada.

‘’Kami akan melawan upaya menghilangkan sejarah Masale (gotong royong) orang Poso yang diperlihatkan ketika membangun jembatan Pamona itu,” kata anggota individu Walhi yang juga salah seorang pegiat sosial di kabupaten Poso pada wartawan, kemarin.

Ketika dulu pembangunan jembatan Pamona di lakukan, setiap orang yang tinggal di pinggir danau punya kewajiban ikut membangunnya, baik dalam bentuk tenaga maupun material kayu. “Masale. Itulah salah satu nilai budaya orang Poso yang dicerminkan dari jembatan Pamona. Dan itu harus dipertahankan agar tetap ada,” tandasnya.

Suara penolakan juga keluar dari Yustinus Hokey. Budayawan Poso ini meminta agar Pemkab Poso memikirkan kembali rencana merubah jembatan Pamona. Dirinya yakin jembatan yang ada sekarang masih bagus dan konstruksi bangunannya masih sangat kuat.

‘’Jembatan itu dari kayu tahan lama, itu kayu khusus. Selain memuat kearifan lokal, jembatan itu sarat sejarah. Jadi kalau mau direnovasi tetap pake kayu,” kata Yustinus.

Menurutnya, kondisi kayu yang menyangga jembatan itu sampai sekarang masih kuat. Sikap Yustinus sebenarnya sudah lama diungkapkan lewat syair lagu Yondo Pamona yang ditulisnya pada awal tahun 90-an. ‘’Kupowani siko yondo m’Pamon’. Pamona todo tenjani n’Tentena, siko na pangkeni tau rata, lese na mpo palindo ndaya’’ (kukagumi engkau jembatan Pamona, jembatan Pamona yang tetap ada di Tentena, engkau akan menjadi warisan di masa depan, indah dilubuk sanubari).

Kendati meminta Pemkab Poso untuk meninjau kembali rencana renovasi atau pembongkaran jembatan tua itu, Yustinus setuju jika dilakukan penataan pinggiran sungai sepanjang kelurahan Sangele-Tentena yang sudah di penuhi bangunan. Yustius bahkan menyarankan agar pemerintah dan DPRD membuat peraturan daerah untuk menatanya sehingga di masa mendatang tidak terjadi penyempitan aliran sungai seperti di kota-kota besar seperti Jakarta.

Pendapat berbeda disampaikan Simson Rizal. Pemuda ini justru mendukungnya demi pengembangan pembangunan kawasan wisata di Kota Tentena. Apalagi jembatan tersebut juga sudah pernah di renovasi pemkab pada tahun 1984 silam. Pembangunan renovasi jembatan pun menganggarkan dana APBD. “Untuk keindahan dan manfaatnya saya pikir tidak masalah jika di renovasi,” ujarnya.

Rencana renovasi jembatan Pamona dibenarkan oleh kepala Bapelitbangda Poso, Suratno Teguh. Dalam wawancara dengan wartawan via telepon, Suratno mengatakan, mengganti jembatan Pamona yang terbuat dari kayu menjadi jembatan dengan konstruksi beton lebih pada alasan teknis, yakni saat ini sudah sulit menemukan kayu yang sama untuk mengganti konstruksi jembatan itu.

“Kita akan menggantinya dengan bahan beton. Modelnya sebagian kita rubah sehingga di jembatan itu nanti lebih luas dan orang bisa berjualan,” tetangnya. Proyek itu lanjut dia merupakan bagian dari program CSR PT Poso Energy, perusahaan pembangkit listrik milik keluarga Wakil Presiden Jusuf Kalla yang ada di desa Sulewana Pamona Utara.

Tahun 2017 lalu, PT Poso Energy telah menandatangani kesepakatan dengan Pemkab Poso untuk membangun lokasi wisata taman air yang meliputi kawasan sekitar mulut danau Poso melewati beberapa kelurahan hingga ke kelurahan Tendeadongi sepanjang hampir 2 kilometer. Pada Maret ini sudah akan dilaksanakan studi Amdalnya dan satu bulan kemudian, yakni bulan Mei 2018 pekerjaan konstruksi tahap awal sudah akan dimulai. Pengerjaan proyek ini akan memakan waktu 3 tahun ke depan. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.