Paus 12 Meter Muncul di Teluk Malala Tolitoli

0
427

TOLITOLI—Bentangan laut Kota Cengkeh paling sering disambangi mamalia laut. Selain habitat dugong yang melegenda, salah satu megafauna yakni Paus juga kerap menampakkan diri. Termasuk Paus jenis Sei yang “bermain-main” di Teluk Malala, Desa Malala, Kecamatan Dondo sejak 28 Februari lalu.

Paus Sei menampakkan diri di Teluk Malala Kecamatan Dondo. (Foto:IPB)

Paus dengan nama saintifik Balanoptera Borealis, tentu saja memancing rasa ingin tahun nelayan setempat saat hendak lepas jangkar, warga lainnya juga tertarik menyaksikan spesies paus terbesar ketiga setelah Paus Biru dan Paus Sirip ini, tak jauh dari bibir pantai.

Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Desa Malala Muhammad Amin menjelaskan, mendapat informasi dari nelayan tentang keberadaan paus sepanjang 12 meter tersebut, Pokmaswas bentukan Dinas Kelautan dan Perikanan Tolitoli segera melakukan identifikasi, pengamatan dan pengawasan. Upaya tersebut untuk mengantisipasi agar tidak ada upaya negatif terhadap keberadaan paus tersebut. Sekaligus memantau sejauh mana pergerakan paus dan apa penyebab hingga Paus Sei terlihat berputar-putar di kawasan teluk selama 7 hari.

“Sudah tiga hari kami mengamati paus tersebut. Dan kami meluruskan pula bahwa, paus tersebut tidaklah terdampar seperti yang diinfokan dan heboh di medsos,” ungkap Amin yang juga anggota Komunitas Pecinta Alam Malala kepada Radar Sulteng via seluler.

Amin menjelaskan, dari hasil pengamatan sementara, paus tersebut selain bermain-main dengan semburan air juga terlihat aktif lantaran sumber makanan paus yakni ikan kecil dan plankton yang melimpah. Selain itu, Pokmaswas, masyarakat dan nelayan bersyukur, paus tidak terlihat sakit, atau mengalami gejala-gejala buruk akibat terluka karena mendekat ke teluk. Sebaliknya, paus dengan ciri bagian atas kepala hingga ekor berwarna hitam dan perut berwarna putih itu tampak sehat dengan sejumlah makanan di dekatnya.

“Kami pastikan paus sehat, tidak ada yang mengganggu apalagi berburu. Masyarakat di sini sudah sadar dan tidak akan menganggu habitat mamalia laut, termasuk paus,” urainya.

Dikonfirmasi di lokasi yang sama, Tim Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) Indonesia yang juga petugas pendamping Pokmaswas-Institut Pertanian Bogor (IPB) Aflaha Abdul Munip menjelaskan, pihaknya selama ini memang melakukan pembinaan dan pendampingan pada tugas utama dalam program konservasi dugong dan lamun Indonesia. Namun, untuk kasus mamalia laut lainnya seperti paus, pihaknya ikut membantu dalam hal memfasilitasi dan berkoordinasi ke dinas terkait yakni Dinas Kelautan dan Perikanan Tolitoli, serta memberikan advise pendampingan terkait perlakuan yang tepat terhadap mamalia.

DSCP, lanjutnya, memang memiliki program pembentukan dan peningkatan kapasitas Pokmaswas seperti pelatihan, sosialisasi tugas dan batasan Pokmaswas sebagai first responder.

“DSCP memang programnya konservasi dugong dan lamun Indonesia, tapi tujuan Pokwmaswas sendiri memang untuk menjaga dan mengawasai keseluruh potensi laut yang ada. Dan sejauh ini, Alhamdulillah Pokmaswas Malala sudah mengaplikasikan dengan baik,” salutnya.

Untuk diketahui, dalam sumber Wikipedia menyebutkan, Sei Whale atau Paus Sei dapat ditemukan hampir di semua belahan laut dunia. Paus tersebut menggemari perairan lepas pantai atau laut dalam. Mamalia ini cenderung menghindari kutub dan perairan tropika dan perairan yang setengah tertutup.

Paus Sei bermigrasi setiap tahun dari perairan dingin dan subkutub di musim panas menuju kawasan lautan perairan panas (tropika khatulistiwa) dan subtropik pada musim sejuk, meskipun di kebanyakan laluan migrasinya tidak diketahui secara tepat. (cr5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.