Sosok Yeyen, Wanita yang Ditemukan Meninggal dengan Tangan dan Kaki Terikat

0
1235
Kos-kosan tempat usaha almarhumah yang terletak di Sisingamangaraja (Sigma) Lorong SMK PGRI nampak sepi. (Foto: Mugni Supardi)

Almarhumah Nur Faizah, wanita yang ditemukan tewas dengan tangan dan kaki terikat di semak-semak Kelurahan Kawatuna, semasa hidup dikenal begitu baik oleh orang-orang di sekelilingnya. Kepergiannya yang begitu mendadak, membuat keluarga dan kerabat dekat wanita yang akrab disapa Yeyen ini, seakan tidak percaya.

Laporan: Kristina Natalia Abast

SABTU (3/3) sore, sekitar pukul 17.30 media sosial dihebohkan dengan informasi penemuan sesosok mayat di semak belukar di Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Palu Selatan. Banyak yang menduga-duga siapa sebenarnya korban yang tewas mengenaskan dengan  kondisi tangan dan kaki terikat. Tidak lama setelah itu, beredar foto Yeyen  dengan caption ucapan duka.

Wanita berusia 45 tahun itu menjadi korban pembunuhan, setelah hilang selama dua hari. Kabar duka ini pun membuat keluarga dan para kerabat maupun tetangga almarhumah menjadi terkejut. Tidak ada yang menyangka jika almarhumah akan kembali menghadap sang pencipta dengan keadaan yang begitu tragis.

Radar Sulteng pun, mencoba untuk menggali informasi di sekitar rumah duka, Jalan Sungai Wuno, Kelurahan Ujuna, Kecamatan Palu Barat, tempat almarhumah sempat disemayamkan. Waktu itu menunjukkan pukul 18.24 Wita. Belasan kursi plastik berwarna merah sudah mulai tersusun rapi di dalam rumah panggung, malam itu adalah malam ketiga almarhumah. Seorang pria kemudian turun menghampiri dan menanyakan maksud dan tujuan. Tidak menunggu waktu lama lagi, ia kemudian memanggil anggota keluarga dari almarhumah untuk menemui wartawan.

Ternyata, yang dimintai bertemu adalah Ika. Dia adalah anak perempuan dari almarhumah. Lengkap dengan Mukenah, Ika meminta untuk menunggu sejenak, sembari menjalankan ibadah salat magrib. Sayang sekali pertemuan itu tidak panjang, peristiwa ini membuat pihak keluarga merasa terpukul dan merasakan duka yang begitu dalam.

Keluarga bersepakat untuk tidak mau berbicara terlalu jauh tentang sosok almarhumah. Bagi pihak keluarga, biarlah sosok almarhumah jadi kenangan bagi pihak keluarga. Permohonan maaf pun diucapkan Ika selaku anak perempuan almarhumah.

Ka Yeyen, begitu sapaan akrab almarhumah. Nama ini yang diucapkan oleh kerabat-kerabat almarhumah. Tidak ada yang menyangka, kala itu informasi penemuan mayat seorang wanita mulai tersebar di media sosial. Antara percaya dan tidak percaya, itu adalah benar-benar ka Yeyen.

Wanita yang dikenal begitu ramah dan baik kepada sahabat-sahabat wanitanya. Murah hati dan suka menolong adalah kebiasaan almarhumah yang sering ia lakukan kepada sahabatnya. Almarhumah bukan orang yang sempurna, namun diakui bahwa keterbatasannya tidak membatasi dirinya untuk tidak berbagi kepada sesama.

Beginilah yang diakui seorang sahabat almarhumah, mama Keren. Mama Keren satu dari sekian sahabat almarhumah yang sering mendapat bantuan dari almarhumah. “Banyak membantu, almarhumah juga sangat baik kepada siapa saja, termasuk wanita yang ramah juga,” sebutnya.

Mama Keren sangat shock mendengar kabar duka itu, ia pun tidak menyangka jika almarhumah akan pergi secepat itu. Doa dan harapan pun diucapkan Mama Keren sebagai sahabat dekatnya. Ia berharap agar almarhumah tenang dan semua kebaikan almarhumah terus dikenang oleh sahabat-sahabat lainnya. Hal yang sama juga diucapkan oleh tetangga almarhumah, sosok almarhumah yang ramah tinggal lah kenangan.

Kos-kosan yang dijadikan tempat usaha almarhumah pun, juga sepi dari aktiftas. Sejumlah tetangga kos, enggan keluar dan berbicara banyak. Mereka pun terkesan tertutup dan hanya membenarkan jika korban memang tinggal dan berusaha di kos-kosan itu. Ada dua kamar kos yang disewa oleh almarhumah. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.