Besi Tower Dicuri, Listrik Palu dan Sigi Bisa Padam Besar-besaran

0
2494
Salah satu tower SUTT di wilayah Sidera, Kabupaten Sigi. Kekuatan tower menjadi berkurang karena sekitar seperempat persen besi skornya dicuri. Foto lain, Tampak salah satu tower SUTT di wilayah Sidera, Kabupaten Sigi. Kekuatan tower menjadi berkurang karena sekitar seperempat persen besi skornya dicuri. (Foto: AP2B SISTEM MINAHASA)

PALU – Satu dari dua tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) di desa Sidera, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, yang komponen besinya digasak pencuri dikhawatirkan akan roboh jika terjadi angin kencang atau gempa bumi di sekitarnya. Pasalnya, hilangnya besi tower mempengaruhi tidak kokohnya tower SUTT.

Jika roboh, diperkirakan Kota Palu dan Kabupaten Sigi bisa kehilangan suplai daya sebesar 24 megawatt dan menyebabkan pemadaman besar-besaran di dua wilayah tersebut.

Manajer Tragi Palu, Arther N. Mangundap mengatakan pencurian besi tower ini bukan kali pertama terjadi. Tercatat sejak Desember 2017 sampai Maret 2018 sebanyak 206 batang besi tower SUTT yang menyalurkan tenaga listrik dari gardu induk Sidera, Kabupaten Sigi, ke gardu induk Talise, Kota Palu sudah dicuri.

“Bahkan yang kami sudah ganti dengan besi cadangan karena dicuri, hilang lagi dicuri,” kata Arther kepada Radar Sulteng, Selasa (7/3).

Kasus pencurian yang dilakukan secara bertahap ini sangat disayangkan terjadi. Kata Arther, selain bisa menyebabkan pemadaman juga kerugian materil sangat besar. Dari 206 batang besi sendiri itu nilainya sebanyak Rp 103 juta, rata-rata satu besi dibanderol dengan harga Rp 500 ribu. Sedangkan jika tower itu roboh, untuk membangunnya kembali membutuhkan dana mencapai Rp 1 Milliar per satu towernya. Selain itu,

“Yang baru-baru ini ada 78 batang yang dicuri lagi dari dua tower,” terang Arther.

78 batang besi itu yang dicuri ini berasal dari tower 3 dan 4. Untuk tower 3 berjumlah 13 batang, dan tower 4 berjumlah 65 batang. Nah, tower 4 inilah yang dikhawatirkan akan roboh sewaktu-waktu. Lokasi tower memang berada jauh dari pemukiman warga. Untuk mencapainya tidak begitu sulit, kendaraan roda empat bisa menjangkaunya.

“Langkah yang kami tempuh sudah membuat laporan ke Polres Sigi, dan akan mengganti besi tower tersebut dengan besi material yang tersedia secara bertahap,” sebut Arther lagi.

Menurut Arther, sebelum kasus pencurian 78 batang tower milik PLN dari tower 3 dan 4, sebelumnya besi di tower 5, 6, 7, 8, 10 dan 11 sudah dicuri.

Data besi tower yang sudah dicuri dari tower 5 sebanyak 11 batang, tower 6 sebanyak 40 batang, tower 7 sebanyak 19 batang, tower 8 sebanyak 15 batang, tower 10 sebanyak 21 batang, dan tower 11 sebanyak 22 batang.

“Jika tower roboh masa recovery butuh waktu minimal 10 hari karena masih menunggu pengadaan material, negara juga akan merugi per harinya Rp 806 juta, bayangkan kalau dikali 10 hari berapa kerugian Negara,” ungkap Arther.

Besi tower SUTT ini diketahui digasak pencuri setelah tim yang ditugaskan mengecek kondisi tower dua kali dalam sebulan datang untuk memantau di lokasi pada, Senin (6/3) lalu. Dari data Radar Sulteng juga menyebutkan bulan Februari satu tower di Kecamatan Ulujadi roboh akibat baut dan besi sikunya dicuri.

Masyarakat yang berada di sekitaran tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT), sekiranya dapat berperan dalam mengawasi keberadaan tower tersebut. Pasalnya, aksi pencurian besi tower akhir-akhir ini makin marak dilakukan orang tak bertanggung jawab. Data terakhir yang dari Area Penyaluran dan Pengatur Beban (AP2B) Sistem Minahasa, ada 11 tower di daerah Sidera-Oloboju, Kabupaten Sigi, yang besi towernya hilang.

Tower yang sejak 2013 dan telah beroperasi dan bertegangan, diketahui mulai hilang sekitar September 2017 lalu. Dalam satu tower rata-rata besi skor yang hilang berkisar 65 batang atau sekitar seperempat dari tower. Yang mana dalam satu tower terdiri dari dua ratusan batang. Dengan kondisi tower seperti itu, potensi robohnya tower tersebut sangat besar.

Assistant Manager Operasi 2 Sulteng AP2B Minahasa, Mudjoko menerangkan, akibat dari kejadian tersebut akan berdampak pasa system operasional. Dimana tower tersebut merupakan jalur jaringan pengambilan daya dari PLTA untuk menyuplai Kota Palu. “Jadi jika terjadi gangguan atau robohnya tower ini, dampaknya nanti suplai ke daerah sekitar sebagian Kota Palu sudah pasti padam,” terangnya kepada wartawan yang ditemui di kantornya di Jalan Soekarno Hatta kemarin (7/3).

Kemudian lanjut Mudjoko, jika tower roboh maka akan memakan waktu berkisar sepuluh hari untuk recovery kembali. Kemudian, pada masa recovery, diperkirakan daya yang tidak dapat disuplai sebesar 24 Megawatt. “Jadi (kondisi) paling terjelek padam sebagian kota Palu, kemudian Tawaeli, Parigi. Itu sudah pasti,” tegas.

Dia pun berharap kepada masyarakat dapat ikut memantau keberadaan tower. Sebab yang akan berdampak akibat jika tower itu roboh, adalah masyarakat. Kepada pengepul besi tua tidak membeli barang yang terindikasi bagian dari tower SUTT tersebut. “Di besi itu ada tertulis kode tower,” terangnya.

Apakah ada kemungkinan pencurian besi tower karena sabotase, menurut Manager Tragi Palu AP2B Minahasa, Agther Mangundap, jika berindikasi pada sabotase, pelaku tidak perlu melakukan pencurian pada besi skor, tapi pada penyangganya. “Dia bisa lepas baut di kakinya itu, pasti roboh itu,” ujarnya.

Diakuinya, bahwa pelaku pencurian ini tergolong mahir. Pasalnya, dari pengalaman yang selama ini dilakukan dalam pembangunan tower itu tergolong sulit. “Kalau mau lepas di atas susah,” paparnya. (acm/fdl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.