Gabungan Mahasiswi di Sulteng Bentuk Aliansi Tolak LGBT

0
399

Bermula dari keprihatinan terhadap makin banyaknya remaja berperilaku menyimpang, seperti terjangkit Lesbian, Guy, Biseksual dan Transgender, sejumlah mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi di Palu sepakat membentuk Aliansi Tolak LGBT. Satu tujuan mereka, yakni menangkal penyebaran HIV/AIDS, yang dibawa oleh kaum LGBT.

Laporan: WAHONO, Palu

Aliansi Mahasiswi Sulteng Tolak LGBT datangi kantor AJI Kota Palu dan menjelaskan berbagai program dan tuntutan. (Foto: Wahono)

ALIANSI Mahasiswi Sulteng Tolak LGBT sendiri dibentuk, juga atas keprihatinan para mahasiswi dari Universitas Tadulako, Universitas Muhammadiyah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu serta sejumlah perguruan tinggi lainnya, melihat makin banyaknya remaja dan pemuda di Sulteng terjangkit LGBT. Salah satu indikatornya, ada sekitar 1.000an lebih pengikut grup media sosial Facebook dengan nama akun Komunitas Gay Kota Palu Sulteng.

Para LGBT ini, pun kini tidak lagi sungkan menampakan diri di tengah masyarakat umum, dan seolah ingin mengajak teman baru berperilaku seperti mereka yang sudah terlebih dahulu terjerumus.  “Kenapa bisa maraknya LGBT di wilayah ini, karena didasari oleh paham sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan yang melahirkan Hak Asasi Manusia (HAM), dimana paham sekuler ini yang melahirkan berbagai macam kebebasan  prilaku, sehingga kaum LGBT ini dapat diterima, namun secara agama LGBT ini sudah jelas diharamkan atau dilarang,” kata Ketua Aliansi Mahasiswi Sulteng Tolak LGBT, Ulva.

Keberadaan kaum LGBT lanjut dia, ternyata secara tidak langsung diketahui mendapat dukungan dari berbagai kelompok, yang siap mengucurkan dana agar LGBT semakin berkembang. “Kami bersepakat membuat tuntutan yaitu menolak LGBT yang merupakan prilaku menyimpang dan bertentangan dengan fitrah pencitraan manusia, dan menolak faham idiologi sekuler HAM yang menjadi akar masalah adanya ruang diijinkannya LGBT,” ujar Ulva.

Melihat data dari Kementerian Kesehatan di tahun 2012 itu, Gay berkembang mencapai 1 Juta orang yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia, termasuk wilayah Sulteng. Dan tentunya data tersebut telah bertambah ditahun 2018 ini. “Itulah yang membuat kami tersentuh untuk membuat organisasi ini,” tambah salah satu anggota Aliansi Mahasisw Sulteng Tolak LGBT, Sri Ajraniah.

Nampaknya dukungan kepada LGBT, sebut Ulva, bisa dilihat dari sejumlah iven yang diselenggarakan beberapa waktu lalu, di mana banyak terjadi pesta Gay dan kegiatan Miss Waria terlaksana. Bahkan, Kota Palu beberapa waktu lalu, tepatnya di Gedung Olah Seni (Golni), sempat dijadikan sebagai lokasi dari kegiatan Miss Waria. “Kegiatan itulah yang kami sayangkan sampai pemerintah daerah membiarkannya, sehingga kami membentuk aliansi ini juga untuk mencari informasi apakah masih ada lagi kegiatan seperti itu,” tandas Sri. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.