Melihat Persiapan Pemuda Hindu Sulteng Sambut Pawai Ogoh-ogoh

0
879

Pemuda Hindu Sulawesi Tengah (Sulteng) tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan pawai ogoh-ogoh untuk menyambut perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940 di Kota Palu, Sulteng. Dari tahun ke tahun konsep ogoh-ogoh yang mereka buat ada yang terbilang cukup unik. Pawai kali ini juga tidak kalah uniknya karena mengambil salah satu “ikon” Kota Palu yang sempat viral hingga ke luar negeri.

Laporan : Mugni Supardi, Palu

Ogoh-ogoh Buaya Berkalung Ban (B3), yang dibuat pemuda Hindu Sulawesi Tengah, menyambut perayaan Nyepi mendatang. (Foto: Mugni Supardi)

TEPAT pada pukul 15.00 Wita, Senin (12/3) sore, suasana Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha Palu yang terletak di jalan Jabal Nur, Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, terlihat sepi. Tidak ada aktivitas sedikit pun di sekitar Pura.

Tetapi, berbeda halnya di Gedung Serbaguna di kompleks Pura tersebut. Suara musik dari sound system terdengar begitu jelas. Di gedung tersebut, ada sekitar lima pemuda yang sibuk dengan puluhan bambu yang berserahkan di lantai gedung. Bambu-bambu itu dipilah satu demi satu untuk dibersihkan.

“Ini nanti digunakan untuk menandu ogoh-ogoh saat pawai nanti,” kata Sumardiasa, salah seorang Pemuda Hindu Sulteng yang ditemui saat mempersiapkan ogoh-ogoh bersama keempat temannya di Gedung Serbaguna kompleks Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha Palu, Senin lalu.

Pawai ogoh-ogoh sendiri nanti digelar sehari sebelum Hari Raya Nyepi 17 Maret mendatang, yaitu pada 16 Maret, jika memang tidak ada perubahan dari panitia pelaksana. Secara adat istiadat agama Hindu ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (kala) yang tak terukur dan tak terbantakan.

Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya dalam wujud raksasa. Pawai ogoh-ogoh di Ibu kota Sulteng ini akan dimeriahkan dengan 9 patung ogoh-ogoh.

Dari kesembilan itu ada satu ogoh-ogoh yang menarik perhatian. Ogoh-ogoh dengan tema Buaya Berkalung Ban (B3). B3 memang sejak beberapa bulan terakhir menjadi viral di Kota Palu. Buaya yang berkalung ban sepeda motor matik dilehernya itu sampai menarik perhatian Panji Petualang untuk ke Kota Palu.

“Kan di Kota Palu sempat gempar B3, jadi kita pikir-pikir kenapa tidak dibuat saja tema ogoh-ogoh dari B3. B3 kan sebagai ikon Kota Palu juga,” lanjut pria berusia 28 tahun ini.

Selama pembuatan ogoh-ogoh B3 ini tidak menemui kesulitan yang berarti. Dengan kerjasama Sumardiasa dan rekan-rekannya ogoh-ogoh B3 selesai dalam waktu satu bulan. Inspirasi dan seni yang dikolaborasikan sehingga B3 ini rampung dikerjakan.

Ditaksir beratnya tidak sampai  ton, tetapi yang mengangkatnya minimal 15 sampai 20 orang karena cukup lumayan beratnya. Untuk tinggi ogoh-ogoh B3 ini sekitar tiga meter dari bawa, panjangnya juga tiga meter lebih. Dibuat dengan posisi buayanya berdiri. “Karena kalau dibuat dengan posisi merayap, akan menganggu konsep ogoh-ogoh yang lain, juga susah memikulnya,” terangnya.

Ban yang melingkar dileher ogoh-ogoh ini bukan ban sungguhan. Komponen ogoh-ogoh ini terdiri dari besi, styrofoam dan ditempel juga dengan kertas. Jika ban sungguhan yang digunakan pasti berat dan membuat susah orang-orang yang memikulnya nanti saat pawai. “Kalau kesulitan setiap pekerjaan pasti ada, dengan kerjasama pemuda disini apapun kesulitan pembuatan pasti dicarikan solusi bersama,” ungkap Sumardiasa.  Menurutnya, ogoh-ogoh B3 ini setelah selesai diarak saat pawai nanti jika diarahkan untuk dibakar, maka akan dibakar.  “Tinggal tunggu perintah saja,” singkatnya.

Selain B3, ada juga tema ogoh-ogoh dari game mobile yang saat ini digandurungi hampir semua kalangan usia yaitu mobile legend. Akan tetapi, ogoh-ogoh mobile legend ini hanya pada body-nya saja, sedangkan untuk kepalanya masih identik dengan adat istiadat agama Hindu. “Dimodifikasi bagian kepalanya yang identik dengan kebudayaan Bali,” ujar pria yang hobi olahraga volley ball ini.

Pemilihan tema ogoh-ogoh ini bisa dikatakan update atau yang sedang viral. Sumardiasa juga berencana akan membuat sinopsis dan tema dari ogoh-ogoh ini, karena informasi bahwa akan ada penilaian ogoh-ogoh saat pawai yang dilakukan panitia.  Bukan kali ini saja ogoh-ogoh bertemakan konsep yang unik dibuat pemuda Hindu Sulawesi Tengah. Sebelumnya pernah juga membuat ogoh-ogoh dengan konsep bagian kepalanya adalah Gerhana Matahari Total (GMT). Ini saat menyambut GMT di Kota Palu pada tahun lalu. Ogoh-ogoh unik lainnya adalah ogoh-ogoh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Waktu jaman gempar-gemparnya KPK, kita buat raksasa menyerupai manusia dengan model raksasa itu memikul uang hasil jarahannya,” jelas Sumardiasa.

Tiga tahun silam juga mereka pernah membuat ogoh-ogoh kuda, yang sekarang terdapat tugunya di Pantai Talise. Sumardiasi mengakui tahun-tahun mendatang belum bisa memastikan konsep apa yang akan mereka ambil. “Nanti disesuaikan dengan kondisi saat itu,” ujarnya.

Dia berharap, pemuda Hindu tetap berinspirasi dan berkarya bersama-sama teman yang ada di Kota Palu. Semoga ogoh-ogoh yang mereka buat juga dapat menghibur masyarakat Kota Palu. “Kita tetap menjaga silaturahmi umat beragama. Kita  persilahkan juga teman-teman dari suku Kaili dan lainnya untuk gabung saat memikul,” tutupnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.