Schistosomiasis, Dinkes akan Lakukan Pengobatan Massal

0
299

PALU – Kabupaten Sigi dan Poso di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), menjadi perhatian nasional. Sebab  kedua kabupaten tersebut terdapat penyakit langka yang disebabkan cacing Schistosoma japonicum yang masuk ke tubuh manusia dan hidup di pembuluh darah terutama di kapiler darah dan vena kecil dekat selapus usus sehingga menimbulkan gejala lemas, pusing, diare, bahkan bisa berakibat fatal hingga meningal dunia.

etugas Surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah mengambil sampel keong Oncomelania untuk diteliti bila positif mengandung Serkaria cacing Schistosoma, di salah satu lokasi fokus Keong di Tomehipi Lore Barat, Kabupaten Poso. (Foto: Dinas Kesehatan Poso)

Di Kabupaten Sigi, penyakit ini terdapat di daerah Lindu, sedangkan di Kabupaten Poso, terdapat di kawasan Lore Utara dengan total penderita sebanyak 28.451 orang. Untuk menangani penyakit yang tidak terdapat di wilayah lain di Indonesia ini, rencananya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) bersama-sama dengan Dinkes di masing-masing kabupaten akan melakukan pengobatan massal di dua kabupaten tersebut agar tercapai target tidak ada lagi penderita penyakit yang juga dikenal dengan istilah schistosomiasis atau “Demam Keong” ini.

“Bidang kesehatan sudah sangat konsen, sangat fokus untuk penanganan ini, dan kami akan turun akhir Maret ini karena harus eradikasi atau 0 persen,” ungkap Kepala Dinkes Provinsi Sulteng, dr Reny A Lamadjido  SpPK MKES ditemui di ruang kerjanya, Jalan Kartini, kemarin (13/3).

Untuk mencapai eradikasi lanjut dr Reny, perlu kerjasama lintas sektor.  Kata dia, penyebab penyakit ini bisa masuk ke tubuh manusia dari berbagai media. Di antaranya jalan yang becek atau berair, kemudian melalui ternak yang dikonsumsi manusia, serta dari hasil pertanian yang terjangkit kemudian dikonsumsi.

“Untuk mencapai eradikasi, tidak bisa hanya dari bidang kesehatan. Karena biar manusianya sudah diobati, tapi kalau lingkungannya, hewan di sekitarnya, dan faktor lain yang bisa menyebabkan penyakit schistosomiasis ini tidak tertangani, maka akan terjangkit kembali. Makanya ini harus lintas sektor, PU, pertanian, peternakan, harus sama-sama melakukan eradikasi,” terangnya.

Untuk pengobatan, lanjutnya, pihak Dinkes sudah siap. Hanya saja perlu bantuan sektor lain seperti Dinas PU, sebab jika sudah terobati namun jalan yang dilalui masyarakat, tetap becek dan berair, kemungkinan akan terjangkit lagi sangat besar. Kemudian juga perlu kerjasama dari sektor lain untuk menangani penyebab penyakit ini sesuai bidang masing-masing.

Bantuan obat dari pemerintah pusat untuk pengobatan penyakit ini lanjut dr Reny juga sudah siap. Tinggal menunggu waktu yang sudah ditentukan, maka pihak Dinkes Provinsi akan mendampingi Dinkes masing-masing kabupaten untuk memberikan obat kepada seluruh penderita penyakit “demam keong” baik di Sigi maupun di Poso.

Tidak hanya itu, selama ini, untuk menunjang pemeriksaan bagi penderita “demam keong” di dua kabupaten ini, Pemprov juga melepas laboratorium di masing-masing kabupaten untuk diserahkan ke Pemkab. Hal itu dilakukan agar pemeriksaan terhadap penderita “demam keong” di masing-masing wilayah bisa lebih fleksibel karena sudah menjadi tanggungjawab masing-masing Pemkab. Karena penderita “demam keong”  lanjutnya juga mesti rutin memeriksakan diri ke laboratorium tersebut untuk diperiksa.

“Kan selama ini kami yang menangani. Untuk lebih fleksibel sudah kami serahkan ke Pemkab untuk ditangani,” pungkasnya. (saf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.