Korban Pencabulan di Panti Asuhan Poso Bertambah Jadi 13 Anak

0
758

POSO-Jumlah korban kasus dugaan pelecehan seksual anak di bawah umur di sebuah panti asuhan di Kota Poso dengan tersangka FA alias OU alias U (47) terus bertambah. Sampai dengan Kamis (14/3), jumlah korban sudah sebanyak 13 orang atau naik dari sebelumnya 11 orang.

Jumpa pers kasus pencabulan di Mapolres Poso, Rabu (14/3). (Budiyanto)

Kepala Polres Poso AKBP Bogiek Sugiyarto menyebut penambahan jumlah korban pencabulan di ketahui polisi dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Poso yang mendapat laporan pengaduan korban.

“Dua laporan baru ini baru masuk di P2TP2A Poso.  Sekarang korbannya masih ditangani mereka. Mudah-mudahan laporannya bisa segera di teruskan ke kami (Polisi),” jelas Kapolres saat gelar keterangan Pers di Mapolres Poso, Rabu (14/3).

Kepala Seksi Data Kekerasan Perempuan dan Anak P2TP2A Poso Lisa Banawa STh membenarkan adanya dua laporan baru kasus dugaan pencabulan dengan tersangka FA alias OU alias U yang masuk ke P2TP2A. Dua orang korban yang melapor berasal dari desa Kalora kecamatan Poso Pesisir Utara. Keduanya mengaku telah di cabuli pelaku saat masih tinggal di Panti Asuhan.

“Laporan masuk ke P2TPA melalui ketua pos dari kelurahan Gebangrejo Timur. Dimana mereka menerima laporan langsung dari orang tua dan dua anak yang pernah tinggal di Panti tapi sekarang sudah pindah ke Kalora bahwa mereka pernah mendapatkan perlakuan cabul dari pelaku FA. Jadi untuk sementara dengan laporan ini korban bertambah dua menjadi 13 orang,” terang Lisa Banawa.

Menerima laporan, P2TP2A yang  berperan sebagai pusat pelayanan bagi perempuan dan anak korban kekerasan dan sbg pusat data, Pengaduan dan Informasi perempuan dan anak korban kekerasan langsung mendatangi korban untuk melakukan pendampingan. Sampai sekarang, kedua anak yang di duga menjadi korban pencabulan tersebut masih dalam kondisi trauma.

“Dalam kasus ini, kami dari P2TP2A telah mendampingi empat orang anak. Masing-masing dua anak laki-laki sebagai saksi dan dua anak lain sebagai korban. Dua anak yang menjadi saksi kami dampingi karena merasa takut untuk memberikan kesaksian. Mereka masih trauma karena pernah dimarahi, dipukul dan diusir oleh pelaku saat mereka ketahuan  mengintip aksi cabul pelaku,” ungkap istreri Camat Lore Timur Jeri Gembu.

Selanjutnya, kata Lisa, P2TPA Poso akan mengadakan kerja sama dengan Polres Poso, Dinas Sosial dan LSM Mosintuwu, untuk mengadakan trauma healing bagi semua anak-anak dan orang tua korban kasus pencabulan.

Terkait kemungkinan masih adanya korban lain yang belum melapor, Lisa Bamawa menghimbau untuk segera melapor ke P2TP2A Poso. Alamat pengaduan P2TP2A berada di Jalan Pulau Sumba No 1. Telp 81341011157,  085241025638, 085215534232, 0811459456. “Jangan malu dan takut. Kami dari P2TP2A Poso akan mendampingi untuk proses selanjutnya,” tandas dia.

Menurut Lisa, di Kabupaten Poso oleh Pemkab lewat Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) telah membentuk pos Informasi dan pengaduan perempuan dan anak korban kekerasan di 19 Kecamatan, 15 Kelurahan dan 15 Desa. “Kalau ada yang merasa menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual, silakan melapor ke pos pengaduan kami yang terdekat. Tidak usah takut dan malu. Kami pasti akan berikan pendampingan maksimal,” tutupnya.

Keterangan pers kasus pencabulan di Mapolres Poso kemarin menghadirkan perwakilan dari Dinas Sosial Poso dan sebuah LSM Mosintuwu.(bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here