Meresahkan, Bupati Tolitoli Perintahkan Tembak Buaya

0
604

TOLITOLI—Fenomena penampakan buaya yang disebut-sebut “buaya kembaran” di Sungai Kalangkangan, Kecamatan Galang, hingga kini masih membuat heboh warga Kota Cengkeh.

Buaya yang menampakkan diri di pinggir sungai Desa Kalangkangan, Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli. (Foto: Istimewa)

Selain warga sekitar sungai merasa cemas, Bupati Tolitoli H. Moh Saleh Bantilan juga merasakan hal yang sama. Risau dan khawatir. Karena itu, bupati membuat pernyataan tegas kepada instansi di jajarannya juga pihak keamanan, agar menembak hewan dua alam tersebut jika muncul ke permukaan apalagi membuat warga ketakutan.

“Kalau perlu saya yang tembak. Kita khawatir ada korban dimakan buaya. Kan informasinya sudah sampai ke dapur warga yang tinggal di bantaran sungai,” tegas bupati saat di konfirmasi belum lama ini.

Ketika disinggung apakah tidak lebih baik jika ditangani instansi terkait, atau diserahkan kepada lembaga konservasi. “Ya kalau ada yang mau urusi atau tangani secara profesional ya silakan. Kita mengambil langkah tegas sebagai antisipasi sebelum ada warga yang diterkam buaya. Persoalan ini perlu cepat ditangani,” serunya.

Dikonfirmasi terpisah soal buaya, tim pedamping Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) – Institut Pertanian Bogor (IPB) Aflaha Abdul Munip menyarankan agar Pemkab Tolitoli agar tidak menembak buaya Kalangkangan.

Mengingat, buaya merupakan bagian dari ekosistem alam yang juga perlu ditangani secara bijak. Akan lebih baik jika buaya tersebut ditangani oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Seperti diberitakan sebelumnya, warga Desa Kalangkangan, Kecamatan Galang, khususnya yang berdomisili di sepanjang sungai mengaku sering melihat penampakan buaya.

Biasanya, warga melihat buaya dengan panjang kurang lebih 3 meter pada pukul 10 pagi, muncul di sekitar pinggir sungai atau di bawah kolong dapur rumah warga yang persis berada di atas sungai.

Tahang, warga Desa Kalangkangan mengatakan, kemunculan seekor dari tujuh buaya yang pernah muncul di sungai yang sama, diduga masih berusia remaja. Ia muncul beberapa kali sejak pagi sekitar jam 7 pagi.

Aktivitas kemunculan buaya di sungai yang menjurus ke hulu Dusun Kolondom itu membuat warga takut, terutama kaum ibu.

“Biasanya warga di sini mandi dan mencuci, tapi dengan mulai seringnya buaya muncul, ibu-ibu di sini sudah gak berani lagi nyuci di sungai,” akunya.

Tahang menyakini, buaya yang muncul bukanlah buaya umumnya, akan tetapi “kembaran” manusia, sehingga bagi yang memercayainya akan melakukan ritual adat seperti menaruh sesajen.

Ambo juga warga Kalangkangan mengatakan, buaya Kalangkangan yang terlihat warga sebanyak tujuh ekor. Yang paling besar, yakni ukuran lebih dari 4 meter bisa menerjang mangsanya atau menerkam dengan lompatan hingga 1,5 meter.(cr5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.